Soal Kewajiban Menafkahi Anak

Berbekal pengalaman dan pengamatan, saya menyimpulkan ada dua tantangan besar bagi seorang ibu yang menjadi orang tua tunggal. Pertama, soal keuangan. Kedua, soal stigma. Saya sudah cukup sering menulis soal stigma (lihat di Stigma, Stigma, Stigma…,) mungkin karena pengalaman saya sendiri lebih banyak terkait dengan hal tersebut. Tapi setelah saya menengok lagi ke belakang, saya tidak banyak menulis soal masa-masa sulit tidak punya uang dan harus bekerja ekstra keras, karena saya menerimanya sebagai suatu kewajaran. Memang beginilah kondisi saya karena pilihan saya sendiri.

Terkait soal keuangan, jadi begini, sudah menjadi rahasia umum sebagian para ayah memilih untuk tidak memberikan nafkah kepada anak-anaknya, meskipun hal tersebut diatur dan ditetapkan dalam putusan sidang cerai. Biasanya ini terjadi pada kasus dimana hak asuh diputuskan berada di tangan ibu (yang menurut perkiraan saya menjadi sebagian besar putusan dari perceraian karena secara hukum untuk anak yang berusia di bawah 18 tahun, hak asuh jatuh ke tangan ibu, terkecuali ada hal-hal penyebab tertentu). Penyebabnya macam-macam. Mulai dari pihak mantan suami mengaku tidak punya uang, menghilang begitu saja, atau anggapan begitu perpisahan disahkan secara hukum kondisi berubah menjadi ‘gue ya gue, elu ya elu’. Mari mengurus hidup masing-masing. Masalahnya adalah, dengan cara pandang ‘mari mengurus hidup masing-masing yang elu ya elu dan gue ya gue’, posisi anak ada di mana? Kesejahteraan mereka bagaimana? Anak-anak tetap perlu makan dan sekolah, perlu ke dokter jika sakit dan memenuhi kebutuhan dasar mereka. Sementara tidak semua ibu bekerja, punya penghasilan sendiri, mapan secara finansial, atau mendapat bantuan dari keluarga besarnya. Beberapa bahkan sebelumnya dilarang bekerja oleh suami dengan alasan mengurus anak dan rumah tangga.

Masalahnya lagi, meskipun sudah diputuskan di pengadilan soal pemberian nafkah anak ini, tetap saja kita tak dapat berbuat banyak ketika kewajiban tersebut diabaikan. Baru-baru ini, seorang kawan berencana menggugat mantan suaminya karena tak pernah mau ikut menafkahi anak sementara sebenarnya si ayah mampu. Tetapi ketika ia menyampaikan idenya, buru-buru dicegah oleh yang lain. Bukan cuma satu atau dua, tapi beberapa ibu tunggal lain menyuarakan hal yang sama. Lebih baik jangan. Buang-buang waktu dan energi. Biayanya mahal bahkan bisa lebih mahal jatuhnya daripada nafkah yang diterima anak, jika akhirnya dibayarkan. Satu dua ibu yang mencegah tadi, bahkan sudah bertanya kepada pengacara masing-masing karena sempat punya niat yang sama. Pertimbangan pengacara mereka idem. Susah.

Bahkan seorang teman diam-diam menyebut si ibu tadi sebagai seseorang yang tidak bisa menerima kenyataan. Awalnya saya kesal, menganggap komentarnya kejam. Tetapi setelah saya pikir-pikir, apa yang ia katakan benar adanya.

Kenyataannya adalah, negara tidak (belum) memiliki sistem untuk menjamin, bahkan ‘memaksa’ orang tua agar memenuhi kewajibannya menafkahi anak. Contohnya, ada satu kasus dimana si ayah adalah pegawai negeri sipil, yang otomatis selain gaji pokok juga menerima tunjangan istri dan anak. Ketika terjadi perceraian, ia nampaknya tidak melaporkan hal tersebut pada kantornya, sehingga jangankan memberikan sepertiga gaji kepada anak sesuai yang diatur dalam Undang-Undang, malahan selama bertahun-tahun ia terus menerima tunjangan istri dan anak padahal pihak yang seharusnya menerima tunjangan tak pernah menerima sepeser pun. Ini kasus aparatur negara yang nama dan identitasnya ada dalam sistem dan setiap bulan dibayar oleh negara, lho. Apalagi yang bukan. Bukannya lebih bebas lagi melenggang?

Saya tidak tahu kesalahan ada pada sistem atau pada oknum. Pada kasus saya, ketika saya memulai proses seleksi sebagai pegawai negeri sipil, proses perceraian sedang berjalan. Saya baru resmi bercerai dan menerima akta cerai dari pengadilan delapan bulan setelah saya menjadi calon pegawai negeri sipil. Karena waktu itu belum ada putusan resmi, dalam berkas administratif, saya masih mencantumkan status sebagai menikah dengan dua orang anak, yang salah satu implikasinya adalah saya menerima tunjangan suami dan anak setiap bulan. Sejak awal saya selalu terbuka tentang status saya pada teman-teman kantor. Maka, ketika putusan cerai sudah di tangan selang beberapa bulan dari tanggal yang tertera di putusan, bendahara gaji berinisiatif meminta agar saya dapat mengembalikan tunjangan suami yang sudah saya terima sebelum saya menerima putusan cerai, demi agar saya sendiri tidak tersandung masalah hukum kelak. Ia mengaturnya dengan cara memotongnya langsung dari gaji saya, dan juga mulai bulan berikutnya, otomatis saya tidak lagi menerima tunjangan suami.

Kenyataan lainnya anak-anak perlu biaya hidup yang tidak bisa ditunda sampai sistem bisa sempurna atau setidaknya bisa menjamin hak si anak soal nafkah. Anak-anak perlu makan sekarang. Hari ini. SPP perlu dibayar. Oleh karenanya, saran bagi ibu untuk memfokuskan energi dan waktu untuk bekerja keras, jauh lebih masuk akal daripada menggunakannya untuk menyeret-nyeret oknum ayah (catat: bukan mantan ayah) ke pengadilan. Bayangkan betapa lelahnya seorang ibu tunggal yang harus sekaligus bekerja, mengurus rumah, dan mengasuh anak-anak, masih harus keluar masuk ruang sidang yang mungkin tidak cukup hanya dua tiga kali. Apalagi jika ditambah drama ini itu dengan mantan. Semakin melelahkan.

Saya pikir, itulah yang terjadi pada saya sekian tahun silam. Pernah terbersit juga untuk menuntut hak anak soal nafkah ini, tapi entah mungkin karena terlalu lelah bekerja dan mengurus dua balita, pikiran tersebut tak pernah cukup mendapat tempat untuk dimatangkan dan ditindaklanjuti.

Selain menyarankan untuk menggunakan waktu dan energi untuk bekerja keras alih-alih ke pengadilan, biasanya para ibu tunggal mendapat penghiburan dan penguatan agar bisa ‘ikhlas’ menerima kenyataan. Bahwa setiap anak membawa rejeki masing-masing (jadi kita tidak perlu khawatir), bahwa Tuhan Maha Adil, dan bahwa karma berjalan. Mereka yang mampu mengucapkan hal tersebut adalah mereka yang biasanya sudah sukses melampaui tantangan finansial pasca perpisahan. Lalu berkaca pada pengalamannya untuk menyemangati ibu-ibu lainnya.

Saya sadar betul, kondisi seorang pasca perceraian bisa sangat buruk baik secara fisik, mental dan tentu saja finansial. Perlu waktu untuk pulih dan bangkit. Saya beruntung karena memiliki ijazah perguruan tinggi dan ketrampilan serta keluarga yang mendukung, mau dititipi anak-anak ketika saya bekerja. Tetapi banyak perempuan lain yang bertahun-tahun tidak bekerja lalu tiba-tiba harus menanggung kehidupan dirinya sendiri dan anak-anaknya. Banyak yang tidak memiliki pendidikan yang memadai. Banyak yang ditolak kembali oleh keluarganya. Bagaimana mereka dapat menjalankan pengasuhan dan mendidik anak dengan baik ketika untuk makan saja sulit sekali?

Pada beberapa kasus, sebagian memilih cepat-cepat menikah kembali dengan harapan kebutuhan finansial anak-anak terjamin. Syukur jika iya, tapi menyedihkan sekali jika yang terjadi sebaliknya. Justru menjadi masalah baru. Anak-anak kesulitan beradaptasi, baru saja melewati huru hara perceraian orang tuanya kini harus menerima ayah baru. Akibatnya mereka lebih memilih menghabiskan waktu di luar rumah dan menutup diri. Komunikasi ibu dan anak menjadi tidak baik. Pada kasus yang lainnya, para ibu karena terdesak lalu memilih pekerjaan yang melanggar hukum (masuk ke dalam lingkar prostitusi, mencuri, menjadi penjual atau kurir narkoba, dan tindak kriminalitas lainnya). Tolong jangan mengatakan “Masak karena miskin/tidak punya uang lalu cepat menikah, jadi simpanan, bahkan mencuri?” Karena untuk seorang ibu, tidak ada yang tidak akan mereka lakukan untuk anak-anak. Berpihaklah kepada mereka, tidak dengan membenarkan apa yang mereka lakukan, tetapi mendorong agar sistem bisa lebih menjamin kesejahteraan anak-anak. Jika nafkah anak dibayarkan secara rutin, paling tidak dapat meringankan sedikit beban ibu.

Akhirnya, saya berkesimpulan, ketika sistem belum bisa memberikan jaminan, satu-satunya hal yang masuk akal untuk menguatkan diri adalah dengan menerima saran dan penghiburan yang saya tulis di atas. Bahwa setiap anak membawa rejeki masing-masing. Bahwa Tuhan Maha Adil. Para ibu yang menanggung beban tidak sedikit ini, perlu pegangan. Jika sistem belum bisa dijadikan pegangan, setidaknya memegang kepercayaan bahwa Tuhan Maha Adil dan akan membukakan jalan agar mereka mampu menghidupi anak-anaknya, terbukti telah menguatkan sebagian ibu yang tengah berjuang membesarkan anaknya sendirian.

Saya sendiri awam soal proses pengajuan tuntutan nafkah untuk anak yang katanya mahal dan prosesnya lama di pengadilan. Terus terang saya penasaran. Mungkin suatu saat perlu saya coba sehingga bisa saya tuliskan di sini. Namun, jika dan hanya jika saya sudah lebih santai dan pekerjaan penting lainnya, seperti menulis buku, ngopi-ngopi, atau keliling dunia, sudah saya tuntaskan.

Advertisements

Berpikir Ulang Tentang Stigma Broken Home

Kenyataannya, bukan hanya perempuan dengan status orang tua tunggal yang lekat dengan stigma negatif, anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga dengan orang tua tunggal juga lekat dengan julukan anak broken home. Anak-anak broken home ini divonis berpotensi mengalami berbagai masalah baik secara perilaku maupun sosial. Mengapa demikian? Sebab masyarakat masih menganggap anak-anak yang diasuh dalam keluarga dengan orang tua lengkap pasti tumbuh lebih baik daripada anak-anak yang diasuh hanya oleh salah satu orang tua. Well-being (kesejahteraan), terutama kesejahteraan psikologis anak yang diasuh oleh keluarga utuh juga pasti lebih baik daripada anak yang diasuh dalam keluarga dengan orang tua tunggal.

Padahal, tidak selalu demikian.

 

Ada tiga perspektif untuk melihat hubungan antara perpisahan orang tua dengan well-being anak. Perspektif pertama menganggap ketidakhadiran salah satu orang tua dianggap sebagai penyebab anak menjadi tidak sejahtera dan tumbuh menjadi anak bermasalah. Namun kenyataannya ada banyak kasus anak “bermasalah” meskipun tinggal dengan kedua orang tua kandung. Menariknya, riset juga mengindikasikan, pada anak-anak yang orang tuanya mengalami perpisahan, lalu menikah lagi, ternyata anak-anak yang tinggal dengan ayah/ibu tiri ini menunjukkan problem perilaku lebih banyak bukan hanya jika dibandingkan dengan anak yang kedua orang tuanya lengkap, namun juga dengan anak yang tinggal dengan orang tua tunggal.

Perspektif kedua, ketidakberuntungan ekonomi, menyoroti soal perekonomian keluarga yang berubah drastis pasca perpisahan. Setelah berpisah, ayah menelantarkan dan menolak memberikan nafkah, mengabaikan kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak, menjadi pukulan yang berat bagi ibu tunggal dan anak-anak. Apalagi jika sang ibu tidak bekerja atau bekerja dengan income yang tidak mencukupi sehingga keluarga jatuh dalam kemiskinan, ketidakberdayaan dan stres menghadapi tekanan hidup. Kasus seperti ini banyak terjadi di Indonesia. Meski aturan agama dan pengadilan sudah memutuskan ayah wajib menafkahi, namun banyak yang melenggang dan menghilang begitu saja. Sayangnya, jika ibu kemudian sibuk bekerja, masyarakat tetap saja menjadikannya sebagai alasan penyebab anak menjadi rentan ‘bermasalah’ karena tidak cukup mendapat perhatian dan pengawasan dari orang tua (ibu).

Namun sekali lagi, riset membantah hal tersebut. Pada ibu yang menikah lagi, semestinya income dan kehadiran ayah tiri menjadi solusi bagi kesejahteraan finansial dan kehadiran role model atau pengganti figur ayah. Kenyataannya ada kasus anak-anak yang orang tuanya menikah kembali dan tinggal bersama mereka, menunjukkan problem perilaku yang lebih tinggi daripada anak yang tinggal dengan orang tua tunggal (Amato dan Keith: 1991)

Perspektif ketiga melihat timbulnya masalah pada anak disebabkan oleh stres akibat menyaksikan orang tua yang berkonflik terus menerus baik pada saat pernikahan, saat proses perceraian, dan bahkan setelahnya. Anak bingung, marah, dan tertekan melihat kedua orang tuanya bersikap tidak baik dan saling menyakiti satu sama lain. Bukannya memberikan perhatian pada anak akibat perubahan yang dialami anak karena perceraian, orang tua malah menghabiskan energi untuk bertikai. Kemampuan orang tua untuk berinteraksi dengan anak juga menurun drastis akibat konflik. Padahal anak memerlukan pendampingan khusus dalam proses menerima dan memahami keputusan orang tuanya untuk berpisah.

Perspektif ketiga ini saya anggap lebih cocok untuk menjelaskan mengapa anak-anak yang tinggal dengan orang tua tunggal menjadi tidak sejahtera dan bermasalah. Bukan semata karena perubahan struktur keluarga (salah satu orang tua tidak hadir) atau perubahan ekonomi namun lebih karena dinamika interaksi antara ayah dan ibu yang penuh konflik. Coba bayangkan bagaimana perasaan anak ketika sedang bersama ibu, mendengarkan bagaimana ayah mereka dimaki dan dijelek-jelekkan. Atau sebaliknya ketika bersama ayah, ibunyalah yang menjadi bahan sumpah serapah dan disalah-salahkan. Anak menjadi target kemarahan, tempat sampah dan pengirim pesan kebencian. Mengerikan, bukan?

FB_IMG_1479499482401Rumah bukan lagi menjadi tempat yang nyaman untuk anak. Anak juga malas berdekatan dan berinteraksi dengan orang tua karena bentuk interaksi menjadi sangat negatif. Jika mereka sudah berusia pra remaja dan remaja, mereka mungkin akan memilih berada di luar rumah. Menyalurkan kemarahan dan ketidakpuasan dalam berbagai bentuk kegiatan yang tak jarang rentan terhadap bahaya. Jika mereka masih kanak-kanak, mereka akan menunjukkan perilaku agresif pada anak lain, atau sebaliknya menjadi sangat pendiam, tertutup dan menarik diri. Apalagi jika kerap menyaksikan orang tua bertikai hebat, anak-anak berpeluang merasa ketakutan sepanjang waktu dan menyalahkan diri sebagai penyebab konflik.

Jika kedua orang tua bisa bekerjasama mendahulukan kepentingan anak daripada konflik mereka sendiri, jika salah satu pihak saja bisa mengerem amarah dan ketidakpuasan mereka, maka anak bisa terhindar dari stres berat dan permasalahan perilaku yang muncul menyertai. Meskipun tidak banyak, saya melihat beberapa mantan pasangan suami istri bisa melakukan ini. Mereka sadar, mereka berpisah karena memang tidak bisa bersama-sama lagi, tetapi mereka paham betul bahwa mereka adalah tetap ayah dan ibu bagi anak-anak mereka. Meski berat di awal, tapi seiring waktu mereka dapat melakukan co-parenting dengan baik. Ada juga yang dengan sukarela menyerahkan hak asuh pada salah satu pihak, bukan karena tidak menginginkan hak asuh, tetapi karena kesadaran perebutan hak asuh hanya akan membuat anak-anak lebih menderita. Ada yang memilih menutup mulut rapat-rapat, menahan diri untuk tidak menjelekkan (mantan) pasangan meski tak pernah hadir dalam kehidupan anak. Jangankan memberi nafkah, muncul saja tidak pernah. Bukan karena ingin melindungi mantan, tetapi semata karena ingin menjaga perasaan anak. Saya mengenal seorang ayah, yang sudah bertahun-tahun tidak diijinkan berkontak dalam bentuk apapun dengan anak-anak oleh mantan istri, namun tetap rutin menyisihkan nafkah dan membayar asuransi anak-anaknya. Jangan tanya bagaimana perasaannya. Tentunya semua tindakan yang saya ilustrasikan di atas butuh kedewasaan, kekuatan dan ketegaran untuk dijalani. (https://rahayujianti.wordpress.com/2016/05/04/creating-new-images-of-family/)

Bagi para ibu yang menjadi orang tua tunggal yang masih belum bekerja atau secara finansial belum mapan, menikah lagi tidak selalu menjadi solusi. Bangun kekuatan dalam diri, gunakan energi untuk berdaya secara ekonomi, Dimana ada kemauan, pasti ada jalan. Jangan buang-buang waktu dan tenaga untuk meratapi keadaan atau marah-marah pada mantan suami. Tanpa semua itu, anak-anak akan menyaksikan sendiri segala perjuangan. Mereka akan belajar bagaimana cara bertahan di saat sulit dan berdiri di atas kaki sendiri. Hal yang sangat penting dipelajari bagi kehidupan mereka kelak. They live by your example, Dear Single Moms.

Dan, please, kepada semuanya, jangan cepat-cepat memberi stigma broken home pada anak-anak yang diasuh oleh orang tua tunggal.

 

Rujukan:

Amato, P.R., Keith.B. (1991).Parental Divorce and Adult Well-Being: A Meta Analysis.

Journal of Marriage and The Family 53. 43-45

Menghentikan Siklus Negativitas (Cukup Sampai di Aku Saja)

Cangkir teh di hadapan kami masih utuh. Sementara senja di luar mulai turun. Wajahnya yang cantik namun letih berurai air mata. Aku menatapnya, berusaha menyelami pergulatan yang tengah ia rasakan.

“ Kasihan, Arkan, Mbak. Dia nggak salah. Aku yang salah, tidak bisa menahan diri. Entah kenapa setiap menatap wajahnya aku ingat ayahnya. Ingat semua yang dia lakukan pada kami. Lalu rasa marah ini langsung muncul tiba-tiba. Bagaimana ya, Mbak, cara menghentikannya? Tiap malam aku nangis kalau ingat perbuatanku pada anakku.” Lalu sedu sedannya makin keras. Hatiku pun ikut tersayat-sayat.

Bukan yang pertama kali aku mendengar yang seperti di atas. Beberapa kali aku mendengar curhat para ibu tunggal yang pada derajat yang berbeda-beda, belummampu menghentikan kepahitan dan kemarahannya pada mantan suami pasca perceraian. Dan menurutku itu wajar. Manusiawi. Ada yang diselingkuhi berkali-kali sebelum akhirnya diceraikan, ada yang anaknya dilarikan berhari-hari sebelum dikembalikan dalam keadaan kurus dan sakit, ada yang menjalani proses perceraian yang penuh drama sebelum akhirnya putusan dijatuhkan, ada yang ditinggalkan begitu saja tanpa sebab yang jelas, pokoknya sangat menguras emosi dan tenaga.

Pasca perceraian, keadaan tidak jauh lebih baik. Keluarga besar yang diharapkan mampu memberikan dukungan tidak mau membuka pintu rumah karena menganggap nama baik keluarga telah dicemarkan. Jengah dengan pandangan mencemooh dan bisik-bisik negatif dari tetangga, keuangan yang minim, bahkan tanpa kepastian karena belum mendapat pekerjaan, sementara mantan suami menolak memberikan bantuan finansial, ditambah kecemasan anak yang akan tumbuh dewasa tanpa ayah dan hati yang masih berdarah-darah entah kapan sembuhnya.

Para ibu tunggal ini murka pada dunia yang dirasa memperlakukan mereka dengan kejam dan tidak adil. Kutukan bertubi-tubi dilayangkan pada lelaki yang kepadanya telah diserahkan hidup lalu mereka dicampakkan begitu saja. Para ibu tunggal ini bertanya dan meragukan Tuhan. Mereka marah, sangat marah pada diri sendiri. Marah karena tidak berusaha lebih keras membuat keadaan lebih baik, marah karena tidak mampu mempertahankan rumah tangga yang sudah bertahun-tahun dibina lalu luluh lantak begitu saja, marah karena semua usaha telah dikerahkan namun akhirnya sia-sia. Seandainya diri ini lebih sabar, seandainya diri ini lebih cantik, lebih bersih, lebih wangi, lebih pandai, seandainya…

Dan lalu perasaan marah berganti dengan ketakutan. Bagaimana besok? Apakah bisa bertahan sendirian? Bagaimana anak-anak? Bisakah membesarkan anak-anak sendirian? Apa kata orang nanti? Bagaimana orang memandangku dan anak-anak nanti? Bagaimana menghadapi ejekan orang-orang?

Perasaan terluka, disia-siakan, ketakutan, tak berdaya dan tak punya harapan, datang silih berganti melumpuhkan. Para ibu yang baru menyandang status orang tua tunggal ini kehabisan daya karena harus terus menerus bergulat dengan kemarahan. Rasanya diri sudah tidak mampu lagi menahankan berbagai tekanan yang datang silih berganti.

Jiwa mulai terguncang dan tidak stabil. Ketidakstabilan ini mempengaruhi hubungan ibu dengan anak. Ada saat-saat dimana sosok ibu berubah menjadi Bhatara Kala. Kejam dan tanpa sadar melampiaskan kemarahan pada anak, meskipun ia tahu itu salah. Ketidakstabilan emosi membuat kontrol diri punah. Seperti cerita di awal tulisan, pada derajat tertentu, rasa benci menggelegak hanya karena wajah anak yang begitu mirip dengan mantan. Beuh, mungkin menganggap si ibu terlalu lebay, tidak bisa mengontrol diri atau sudah tidak waras.

Tapi, jangan dulu lupa dengan kisah yang sempat menghiasi surat kabar beberapa waktu lalu. Tentang seorang ibu tunggal yang menghabisi nyawa tiga orang anaknya yang masih balita, lalu berakhir dengan membunuh dirinya sendiri akibat kesulitan ekonomi dan tekanan hidup yang dihadapinya. Atau ibu yang menyiksa anaknya karena kondisi mental yang ‘sakit’ akibat perpisahan dengan suami. (Bukan hendak menakut-nakuti, hanya ingin mengingatkan tentang fakta yang ada). Sangat mungkin saking tidak stabilnya ia akibat tekanan yang dirasakanya, si ibu masuk ke dalam kondisi depresi berat. Jika sudah depresi berat, pikiran untuk tidak melanjutkan hidup kerap terlintas. Maka, mintalah bantuan kepada ahlinya. Belajarlah meminta bantuan. Daripada menyesal kemudian.

Tak jarang, di saat malam hari ketika anak-anak sudah jatuh tertidur, wajah polosnya mengingatkan pada lontaran kemarahan yang ia terima siang tadi, membuat air mata jatuh berderai. Tapi, menangis dan menyesal saja tidak cukup. Apa yang sudah terjadi tidak bisa dihapus. Kata-kata yang sudah keluar tidak bisa kita tarik lagi. Anak-anak selalu memaafkan, kembali memeluk dan menggenggam tangan ibu keesokan pagi. Lalu sampai kapan ibu akan tetap berada pada lingkaran marah-menyesal-kehilangan kontrol diri-lalu marah lagi-lalu semakin menyesal? Demi kesehatan mental ibu dan anak, dan masa depan yang lebih damai, siklus negativitas urgen untuk dihentikan.

Aku belajar tentang pentingnya mengehentikan siklus negativitas saat menjadi peserta di sebuah seminar pengembangan profesional yang diselenggarakan untuk pendidik. Meski sebenarnya ditujukan untuk menghentikan siklus negativitas di kelas, namun bisa juga dilakukan di rumah. Intinya, pada banyak kesempatan kita tidak bisa menghindarkan diri berhadapan dengan situasi negatif atau menjadi negatif. Namun yang penting adalah bagaimana berespon sehingga dapat menghentikan siklus negativitas itu cukup sampai di diri kita saja. Tidak ‘menularkannya’ pada orang lain apalagi seluruh anggota keluarga di rumah.

Energi negatif itu menyebar, menular. Tanpa harus bertanya, kita tahu jika seseorang itu sedang marah atau sedih atau sedang tidak enak. Anak-anak pun demikian. Mereka sangat peka pada situasi batin kita. Kebencian dan kemarahan pada mantan, anak-anak juga bisa merasakannya, meski tidak kita utarakan. Apalagi jika sampai kita lampiaskan. Anak-anak akan bisa merasakan, meski mungkin belum mampu mereka ungkapkan secara jelas. Lalu mereka mulai bertanya-tanya dalam hati, mengapa ibu begitu marah pada mereka karena perbuatan ayahnya? Lalu mereka mulai merasa bahwa memang mungkin ada yang salah dari diri mereka sehingga menyebabkan ibu marah dan berduka. Lalu mereka perlahan belajar membenci diri mereka sendiri, dan membenci hidup. Lihat, kan, betapa kepahitan ibu ditiru dan diinternalisasi oleh anak tanpa sang ibu mengajarinya secara langsung?

Langkah pertama untuk menghentikan siklus negativitas adalah kesadaran dan kemauan untuk menghentikannya cukup sampai di kita (ibu) saja. Jika ingin anak-anak tumbuh dengan sehat, niatkan untuk memutus rantai siklusnya. Jika kita ingin anak-anak menjadi pribadi yang kuat dan bertanggung jawab, buat diri kita kuat terlebih dahulu dan bertanggung jawab terhadap emosi-emosi kita sendiri. Pada tulisan berikutnya akan diuraikan kiat-kiat yang dapat membantu memutus siklus negativitas, namun yang paling mudah adalah jauhkan diri lebih dahulu dari anak ketika kemarahan (energi negatif) pada mantan pasangan tiba-tiba muncul. Ciptakan pengingat agar kita bisa langsung berhenti saat bibir ini mulai akan mengomeli anak sebagai bentuk pelampiasan dari kekecewaan kita pada kondisi yang tengah kita hadapi.

Aku tahu ada seorang kawan yang selalu mengenakan karet gelang yang akan ia tarik dan lepaskan kuat-kuat sampai ia sendiri merasa kesakitan, saat ia mulai menyalah-nyalahkan diri. Jepretan karet gelang di pergelangan tangannya ia maksudkan agar ia ingat untuk berhenti. Ada juga yang akan mengguyur wajahnya berkali-kali begitu pikiran tentang mantan mulai menyeruak. Ada yang bernafas dalam-dalam, ada yang langsung ambil sepatu lari atau lari di treadmil untuk melepaskan energi marah sebelum sempat dilampiaskan pada anak. Apa saja pokoknya, asal berhenti.

Menyetop siklus negativitas hanya sampai di diri kita saja merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses healing (menyembuhkan diri). Pertama, kita belajar menyadari, dan mengakui emosi-emosi kita, meskipun itu terasa tidak menyenangkan. Kedua, pelan-pelan kita belajar menerima kehadiran emosi-emosi itu. Cobalah untuk tidak serta merta melawannya, karena semakin dilawan biasanya semakin menguat. Di titik ini sebenarnya adalah saat kita dapat melakukan transformasi diri. Kita dapat memilih respon kita. Silahkan mengguyur wajah dengan air, berdoa keras-keras, mengambil sepatu lari. Apa saja yang bisa menghindarkan diri dari melampiaskannya pada anak. Jangan menyerah pada pergulatan awal yang memang susah. Lalu rasakan dan hayati setiap perasaan menang yang hadir karena kita telah sukses memilih respon. Kalau perlu beri hadiah untuk diri sendiri. Tepuk dada keras-keras. Aku bisa! Tulis momen-momen kemenangan ini agar senantiasa segar di ingatan. Kita sedang menuju kemerdekaan diri karena kita tengah berlatih berkuasa atas respon diri kita sendiri.

Ibu tunggal yang hadir di awal cerita dan para ibu lainnya ini sadar dan ingin menghentikan siklus negativitas, meski tidak selamanya selalu berhasil. Mereka pejuang yang pemberani, sebab mereka tak gentar menghadapi musuh yang paling menakutkan, yaitu, diri mereka sendiri. Mereka mencoba dan terus mencoba setiap hari, kadang gagal, kadang berhasil, sampai suatu hari nanti benar-benar telah terbebas dan bisa menjalani kehidupan dengan lebih damai. Mereka sadar jika tidak berhenti maka siklus akan diteruskan ke anak-anak mereka lalu ke cucu dan ke cicit. Turun temurun dari satu generasi ke generasi.

FB_IMG_1465548451116

Ketika Ibu Pergi Sekolah

Waktu aku masih TK, Ibu juga sekolah lagi. Orang dewasa kok sekolah. Kan sudah kerja.. Ibu sekolahnya jauh. Di tempat yang namanya Surabaya. Nama sekolahnya Universitas Airlangga. Karena sekolah Ibu jauh sekali, Ibu tidak bisa sering pulang ketemu aku dan Kakak. Dari dulu memang aku tidak ketemu Ibu setiap hari, karena Ibu mengajar di Singaraja, sedang aku tinggal bersama Kakak dan Kakek dan Nenek dan Paman di Denpasar. Tapi Ibu pergi mengajar tidak lama. Hanya satu atau dua kali bobo di malam hari, lalu Ibu sudah pulang. Ibu sering antar atau jemput aku sekolah. Tapi sejak Ibu sekolah lagi, aku sudah bobo malam lama sekali, sampai bermalam-malam, tapi Ibu belum juga pulang. Kata Nenek itu karena sekolah Ibu memang jauh. Tapi aku, kan, ingin ketemu Ibu. Aku tahu Kakak juga kangen sama Ibu. Kalau kangen dia suka tidur lama-lama. Kakak jadi sering tidur. Dimana-mana ketiduran. Kakak sering dimarahi Kakek karena sering ketiduran di sembarang tempat. Mungkin Kakak kangen sekali sama Ibu, makanya dia sering tidur. Supaya bisa ketemu Ibu di dalam mimpi.

Ibu pulangnya tidak bisa lama-lama. Banyak PR yang harus dikerjakan, katanya. Kalau bolos tidak naik kelas. Kalau tidak naik kelas, Ibu harus pergi lebih lama lagi. Lalu aku jadi makin lama nggak bisa sama-sama Ibu. Tapi, aku nggak ingin Ibu pergi. Kalau Ibu datang di hari Jumat, lalu hari Minggu harus berangkat lagi, aku akan ikuti kemana pun Ibu pergi. Masuk keluar kamar aku ikuti. Ke dapur, ke ruang tamu, dan kalau ke kamar mandi kutunggui depan pintu. Aku nempel terus sama Ibu. Tangannya, bajunya, kupegangi, supaya aku bisa ikut kemana saja Ibu pergi. Aku nggak mau disuruh tidur siang, sebab kalau aku ketiduran, nanti aku nggak bisa lihat Ibu pergi dan nggak bisa kularang. Ibu biasanya pamit kalau mau pergi, tapi aku tetap nggak mau Ibu pergi.

Kalau sudah begitu, Ibu, Kakek dan Nenek, membujukku dengan bilang Ibu pergi cuma sebentar. Dulu aku percaya, tapi sekarang tidak lagi, karena Ibu ternyata pulangnya selalu lama. Nenek biasanya lalu mengajakku ke minimarket di dekat rumah. Kata Nenek aku boleh beli Oreo banyak-banyak. Tapi aku tidak mau, apalagi kalau lihat tas ransel Ibu sudah siap dan laptop sudah dibungkus rapi. Nanti kalau aku ikut Nenek ke minimarket, Ibu berangkat pergi dan aku tidak bisa ikut. Soalnya pernah terjadi sekali. Pulang dari minimarket Ibu sudah tidak ada. Lalu aku nangis meraung-raung. Keras sekali. Sambil panggil “Ibu.. Ibu..!” Kalau capek, aku makan Oreo, minum, lalu nangis lagi. Sekeras mungkin, supaya Ibu dengar dan cepat pulang.

Pernah sekali, Ibu janji tidak akan pergi. Waktu itu hari Senin dan aku harus sekolah. Ibu mengantarku ke sekolah. Aku bilang sama Ibu supaya jangan pergi. Ibu janji tidak pergi, lalu Ibu pulang. Tidak lama kemudian, aku nangis di sekolah karena ingat Ibu. Aku menangis minta diantar pulang. Ibu Guru bingung jadinya. Karena rumahku dekat, Pak Bon mengantarku pulang. Untung Ibu benar-benar tidak pergi. Ibu masih ada di rumah.

Karena aku sering menangis setiap Ibu akan pergi sekolah, pamanku, yang kupanggil Pak Arya, mengijinkanku ikut ke bandara mengantar Ibu. Pak Arya minta aku janji tidak menangis di bandara. Aku, sih, benar-benar tidak ingin menangis. Tapi sampai di bandara, aku sedih sekali. Aku menangis kencang-kencang, di depan ruang check in, setelah lihat Ibu sudah masuk kesana dan aku tidak boleh ikut. Pak Arya menggendongku, tapi aku memberontak, ingin lari nyusul Ibu. Aku nangis keras sambil panggil-panggil Ibu, sampai ada Ibu Polisi Bandara datang menanyakan ada apa. Mungkin Ibu Polisi pikir, aku ini korban penculikan. Pak Arya malu sekali. Tapi tak lama kemudian Ibu keluar lagi dari ruang check in, dan tidak jadi berangkat. Kata Ibu pada Pak Arya, Ibu tidak tega ninggal aku.

Suatu ketika, Nenek mengajakku menengok Ibu di Surabaya. Kami menginap di kamar kos Ibu yang sempit dan panas. Kalau malam aku susah tidur saking panasnya. Di rumah kos Ibu, ada banyak kamar yang isinya Mbak-Mbak, dan semuanya sekolah seperti Ibu. Oh, jadi ini tempat Ibu tinggal kalau sedang tidak bobo sama aku di rumah. Enakan di rumah, kamarnya lebih besar dan tidak panas.

Kalau siang, Ibu mengajakku ke sekolahnya. Namanya kampus. Sekolahnya besar sekali. Kami jalan kaki dari rumah kos ke kampus. Kalau ke sekolah Ibu, muridnya tidak pakai seragam seperti di sekolahku. Aku diajak Ibu ke perpustakaan, ke ruang kelas dan ke kantin. Kalau sedang di ruang kelas, Ibu biasanya ijin dulu pada gurunya supaya bisa mengajakku duduk, lalu memberiku kertas untuk menggambar atau corat-coret. Aku harus duduk tenang dan tidak boleh ribut. Aku juga bertemu dengan teman-teman Ibu. Mereka baik dan ramah kepadaku. Aku ditanya ini-itu.

Waktu pulang, kami naik pesawat. Ibu juga ikut pulang, katanya sudah libur semester. Itu pengalaman pertamaku naik pesawat. Pada saat berangkat, Nenek dan aku naik bis malam dari Bali. Semenjak mengunjugi Ibu di Surabaya, aku jadi tahu apa yang Ibuku kerjakan ketika sedang tidak bersamaku. Setelah itu, aku tidak rewel lagi ketika Ibu pamit berangkat sekolah. Sekarang Ibu sudah tidak sekolah lagi, aku juga sudah besar. Ibu jarang pergi lama-lama, kecuali kalau sedang dinas ke luar kota. Aku sekarang sudah kelas lima SD dan sudah bisa naik pesawat sendiri. Sekarang aku yang gantian ninggal Ibu naik pesawat kalau liburan ke rumah Paman di Mataram. Untung Ibu nggak nangis waktu kutinggal.

[Kirana, sebelas tahun]

Kirana, 6 tahun, yang sedang menanti Ibu pulang.

Stigma, Stigma, Stigma…

IMG_20150324_203656Apa yang kupelajari tentang statusku sebagai perempuan single parent adalah bahwa sebagian besar orang lebih tertarik pada cerita di balik statusku daripada keinginan untuk mengetahui bagaimana keadaanku sekarang ini bersama anak-anak. Mereka lebih suka membahas statusku itu-secara langsung atau dibelakangku-, tanpa sungkan atau malu-malu kucing bertanya, memintaku mengulang kembali cerita tentang sebab-musababnya. Sudah sebelas tahun, dan masih saja topik yang sama. Padahal, banyak detil yang aku sudah lupa.

Percakapan pembuka yang umum dalam budaya kita adalah pertanyaan tentang status dan anggota keluarga. Status pekerjaan, status pernikahan, status pertemanan dengan si A atau si B. Pokoknya sesuatu yang menunjukkan posisi kita di dalam masyarakat. Dari situ penanya akan memetakan status sosial dan ekonomi kita dan gambaran keseharian kehidupan kita.

Kira-kira, begini salah satu ilustrasinya…

Penanya (katakanlah, ibu-ibu paruh baya, yang baru kukenal di suatu acara atau di angkot), menyapaku dengan pertanyaan,

“ Kerja dimana Mbak?”

“ Saya mengajar di X, Bu.”

“ Putranya berapa, Mbak?”

“ Dua, Bu. Laki-laki dan perempuan”

“ Wah beruntungnya…sudah lengkap itu.”

Nah, sampai dipertanyaan ini aku berharap perkenalan basa basi dicukupkan. Tapi biasanya, harapanku meleset.

“ Suami kerja dimana, Mbak? PNS juga?”

“ Saya sendiri, Bu. Kebetulan sudah berpisah dengan suami.”

(Si Ibu menunjukkan mimik terkejut, dengan alis bertaut, mata melebar…)

“ Lho, kenapa?”

(Tentu saja sambil harap-harap cemas akan meluncur satu cerita bak sinetron yang akan menghibur sisa harinya.)

Aku tersenyum, tidak menjawab, dengan harapan si ibu tahu itu bukan urusannya dan berhenti bertanya. Tapi…sekali lagi…biasanya harapanku meleset.

“ Aduh, Mbak, padahal Mbak cantik, sayang sekali…” (pancingan pertama)

Aku masih mempertahankan senyum

“ Sudah lama ya? Mbak belum menikah lagi?”

Aku masih berjuang mempertahankan senyum, biasanya hanya menggeleng

“Tidak, Bu.”

Si Ibu, tak kalah teguh berjuang mengorek cerita

“ Anak-anak bagaimana, tinggal dengan siapa?”

Aku mulai jengah dan dongkol

“ Dengan saya, Bu. Anak-anak sudah besar. Kejadiannya sudah lama,kok. Saya sudah lupa” (senyum sudah mulai masam)

Si ibu memandang dengan wajah super prihatin, entah tulus entah dibuat-buat, lalu keluarlah ucapan…

“Duh, kasihan…padahal masih muda, lho…”

Jreeenggg…dan aku berharap angkot belok ke neraka…

Stigma pertama yang biasanya dilekatkan masyarakat pada para ibu tunggal adalah kami patut dikasihani. Aku mulai menjalani kehidupan sebagai orang tua tunggal di usia yang relatif muda, dan mendapat curahan ungkapan ‘dikasihani’ dalam berbagai bentuk, baik ucapan maupun tatapan mata menghiba. Sungguh tidak mudah. Tidak mudah karena itu mengkerdilkan spirit dan menyuburkan perasaan tidak berdaya. Jelas aku perlu bantuan. Kami, para ibu tunggal membutuhkan support system yang kuat untuk menjalani kehidupan hari demi hari. Tapi kami juga memiliki dan tengah membangun kekuatan kami. Kami juga tengah membangun kepercayaan diri yang sempat runtuh akibat perpisahan. Terlalu sering dikasihani hanya melemahkan upaya yang sedang kami lakukan. Tak jarang aku mendapati seorang perempuan yang baru saja menyandang status sebagai single parent memilih menarik diri dan menolak banyak bercerita tentang statusnya. Karena memang sungguh tidak nyaman menerima tanggapan yang dipenuhi rasa kasihan.

Stigma kedua yang lekat pada kami adalah….kami selalu dan terus menerus kesepian sepanjang waktu. Oleh karenanya, kami perlu secepatnya menemukan pendamping hidup lagi. Kami harus cepat-cepat menikah lagi. Pernahkah terbayang bahwa seringnya itu adalah hal terakhir yang ada di benak single moms seperti kami? Kami sudah terlampau sibuk menata ulang hidup kami, mencari peluang untuk menstabilkan kondisi finansial, merancang karir, melamar pekerjaan, membuka usaha. Pikiran dan energi kami sudah tersita untuk mendampingi anak-anak menghadapi dan melewati masa transisi pasca perpisahan kedua orang tuanya. Belum lagi harus jungkir balik agar operasional kehidupan sehari-hari bisa berjalan dengan mulus. Memang, di akhir hari, kuakui kadang aku ingin ada kawan bertukar cerita tentang hari yang kulalui. Aku menerima itu sebagai bagian dari kehidupan yang kupilih untuk kujalani. Syukurlah selalu ada saja kawan dan sahabat yang bersedia untuk menjadi tempat curhat.

Namun, stigma -ibu tunggal selalu kesepian-membawa konsekuensi yang tidak mengenakkan. Laki-laki menganggap karena rasa kesepian yang mendera maka kami akan ‘jual murah’. Perlu dihibur, ditemani, kalau perlu dijadikan pacar gelap. Perempuan (baca: para istri) menganggap kami identik dengan wanita penggoda, yang siap menggoda laki-laki, para suami, karena kesepian kami. Jadi, kami ini perlu diwaspadai. Masalahnya, stigma ini makin diperkuat dengan banyaknya cerita film atau sinetron yang melukiskan para janda sebagai perempuan muda cantik seksi yang kesepian, rapuh dan patut dikasihani…

Stigma ketiga adalah anak-anak dari keluarga dengan orang tunggal lekat dengan predikat anak yang kurang kasih sayang, sehingga besar kemungkinan akan tumbuh jadi anak bandel, sekolahnya asal-asalan, ada gangguan kepribadian, bahkan kriminil pula.

Masalahnya adalah, tak banyak yang bisa dilakukan untuk menepis stigma-stigma yang melekat pada kami. Membantahnya dengan melawan secara verbal, atau memberi penjelasan berulang-ulang kadang hanya akan membuat lelah dan semakin jengkel. Setelah sebelas tahun, aku masih melakukan uji coba berbagai cara untuk mengatasi stigma yang melekat padaku sebagai single mom. Jelas, perlawanan utama adalah dengan membuktikan yang sebaliknya. Khusus stigma broken home, selain berdialog dengan anak-anak, aku telah mengajari anak-anak beberapa hal.

Lalu untuk mengatasi kecenderungan dikasihani, aku memperlakukan hal yang sama dengan yang kuajarkan pada anak-anak. Hanya bersikap terbuka dan menceritakan yang sesungguhnya pada orang penting dalam kehidupan kami. Awalnya aku bersikukuh mengatakan aku single parent kepada siapapun, karena idealisme tidak ingin menafikan kenyataan. Tapi justru untuk alasan praktis, itu ternyata sama sekali tidak praktis. Jadi supaya percakapan yang tidak perlu tidak memanjang apalagi dengan orang yang tidak kukenal, aku akan menjawab suamiku X bekerja di Y. Titik.

Sedangkan untuk mengatasi stigma single mom kesepian sehingga ‘jual murah’, aku berusaha untuk tidak memberikan kesempatan apapun kepada yang sudah menikah atau punya kekasih, dan hanya -misalnya- pergi makan siang dengan yang lajang saja disaat jam kantor, serta memastikan bahwa tidak ada anggapan lain selain pertemanan. Sepanjang pengalamanku, para lelaki lajang yang kadang usianya lebih muda justru tidak ‘berbahaya’. Niat mereka biasanya murni pertemanan. Justru yang kerap harus kuwaspadai adalah lelaki setengah baya. Apalagi yang ujung-ujungnya bercerita mengeluhkan istrinya yang begini begitu, tidak akur dengan istrinya, sedang menuju perceraian, dan seterusnya dan seterusnya. Biasanya ini early warning banget untuk diwaspadai. Because all the stories were usually lies! Cerita-cerita itu diciptakan hanya untuk menarik simpatiku. Bagaimana aku tahu? Because I’ve been there..

Oleh karenanya, wahai para single moms, kita tidak bisa memaksa orang untuk memahami keadaan kita yang sebenarnya. Tapi kita punya hak untuk tidak hidup dalam stigma yang terlanjur dilekatkan oleh masyarakat kepada kita.

          Keep fighting

          Stay calm and be happy!

Creating New Image of Family

Dear Single Moms,

Sewaktu anak-anak masih kecil, aku masih dapat melindungi mereka dari berbagai pertanyaan, baik yang muncul di benak mereka sendiri ataupun yang dilontarkan orang lain. Banyak ibu tunggal yang membesarkan anaknya seorang diri, menjadi panik ketika anaknya mulai bertanya mengapa ia tidak tinggal dengan ayahnya. Saranku, katakan yang sejujurnya, apa adanya pada anak. Tentu saja disesuaikan dengan level pemahaman mereka. Ketika anak-anak masih kecil, aku hanya mengatakan bahwa aku dan ayah mereka sudah berpisah, dan ayah mereka tinggal di kota X.

Suatu ketika, anak lelakiku yang duduk di bangku SMP bertanya, “ Ibu, broken home itu apa? Kita ini keluarga broken home, ya?”. Aku diam beberapa jenak, mencoba mencerna makna pertanyaan yang diajukan. Darimana ia mendengarnya? Apakah ada yang mengejeknya? Di sekolah mungkin? Tapi sedari kecil aku membiasakan anak-anak bicara dengan terus terang dan menggunakan fakta serta logika. Maka setelah menarik nafas panjang beberapa kali, ini yang kukatakan,

Home, sudah tahu kan artinya rumah? Sementara broken, artinya rusak. Kalau arti menurut kamus, broken home itu rumah yang rusak. Rumah rusak bisa disebabkan karena bermacam-macam hal, salah satunya ya karena tiang penyangga rumah sudah rapuh.”

Disini, aku menarik nafas dalam lagi. Anakku diam menunggu lanjutan penjelasanku.

“ Nah, kata broken home ini, sering digunakan untuk merujuk pada keluarga yang retak. Misalnya retak karena orang tuanya tidak bersama-sama lagi….

Mungkin, seperti keluarga kita. Biasanya anak-anak yang berasal dari keluarga yang dianggap broken home tumbuh menjadi anak yang bandel dan tidak jarang melakukan tindak kriminal….Yah, karena mereka kekurangan kasih sayang orang tua, kurang perhatian, sehingga terjerumus pada pergaulan yang salah.”

Aku menatap anakku, menunggu reaksinya.

“ Tapi kita nggak broken home.” Cetus adiknya iba-tiba, yang sejak tadi ikut mendengarkan.

“ Aku nggak nakal, Kakak juga. Kakak ranking juga di sekolah. Aku juga pinter. Rumah kita nggak broken, karena ibu yang jaga jadi tidak rubuh.” Katanya serius.

Kakaknya manggut-manggut setuju. Cepat kumanfaatkan situasi ini,

“ Kita akan jadi broken home jika kita tidak bersama-sama saling menjaga. Jika kita tidak saling menyayangi. Ibu tidak bisa menjadi kuat kalau kalian tidak membantu”

Mungkin, anak-anak sudah melupakan percakapan kami waktu itu karena setelahnya tidak pernah disinggung-singgung lagi. Tapi aku tidak akan pernah lupa. Ini adalah salah satu momen penting dalam perjalanan kami sebagai sebuah keluarga.             Sejak dini aku memang mengajarkan pada anak-anak bahwa mereka akan ditanyai oleh orang tentang keberadaan ayah kandung mereka. Pertanyaan paling umum adalah dimana ayah mereka bekerja. Aku mengajari mereka untuk menjawab sesuai situasi.

  1. Mereka harus menjawab jujur, yaitu, ayah tinggal terpisah, jika yang bertanya adalah orang-orang yang dianggap penting untuk tahu, seperti ibu guru di sekolah (jujur)
  2. Mereka boleh menjawab dengan mengakui ayah mereka adalah paman mereka, jika orang yang bertanya adalah orang yang belum terlalu mereka kenal, misalnya tukang warung di ujung jalan (jujur tetapi tidak penuh)
  3. Mereka boleh mengarang jawaban jika yang bertanya adalah orang yang sama sekali tidak mereka kenal, misalnya orang yang bertanya di angkutan umum (permainan imajinasi)

Ketika mereka sudah lebih besar, aku mengajak mereka berdiskusi tentang stereotipe atau anggapan yang cenderung negatif yang mungkin dilekatkan orang kepada mereka karena mereka hanya tinggal dengan ibu. Pada intinya kukatakan bahwa mematahkan pandangan negatif paling efektif adalah dengan bukti nyata bahwa kita tidak seperti yang disangkakan orang.

Sejauh ini anak-anak cukup memahami kondisi kami yang berbeda dengan keluarga lainnya. Mereka juga nampak hepi dan tidak terbebani dengan kondisi kami. Kunci utamanya menurutku adalah anak-anak melihatku menjalani kehidupan kami dengan enjoy. Sehingga mereka pun bisa melihat bahwa tak ada yang salah dengan kehidupan kami dan kami bukan keluarga yang cacat atau berkekurangan. Aku beberapa kali berdiskusi dengan anak-anak tentang keluarga-keluarga lain, lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihan masing-masing. Ada banyak anak yang tinggal dnegan ayah dan ibu lengkap, namun kekurangan kasih sayang. Namun ada pula anak yang hanya tinggal dengan ibu atau ayahnya saja, namun tumbuh menjadi orang hebat di masa dewasanya. Dengan cara ini anak-anak menyadari bahwa keluarga kami memang bukan keluarga yang sempurna, namun banyak pula hal yang patut kami syukuri. Kami belajar berbahagia dengan yang kami miliki dan tidak berfokus pada apa yang tidak kami miliki.

Bagi kami, keluarga adalah ibu dan anak-anak.

And it’s okey.

 

 

Bibit-Bibit Kekerasan dalam Olok-Olok Status Janda

Beberapa waktu lalu saya memutuskan keluar dari sebuah grup Whats App. Saya left begitu saja, tanpa pamit atau sedikit basa-basi ucapan selamat tinggal karena merasa tidak sreg dengan candaan yang sempat terlontar dalam grup itu. Anggap saja itu adalah bentuk protes saya karena lagi-lagi menggunakan status janda sebagai bahan olok-olok. Miris juga, karena grup itu menggunakan bendera nama akademisi.

Terlepas dari status saya sendiri sebagai perempuan bercerai dan orang tua tunggal dari dua anak, saya merasa betapa entengnya kita menjadikan kondisi orang lain yang dianggap tidak memenuhi standar masyarakat sebagai bahan olok-olok agar kita menjadi pusat perhatian dan suasana obrolan jadi meriah.

Kata ‘janda’ sendiri berarti wanita yang tidak bersuami lagi karena bercerai ataupun karena ditinggal mati suaminya (kbbi.web.id). Pada awalnya kata ini bermakna netral, namun lama kelamaan mengalami pembusukan. Seiring stigma negatif yang dilekatkan oleh masyarakat pada perempuan yang tidak bersuami, kata ‘janda’ kerap digunakan dalam candaan atau olok-olok yang sifatnya seksis. Mulai dari tulisan di belakang truk pengangkut pasir sampai di berbagai meme yang bertebaran di media sosial dan grup pertemanan. Bagi pelaku yang menjadikannya sebagai bahan olok-olok tentu menyenangkan, tetapi bagi yang memanggul status tersebut tentunya amat menyakitkan.

Seorang kawan yang telah bercerai selama lima tahun, memilih untuk menutup rapat-rapat statusnya karena takut cemoohan masyarakat. Padahal ia bekerja keras untuk menghidupi ketiga anaknya dan tidak pernah merugikan masyarakat sekitar. Ada juga beberapa perempuan yang menjelang hari raya bukannya merasa bahagia akan kumpul keluarga, malah merasa tertekan karena lagi-lagi harus menghadapi omongan keluarga tentang status jandanya. Stigma yang diberikan kepada perempuan bercerai memang telah dikonstruksi secara sosial agar menguntungkan bagi pihak yang dominan dan merugikan, bahkan menyakitkan, bagi minoritas yang terstigma.

Masyarakat Indonesia menganggap janda sebagai sosok yang tidak bermoral, dan anggapan inilah yang sebenarnya menjadi akar/dasar dari stigma. Stigma tersebut menyerang identitas moral dan harga diri seorang perempuan dan membuatnya sulit untuk menampilkan diri sebagai seorang perempuan terhormat dan memiliki moral yang baik. Karena dianggap ‘rendah’dan tidak terhormat, maka dianggap pantas untuk dijadikan bahan olok-olok dan guyonan.

Disadari atau tidak oleh masyarakat, olok-olok terhadap status janda sebenarnya mengandung bibit-bibit kekerasan dan turut andil mempertahankan kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga.

Pertama, olok-olok status janda memberi peluang terjadinya kekerasan seksual pada perempuan. Janda dianggap telah memiliki pengalaman seksual namun tidak terikat pada pernikahan, maka ia dianggap ‘kesepian’ dan dijadikan target seksual oleh para pria. Olok-olok itu sendiri sebenarnya sudah merupakan bentuk pelecehan verbal. Sayangnya masyarakat sudah tidak bisa membedakan mana yang pantas dijadikan bahan olok-olok dan mana yang tidak. Padahal jika olok-olok dianggap sebagai sebuah kewajaran, maka peluang untuk berkembang menjadi pelecehan fisik juga besar.

Kedua, karena takut dengan stigma negatif dan olok-olok masyarakat terhadap janda, banyak perempuan memilih untuk tetap berada dalam perkawinan meskipun ia sendiri tidak bahagia, mengetahui terang-terangan suami selingkuh atau menjadi korban kekerasan dari suami. Ini berarti para penggemar guyonan dengan menggunakan status janda sebagai bahan olok-olok turut melestarikan kekerasan dalam perempuan dan rumah tangga. Jika pun memutuskan bercerai, mereka memilih untuk menutupi hal tersebut rapat-rapat. Anggota keluarga juga berpotensi melakukan kekerasan dengan melarang anggota keluarga perempuannya yang berstatus janda keluar rumah karena dianggap telah mencoreng nama baik keluarga atau cepat-cepat memaksanya untuk menikah kembali agar terhindar dari aib.

Ketiga, mereka yang suka mengolok-olok janda sebenarnya mendorong social exclusion pada salah satu kelompok anggota masyarakat, membuat para perempuan yang berstatus janda kehilangan kesempatan mendapatkan dukungan, bermanfaat bagi masyarakat dan mencari nafkah. Bibit kekerasan yang muncul bersifat sosial sekaligus ekonomi, padahal banyak dari para janda ini adalah kepala keluarga dan pencari nafkah utama. Bagaimana bisa fokus bekerja dan mencari nafkah, jika terus menerus dihantui kekhawatiran akan menjadi obyek pelecehan seksual di tempat kerja?

Teman saya bilang, “Ah, itu beraninya pas online saja. Pas offline dan ketemu orangnya langsung, ya, diam saja.”

Online atau offline, menggunakan status orang lain sebagai bahan olok-olok tetap tidak dibenarkan. Beberapa candaan hanya menunjukkan kedunguan kita sendiri dan kurangnya empati. Bagaimana jika itu ibu anda sendiri, atau adik anda, atau anak anda kelak?

Kadang, untuk menghentikan kekerasan, yang diperlukan hanyalah empati. Dan empati tidak tergantung pada tingkat pendidikan, status sosial ekonomi ataupun keyakinan kita. Melainkan kerelaan untuk tidak memberi makan ego kita dengan memanfaatkan keadaan atau situasi orang lain.

Depresi

When you were standing in the wake of devastation

When you were waiting on the edge of the unknown

And with the cataclysm raining down, insides crying save me now

You were there impossibly alone.

(1)

Bagaimana cara menjelaskan kepadamu tentang kegelapan yang menyelubungi diri ini? Serupa awan hitam yang yang menggelantung, berat, dan kejam, ia tak pernah pergi, meski matahari berusaha keras menembus dengan sinarnya yang amat terik. Kegelapan ini menahan setiap keinginan, memborgol setiap pikiran akan kemungkinan. Tak ada yang terlihat, semua suram.

Aku lupa kapan tepatnya awan pekat ini mulai menyelubungiku.Suatu pagi kudapati diriku hanya mampu terbaring lunglai, tak berdaya untuk bangkit dan menyongsong hariTerlampau lelah dengan perjuangan mengatasi kesedihan dan frustasi yang datang silih berganti.

And in the burst of light that blinded every angel

As if the sky had blown the heavens into stars

You felt the gravity of temper grace falling into empty space

No one there to catch you in their arms

(1)

Mereka bilang hidup itu penuh harapan. Aku ingin percaya. Tapi hari demi hari yang kulewati hanya membuktikan yang sebaliknya. Mereka bilang ada yang salah dengan caraku berpikir dan memandang hidup.

Apakah kalian tahu hidup macam apa yang telah kulewati?

Bagaimana aku dapat membangun harapan, sementara sepanjang hidupku yang kutahu hanyalah kekalahan? Setiap kali aku mencobanya, setidaknya untuk berpikir tentang masa depan, masa lalu menarikku kembali. Berkali-kali aku terjerembab, dibelit ketidakberdayaan yang tak kasat mata. Kalian tak akan pernah bisa melihatnya karena ia begitu cerdik membungkus diri dalam balutan kekuatan, keperkasaan, dan kemenangan semu. Di matamu aku gagah. Di depan cermin, aku kalah.

Berulang kali aku tercekik, tak bisa bernafas. Rahasia hidup masa lalu yang yang terlampau mengenaskan untuk dikenang, kugenggam erat-erat. Melebur bersama darah yang mengaliri seluruh tubuh, memastikan ia tidak dilupakan apalagi dilepaskan.Karena rahasia ini, kemanapun aku melayangkan pandang, yang kusaksikan hanyalah penderitaan. Keputusasaan tak bertepi. Keriuhan yang sunyi. Aku kosong. Terasing, sendirian.

Maka, di tengah hingar bingar aku tersenyum, jika perlu berteriak, tertawa keras-keras. Agar tak perlu ada yang tak tahu berapa banyak undangan yang telah kukirimkan pada ia, sang malaikat pencabut nyawa. Aku sungguh lelah mencari jawaban yang terus menerus kutanyakan setiap hari; untuk apa aku perlu hidup sehari lagi?

Do you feel cold and lost in desperation

You build up hope but failure’s all you’ve known

Remember all the sadness and frustration

(1)

Kamu bilang aku perkasa, pasti bisa melewati semuanya.Betapa dangkalnya menganggap semua penderitaan ini bisa lenyap dengan mudah hanya dengan mengucapkan kalimat-kalimat afirmasi atau berpikir positif, seperti katamu. Itu sebabnya tak pernah kutunjukkan lubang hitam yang menganga dalam diriku. Sebab kau tak akan percaya.

Dalam kebisuan, aku menghiba, menangis, berteriak,

SELAMATKAN AKU

SELAMATKAN AKU

SELAMATKAN AKU

Katamu Tuhan Maha Penyayang, tetapi mengapa jeritanku tak pernah didengar?

Kengerian ini luar biasa mencekam. Kemanapun aku pergi, aku tak bisa melarikan diri. Aku dikepung, ditelanjangi, dihajar habis-habisan. Setiap hari adalah perjuangan untuk bangkit lalu babak belur, lagi dan lagi.

Tentu saja aku tahu bagaimana cara melanjutkan hidup. Kau pikir untuk apa semua kerja keras ini? Aku membangun kekuatanku agar bisa hidup. Suatu saat aku berharap tak perlu lagi mendustaimu, atau membuatmu percaya bahwa semuanya baik-baik saja. Tapi berjam-jam di kursi terapi, kunjungan ke dokter dan bermacam obat, tak pernah sungguh dapat menjangkau ruang terdalam tempat rahasia-rahasia tersimpan. Meski bawah sadarku telah memuntahkan semuanya, kekosongan ini tak jua berkurang. Tetap mencekik, mencekam. Aku kalah.

Sudah kubilang ini kutukan.Bukan begini rencana hidupku, tetapi nampaknya akan seperti ini aku menjalani hidup. Seandainya saja ada sedikit daya untukku menjejak…Jika saja bisa aku ingin mengulang hidup kembali dari awal dan sebisa mungkin tak bersua dengan kegelapan ini…

Orang bilang ini depresi. Aku menyebutnya kegelapan tak bertepi.

Dark

Waiting for the end to come

Wishing I had strength to stand

This is not what I had planned

It’s out of my control

(2)

 

 

 Keterangan

  1. potongan lirik lagu Iridescent, penyanyi Linkin Park. Album A Thousand Suns (2010)
  2. potongan lirik lagu Waiting For The End, penyanyi: Linkin Park Album: A Thousand Suns (2010)

Soal Pelajaran Hidup

Kadang-kadang, hatiku terasa seperti membesar, melebar, penuh dengan cinta. Lalu aku bisa tersenyum sepanjang hari menikmati dengan penuh syukur segala yang terjadi kepada kami. Tepat di saat seperti inilah, aku merasa telah menjalankan tugasku sebagai seorang ibu- ibu dan ayah sekaligus- dengan sebaik-baiknya. Bahwa perjalanan kami sungguh telah jauh dan betapa Tuhan sungguh Maha Baik.

###

Hari ini Kirana pulang dari sekolah membawa nilai ujiannya. Beberapa bulan menjelang ujian nasional ia telah berusaha dan belajar sangat keras. Setiap hari ia pulang sekolah jam 14.30 siang, tidur siang sebentar, lalu jam 16.00 sudah harus bersiap menuju tempat les. Tentu saja aku tidak tega melihatnya kecapekan setiap hari, tetapi sebagaimana halnya sebuah perjuangan, tak ada perjuangan yang mudah. Aku harus menguatkan hati membangunkan Kirana dari tidur siang untuk berangkat les. Sesebal-sebalnya aku pada diriku sendiri yang seperti memaksakan kehendak, realitanya, Kirana membutuhkan nilai yang baik untuk memiliki kebebasan memilih sekolah yang ia maui. Ada masa-masa ia ngambek dan moody karena terlampau lelah, kalau sudah demikian, kudiamkan saja. Aku minta kakaknya untuk mengalah kalau adiknya sedang ingin ‘menang sendiri’.

Hari ini dengan bangga Kirana mengumumkan nilainya adalah yang tertinggi di kelas. Tak ada nilai di bawah 80.00. Bahkan untuk Matematika yang selama ini ia takuti. Sebenarnya, nilai UN itu hanyalah salah satu hasil dari sekian pengalaman yang Kirana peroleh. Ia belajar bahwa hasil yang baik selalu diperoleh lewat kerja keras. Selama sekolah Kirana beberapa kali kena risak (bully) kawan-kawannya, dan aku selalu menyemangatinya untuk mengalahkan para perisak yang iri hati lewat prestasi tertinggi. Akibat kena risak, Kirana yang ceria sempat murung dan malas berangkat sekolah (lihat di My Parenting Journey: Anak-Anak Bukan Pantulan Cermin). Kami sempat bertengkar hebat karena aku kesal melihat konsentrasinya yang pecah di bulan-bulan menjelang ujian. Aku ‘memaksanya’ untuk fokus dan berkali-kali mengatakan bahwa jika nilai ujiannya lebih tinggi daripada kawan-kawannya itu akan menjadi aksi balas dendam yang paling keren.

Pada dasarnya Kirana cepat mengerti dengan pelajaran yang diajarkan di sekolah. Tetapi dengan Matematika, entah bagaimana, ia seperti kehilangan kepercayaan diri. Aku pun jadi ikut-ikutan cemas dan mulai percaya jangan-jangan Kirana memang ‘tak pandai’ dalam Matematika. Untung aku tidak sok tau dan langsung memberi label kalau anakku bodoh di bidang matematika. Kuputuskan untuk meminta bantuan seorang guru matematika yang tidak hanya pintar tetapi juga ramah dan cantik, untuk datang dua hingga tiga kali seminggu mendampingi Kirana berlatih soal-soal. Miss Ratih, dengan suaranya yang renyah, meyakinkanku setelah pertemuan pertama bahwa Kirana cukup memahami konsep-konsep hitungan. Selain mendapatkan bimbingan, Kirana juga mendapat seorang role model. Bahwa perempuan, seperti Miss Ratih, juga bisa jadi jagoan Matematika (fyi, ia memegang dua gelar Master di bidang Pendidikan Matematika, salah satunya dari sebuah universitas di Belanda)

Perjalanan ini adalah pengalaman pertama Kirana untuk memperoleh sesuatu dengan upayanya sendiri. Pasca ujian, ia masih gelisah memikirkan hasilnya yang baru akan keluar sebulan lagi. Aku berkali-kali menyuruhnya santai dan bermain sepuasnya sebanyak waktu yang digunakannya intuk belajar kemarin. Melihat sikapku, Kirana malah heran.

“ Kok. Ibu, nggak mikirin nilaiku berapa? Bagus atau nggak?”

“ Kan, Ibu sudah bilang, yang penting kerja keras. Usaha sekeras-kerasnya, kalau sudah dilalui ya sudah. Apapun hasilnya. Sekarang waktunya Kirana santai, karena sebelum ujian, kan, belajar terus, les terus, tidur dan istirahatnya kurang.”

“ Kalau nilaiku jelak bagaimana?”

“ Ya tidak apa-apa. Yang penting, kan, sudah berjuang. Lain halnya kalau tidak berjuang lalu nilainya jelek, itu baru keterlaluan. Nggak usaha, kok, maunya dapat yang bagus.”

Sekarang, ketika ia menerima hasil dari kerja kerasnya, aku yakin Kirana memahami apa yang kukatakan soal berjuang dan berusaha. Ia telah menghayati prosesnya dan menemukan makna dari sebuah kerja keras. Ia sama sekali tak menyebut-nyebut soal balas dendam pada kawan-kawan yang telah merisaknya. Baginya sudah tak penting lagi. Ia sudah berpuas dengan dirinya sendiri. Tak perlu membuktikannya pada orang lain.

“ Aku mendaftar ke SMP mana, Bu?” tanyanya sambil menimang-nimang blangko pendaftaran.

“ Terserah kamu. Dimana yang menurutmu baik. “

“ Tidak harus ke SMP X?” tanyanya sambil menyebut nama SMP favorit di kota kami.

“ Tidak juga. Tujuanmu bekerja keras, kan, supaya kamu bisa bebas memilih akan sekolah dimana. Sekarang terserah kamu. Ke SMP X boleh, ke SMP Y yang lebih dekat dari rumah juga boleh. Carilah info sebanyak-banyaknya tentang sekolah-sekolah itu. Guru-gurunya, jam belajarnya, kegiatan ekskulnya. Lalu coba dibandingkan satu dengan yang lain, mana yang kira-kira paling pas untukmu. ”

Kirana tersenyum, paham bahwa buah kerja kerasnya membuatnya memiliki power untuk memilih.

IMG_20141129_211403Seringkali orang keliru memahami bahwa kebebasan memilih atau mendapatkan sesuatu dalam hidup ini, bisa diraih dengan mudah dan otomatis begitu saja. Mereka lupa bahwa seringkali untuk mencapainya orang perlu bersusah payah lebih dahulu. Anak-anak yang sekarang mendapatkan berbagai fasilitas dan hidup dengan enak sebenarnya adalah karena kerja keras orang tuanya. Beberapa orang di lingkup pekerjaan kita memiliki karier dan nama besar juga karena buah kerja keras dan disiplin tinggi. Kita seringkali hanya melihat mereka di saat ini saja, lupa menengok bagaimana dulunya mereka susah payah berusaha. Lalu dengan mudahnya kita berkata wah coba aku jadi dia, pasti enak sekali hidupku. Tetapi ketika dihadapkan pada sebuah pekerjaan yang membutuhkan tanggung jawab dan kerja keras tidak sedikit, kita langsung lari terbirit-birit.

Maka, tepat disaat inilah aku merasa kerja kerasku sebagai seorang ibu tidak sia-sia. Bukan soal nilai UN Kirana. Tetapi soal bagaimana Kirana bisa mendapatkan pelajaran tentang kebebasan memilih sebagai hasil dari dari kerja keras. Soal bagaimana membangun keyakinan diri dengan berfokus pada diri sendiri dan tak menghiraukan apa yang orang katakan untuk menjatuhkan diri kita. Realitanya, dalam hidup ini, kitalah yang mesti bertanggung jawab pada diri dan hidup kita sendiri. Aku tidak mau Kirana tumbuh dengan kebiasaan playing victim, menyalahkan orang lain atau situasi atas segala yang terjadi pada dirinya dan merasa pantas untuk dikasihani.

Seburuk-buruknya manusia adalah mereka yang melepaskan tanggung jawab atas perbuatan mereka sendiri.

RUMAH

Rumah

Waktu itu siang hari, berbekal motor pinjaman, kami menyusuri jalanan berdebu di sepanjang kompleks perumahan.

“ Itu, ada belokan ke kanan di depan, belok di sana“ kataku memberi aba-aba pada kawan yang mengendarai motor, “ Nah, kayaknya bener ini jalannya. Rumahnya di ujung sebelah kanan.”

“ Jangan kenceng-kenceng, pelan saja.”

Aku sibuk menoleh kanan kiri melihat rumah demi rumah yang kami lewati. Aku tidak ingat apakah rumah-rumah ini bentuknya masih sama atau sudah berbeda. Yang kuingat, lebar jalan di blok ini tak berubah

“ Ini?” kata kawanku menghentikan laju motor di depan sebuah rumah

Tiba-tiba aku panik. Takut ada yang melihat kami.

“ Eh, eh, jangan berhenti. Nanti ada orang tanya.”

Kawanku bingung, “Katanya mau lihat?!”

“ Jalan, ayo jalan…” aku menepuk punggungnya tak sabar.

Sepeda motor melaju lagi. “ Ini kemana?” tanyanya ketika sampai di pertigaan.

“ Ke kiri. Lurus saja. ”

Diam-diam aku melirik ke rumah itu. Kosong tak terawat. Jalanan di sepanjang rumah juga lengang. Rumah-rumah lain tertutup pintunya, seperti tak berpenghuni. Aku sedikit lega.

“ Eh, putar balik lagi ya kita? Maaf, tadi aku gugup. Belum sempat lihat.”

Kawanku tak menyahut. Ia sudah mengantisipasi bahwa aku akan cerewet dan gugup. Aku sudah menerangkannya kemarin ketika meminta bantuannya untuk mengantarkanku ke rumah itu. Aku mewanti-wanti, meminta khusus padanya untuk tetap  tenang  terlebih jika aku yang menjadi panik.

Mendekati rumah itu lagi, tanpa diberitahu, kawanku memelankan laju motor . Seperti yang kulihat tadi, rumah itu kosong, nampaknya sudah lama tak berpenghuni. Pintu-pintu dan jendela terbuka lebar,  kita bisa dengan leluasa melihat bagian dalam rumah. Halaman rumah dipenuhi ilalang dan semak. Cat temboknya memudar dan mengelupas di sana-sini.

Tiba di ujung jalan, motor diputar balik sekali lagi. Aku teringat pasangan muda yang tinggal di sebelah rumah. Terakhir bertemu si istri tengah mengandung bayi pertama mereka. Kemana mereka sekarang? Apakah masih tinggal di sana?

“Balik lagi, nih?” tanya kawanku, ketika sekali lagi kami sampai di ujung jalan satunya. Motor sudah siap-siap diputar.

Nggak usah. Sudah cukup. Yuk, pulang.”

Gitu aja?” tanyanya kaget.

“ Terus mau diapakan? Masak mau dimasukkan kantong dan dibawa pulang?”

“ Ya… siapa tahu mau nostalgia” jawabnya.

“ Nostalgia apanya! Nanti kita ditangkap satpam kompleks ini, lho, dikira mau nyulik anak kecil. Dari tadi mondar-mandir di jalanan yang sama “

Kawanku nyengir. Lalu kami kembali menuju jalan utama dan keluar dari kompleks perumahan tersebut.

“ Rumah-rumah di kompleks tadi nggak banyak yang berubah ya, “ aku bergumam sendiri. “ Sayang sekali rumahnya tidak terawat, padahal ukurannya cukup besar. Mungkin tidak ada yang tinggal di sana setelah kami.”

“ Mungkin jarang orang mau tinggal di sana. Jauh dari mana-mana. Angkutan umum pun tidak ada yang lewat “ sahut temanku.

Iya, benar. Lokasi rumah itu memang kurang strategis. Jauh dari mana-mana. Tujuh tahun lalu kami memilihnya karena biaya sewa rumah itu terjangkau oleh kondisi keuangan kami waktu itu dan cukup dekat dengan sekolah tempatku mengajar. Meski tak bisa juga dicapai dengan berjalan kaki.

Yang kuingat, apa yang kami inginkan saat itu adalah ketenangan. Hidup mandiri jauh dari tuntutan dan tekanan serta membesarkan putra kami dengan baik. Namun, tenang dan sepi nampaknya beda tipis. Suasana sekitar rumah yang sepi membuatku merasa sangat sendirian, terlebih karena aku harus banyak mengkompromikan nilai-nilai yang kuanut selama ini agar rumah tangga kami bisa bertahan. Sampai ketika pada akhirnya aku mulai merasa tidak aman di rumahku sendiri, dan harus memutuskan cepat atau lambat rumah ini harus ditinggalkan demi keselamatanku dan anakku.

Sepeda motor melaju dengan kecepatan sedang. Aku memberitahu arah yang mesti dituju sambil mengingat-ingat beberapa area yang kami lewati sepanjang jalan. Sebagian persawahan sudah berubah menjadi bangunan. Namun parit dengan air yang mengalir di sepanjang tepian jalan, masih ada. Dan tentu saja, tanpa perlu susah-susah diundang, kenangan terakhir tentang jalan ini muncul kembali. Di pelupuk mataku, dua sepeda motor, satu sepeda motor besar laki-laki dan satu sepeda motor bebek, melaju kencang, seperti sedang balapan. Sayangnya ini bukan balapan karena di atas sepeda motor bebek, perempuan hamil tanpa alas kaki mengendarai motornya dengan kencang sambil menjerit-jerit minta tolong. Tak jauh di belakangnya, sepeda motor besar yang dikendarai seorang laki-laki juga melaju kencang mengejar, seperti kesetanan.  Orang-orang yang kebetulan berdiri di halaman atau di tepi jalan serta merta menghentikan kegiatan. Teriakan kencang minta tolong  jelas menarik perhatian mereka. Tapi orang-orang tidak bisa apa-apa. Laju kedua motor terlalu kencang.

***

Sepeda motor yang kami kendarai berbelok di tikungan. Aku mengernyit tersadar,  lega bahwa  horor itu sudah lama berlalu. Aku ingat, setelah kejadian itu, aku hanya pulang sekali lagi ke rumah. Aku datang bersama adikku beberapa hari kemudian dan mendapati hampir seluruh isi rumah sudah tidak ada. Yang tersisa hanya pakaianku dan tape recorder yang kumiliki sejak masa kuliah . Bahkan koleksi buku-buku yang kubeli dengan susah payah pun lenyap semua. Kata tetangga, beberapa hari sebelumnya, sebuah truk besar datang mengangkut seluruh perabot dan barang.

Malamnya, sekembali dari menikmati angkringan berombongan dengan kawan-kawan, aku merenungkan lagi perjalanan tadi siang. Sebenarnya aku ke Jogja untuk urusan data penelitian. Ada beberapa narasumber yang harus kutemui, jadi aku harus tinggal di sini beberapa hari. Butuh bertahun-tahun untuk bisa kembali menikmati Jogja dan memandangnya dengan fair tanpa harus terus memberinya label ‘kota masa lalu yang harus dihindari’. Butuh keteguhan dan tekad untuk berkata pada diri sendiri bahwa yang lalu, ya, sudah biarkan menjadi masa lalu. Tak perlu terus menerus menghidupkannya dalam otak dan pikiran. Itu pula mengapa aku memutuskan untuk kembali ke rumah tempat kami sempat tinggal tujuh tahun yang lalu. Harus ada closure. Penutupan. Penghabisan.

Manusia umumnya memiliki dua pilihan respon ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak disukai. Kabur (flight) atau dihadapi (fight). Aku menggunakannya bergantian. Aku menghadapi tanggung jawab dan kewajibanku atas anak-anak. Aku mendidik dan membesarkan mereka dengan sungguh-sungguh. Tapi aku menolak mengingat lagi apa yang pernah terjadi. Aku memilih kabur dari perasaan dan ingatan tentang apa yang telah terjadi. Akibatnya, seperti luka yang tak pernah menutup dan kering, perihnya muncul di saat-saat aku lengah. Sampai kemudian aku memutuskan untuk dengan sadar menghadapi hal-hal dari masa lalu yang sebelumnya kuhindari. Rasa benci, dendam dan kemarahan hanya akan memperpanjang siklus kekerasan dan negativitas. Demi kebaikanku sendiri, kuputuskan, cukuplah rasanya sampai di sini saja.

Ketika terpikir atau teringat kembali pada sesuatu yang telah berlalu, orang lain akan mengatakan, “yang lalu biarkanlah berlalu”. Apa sebenarnya maksud ungkapan itu? Bagiku ungkapan itu kurang masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang bisa melupakan begitu saja sesuatu yang penting di masa lalu, atau sesuatu yang meninggalkan kesan yang kuat dan dalam? Anehnya, ungkapan yang lalu biarlah berlalu hanya berlaku untuk hal-hal yang tidak menyenangkan atau menyedihkan, mengecewakan atau menyakitkan. Terhadap kenangan indah dan membahagiakan, justru frasa yang berlaku adalah simpanlah itu dalam kenangan. Mustahil rasanya melakukan dua hal berlawanan pada sesuatu yang sama-sama menimbulkan perasaan kuat. Bukankah pada teori tentang ingatan dan kelupaan, orang akan sulit melupakan suatu peristiwa jika peristiwa tersebut mengandung unsur emosi yang hebat?

Masalahnya, meskipun yang pernah kita alami sungguh traumatis dan tidak mengenakkan, kita harus terus hidup. Sulit, tapi hidup mesti dijalankan. Beberapa orang memilih menyimpan dan menguncinya rapat-rapat dalam kotak yang dibenamkan dalam-dalam dan jauh di bawah kesadaran. Lalu pada saat yang tak terduga melayang kembali ke permukaan dan meledak hebat. Beberapa membawanya kemana-mana, serupa vampir yang siap menghisap setiap hal positif dan kebahagiaan yang ditemui. Kebahagiaan dan kebaikan yang dijumpai selalu dihubungkan dengan trauma dan ketidakberdayaan yang pernah dialami. Akibatnya yang timbul justru rasa tidak pantas bahagia. JK Rowling dengan jenius menciptakan tokoh Dementor dalam serial super terkenal Harry Potter untuk menganalogikan hal tersebut. Dementor melumpuhkan calon korbannya dengan menghisap harapan dan kebahagiaan mereka. Pengalaman paling buruk dari korban dimunculkan dengan tujuan mematahkan semangat hidup mereka, agar mereka mati pelan-pelan. Mengapa kebahagiaan? Karena harapan dan kebahagiaan sesungguhnya adalah daya hidup yang maha dahsyat.

Beberapa orang lainnya, alih-alih memelihara dementor, memilih secara sadar memberi tempat pada pengalaman buruk dalam kehidupan mereka. Mereka paham bahwa kemarahan atau penyangkalan hanya membuat pengalaman tersebut makin kerap muncul di ingatan. Oleh karenanya mereka berlatih perlahan-lahan mengurangi, menghilangkan atau mengubah makna yang dilekatkan pada pengalaman tersebut. Seperti aku yang belajar untuk menghilangkan makna akan masa lalu pada rumah yang sempat kutinggali. Ya aku pernah tinggal di rumah itu. Ya ada pengalaman buruk di sana. Tetapi saat ini, rumah itu hanyalah sebuah rumah, sama seperti rumah-rumah lainnya.

Menurutku, setiap penyintas mengalami proses yang kurang lebih sama. Mereka tak akan disebut penyintas jika masih memelihara dendam dan trauma. Apalagi penyintas yang berani ‘keluar’ dari persembunyian, dan merelakan rahasia yang tersimpan rapat menjadi sebuah cerita bersama demi agar orang lain tidak mengalami hal yang sama. Buat saya mereka adalah pribadi-pribadi perkasa yang berhasil mengubah makna dari gelap menjadi terang.

Jika kemudian ada orang yang mengatakan hal semacam; aib kok diumbar, atau mengatai para penyintas sebagai ‘sok hebat’, atau sekedar cari simpati dengan bermain peran sebagai korban, aku yakin pasti ada banyak dementor hidup dalam kepala mereka.

2012-2017

The Dirty Game

Kamu dimana? Aku jemput ya? Bales, dong!

Please, telpon nggak diangkat, sms dan WA nggak dibales. Gimana, sih? Kok aku jadi merasa dibohongi?

 Aku menuntut hak jawab, aku pengen tahu kenapa kamu nggak angkat telponku, kenapa nggak bales sms atau WA-ku?

Kampret! Mengganggu saja. Hape terpaksa saya matikan setelah meninggalkan pesan ke orang rumah bahwa saya sementara tidak bisa dihubungi, lalu saya benamkan dalam-dalam ke tas jinjing. Mau hak angket, mau hak pilih, hak jawab, atau apapun itu, saya tidak peduli. Memangnya dia siapa? Saya bersungut-sungut, sudah terlanjur kesal. Orang waras ya mestinya mengerti, kalau pesan yang beruntun tidak dibalas dan telpon ratusan kali tidak diangkat, berarti memang si empunya nomor tidak mau menjawab. Gitu saja, kok, repot. Kembali tas saya rogoh, meraih telpon genggam, lalu mem-block nomor satu itu. Saya tersenyum. Puas.

Si penuntut hak jawab ini, laki-laki yang merasa dibohongi ini, sudah saya tegaskan dengan setegas-tegasnya bahwa saya tidak tertarik untuk menjalani hubungan dengan pria beristri. “Kenapa?” tanyanya.

“ Terlalu rumit” jawab saya singkat tanpa perlu panjang lebar menjelaskan sebab musabab mengapa saya tak akan pernah tahan jadi perempuan kedua. Perempuan manapun yang mandiri dan merdeka baik secara pikiran maupun ekonomi pastilah berpikir seribu kali untuk mau jadi simpanan yang sosoknya tak pernah kelihatan karena melulu disembunyikan (namanya juga simpanan).

“ Kalau begitu kita berteman ya?” tanyanya.

Duh, berteman? Mana ada yang begitu? Tapi supaya tidak berpanjang-panjang saya menganggukkan kepala saja. Yang penting selesai. Dan benar, kan, mana ada orang berteman menelpon dan mengirim pesan beruntun begini? Apalagi sampai merasa dibohongi plus menuntut hak jawab pula.

“ Makanya, kamu jangan iya-iya saja “ tegur kawan yang saya mintai pendapat.“ Halah, kayak tidak tahu saja lelaki macam begitu. Kalau aku tolak dia pasti tanya kenapa. Lalu kalau kujelaskan, aku pasti didebat. Kan, cuma berteman. Nah ini kalau benar berteman kenapa harus maksa begini?” jawab saya kesal. “ Lagian laki-laki itu, kalau perempuan jawab ‘tidak’ dikira ‘iya’!”     Teman saya nyengir. Karena dia juga laki-laki.

Sudah berkali-kali saya mengeluhkan soal beberapa laki-laki beristri yang mendekati dengan berbagai cara. Tujuannya sama, mengajak berselingkuh. Awalnya saya tidak terlalu ambil pusing. Cuek saja. Namun bagi sebagian laki-laki, sikap cuek dianggap ‘menantang’ alias semacam kode ingin untuk ditaklukkan. Lalu mereka jadi semakin agresif, cara-cara yang digunakan mulai dari level mengganggu sampai memuakkan.

Aku ingin memenuhi kebutuhan yang istriku tidak bisa penuhi. Jangan salah, istriku cantik dan seksi, lho, tapi ada hal-hal yang aku perlu dapatkan dari orang lain dan kurasa itu bisa kudapatkan darimu.”

Yah, semua orang tahu termasuk istriku kalau fitrah laki-laki memang tidak cukup dengan satu perempuan, kan? Itu sebabnya aku mesti punya perempuan lain selain istriku, karena itu kebutuhan. Tapi dia menolak dipoligami, jadi, ya, maaf aku tidak bisa mengambilmu sebagai istri.”

Aku terbayang wajahmu terus. Kamu kok, dingin banget, sih? Semalam aku bercinta dengan istriku membayangkan kamu, lho.”

Nada bangga yang tidak ditutup-tutupi, keyakinan penuh dan kepercayaan diri bahwa yang mereka lakukan tidak salah sungguh membuat saya bingung antara ingin muntah atau menghantamkan kursi kayu ke kepala mereka. Apalagi ketika si istri meng-upload foto mereka beserta anak-anak dengan caption ‘Selamat Hari Ayah, terimakasih telah menjadi suami dan ayah teladan. We love you, Ayah…’. Beuh, perut saya langsung mulas.

Teman lain, yang juga laki-laki, berkomentar dengan suara ketus. Entah karena dia bosan dengan keluhanku atau karena dia malu dengan kelakuan kaumnya.

“Para laki-laki itu, kan, penganut aliran ‘kuno’ yang menganggap laki-laki lebih superior daripada perempuan. Ngomong kayak gitu sebenarnya melecehkan dua belah pihak, si istri dan si perempuan yang diajak berselingkuh. Kalau memang sudah tidak suka pada istri, ya sudah, ngapain masih kontak seksual. Pakai bilang membayangkan dirimu segala. Omong kosong.”

“ Iya, brutal “ sahut saya berapi-api, marah.

It’s all about power and money game. You know that! ”pungkasnya.

Saya sebenarnya tidak benar-benar paham. Saya bertanya-tanya terus kenapa ada lelaki yang tega mengkhianati istri yang sudah mendampinginya bertahun-tahun. Oke, mungkin rasa cinta pudar seiring waktu, tetapi apakah perjuangan bersama membesarkan anak-anak, jatuh bangun membangun rumah tangga, juga hilang begitu saja? Lalu soal komitmen bagaimana ? Saya juga bertanya-tanya, sungguhkah para istri ini benar-benar tidak tahu kelakuan suami mereka di luar sana, atau dengan siapa para suami ber-sms atau WA berjam-jam sampai jauh malam? Tidakkah mereka bertanya-tanya? Apa mungkin itu dilakukan di WC sambil jongkok dengan dengan alasan diare?

“ Jangan salahkan para istri,” kata seorang sahabat perempuan, “yang salah ya si suami. Itu tanggung jawabnya untuk menjaga pernikahan. Lagipula, mungkin di depan istrinya citranya luar biasa baik.”

“ Masak nggak mencium sedikit gelagat bejatnya?” protes saya.

“ Ya, nggaklah, cuma depan kamu atau selingkuhannya dia bejat. Depan istrinya dia alim. ”

Saya tetap tidak terima. Masak, sih, bertahun-tahun hidup bersama tetap nggak tahu aslinya? Tapi saya tidak berani mendebat sahabat saya itu, pertama karena saya tidak paham soal hidup dalam pernikahan, kedua karena saya tidak punya argumen untuk mendebatnya. Terus terang, pengetahuan tentang pernikahan dan perselingkuhan saya terbatas. Ini yang justru membuat penasaran dan ingin mencari tahu.

Ada dua versi ketika bicara soal pihak yang patut disalahkan dalam perselingkuhan. Versi pertama, yang menjadi tersangka adalah perempuan yang menerima ajakan berselingkuh. Dengan argumen perselingkuhan tidak akan terjadi jika si perempuan menolak mentah-mentah ajakan si lelaki beristri. Versi kedua, yang bertanggung jawab terhadap terjadinya perselingkuhan adalah suami dan istri, karena kedua pihaklah yang terlibat dalam pernikahan, sehingga kedua belah pihaklah yang punya tugas menjaga keutuhan dan ketahanannya. ‘Perempuan lain’ tadi ya cuma pihak ketiga, kehadirannya bisa dieliminasi total dengan mudah (jika mau dan mampu).

Dengan segala keterbatasan pengetahuan, versi kedua saya rasa lebih fair. Versi pertama selain terlampau menyudutkan perempuan (tanggung jawab laki-laki dimana?), juga terkesan ‘meremehkan’ kemampuan sebuah rumah tangga untuk bertahan. Gampang betul dimasuki pihak ketiga. Tapi memang sebab musabab sebuah perselingkuhan terjadi sangat rumit dan kompleks karena hal yang menyebabkan pernikahan langgeng juga multifaktor. Ketika komitmen hanya dianggap sebatas ‘sepanjang istri tidak tahu’ alias main aman, atau ketaatan pada perintah Tuhan hanya disimbolkan dengan hitamnya jidat yang merupakan perlambang kekhusukan menjalankan ibadah ya repot.

Ada sebuah artikel di majalah online, judulnya I am The Woman Sleeping With Your Man. Si penulis menuliskan pengalamannya pacaran dengan laki-laki beristri. Bagian yang buat saya menarik adalah,

What never ceases to surprise me is how many guys are so willing to cheat. These aren’t “players” that I go for. They’re not Jersey Shore guys who will sleep with anything that moves — they’re just normal men who love their girlfriends but, for some reason, take only the tiniest of pushes to enter the realm of infidelity.

 ….Betapa para lelaki ‘baik-baik’ ini amat bersedia untuk berselingkuh. Hanyaperlu seupil dorongan untuk membuat mereka masuk dalam dunia ketidaksetiaan.

Soal-soal perselingkuhan selalu ramai menuai tanggapan masyarakat. Lihat saja di media sosial, berita atau tulisan tentang perselingkuhan secara berkala beredar dan hampir selalu viral. Di instagram, saya menemukan gerakan anti pelakor, salah satunya dengan mengunggah foto bersama pasangan disertai tagar anti pelakor dan anti Mayangsari. (Memangnya generasi milenial tahu siapa Mayangsari? Fyi, ia biduan cantik dengan suara melengking yang ngetop di era ’90 an). Plus ketika melihat foto-foto tersebut saya membatin, kok yakin suami sedang tidak berselingkuh? Lalu kenapa anti Mayangsari? Ya karena dia simbol pelakor. Yang viral lainnya adalah surat dari seorang Mbak kepada selingkuhan suaminya (yang sudah jadi mantan). Begitu viralnya sampai tercetus ide untuk membuat gerakan dan komunitas untuk membela Mbak-Mbak yang diselingkuhi. Sebenarnya saya penasaran berharap ada part II, menunggu surat senada tapi untuk suami. Kira-kira apa ya isinya?

Sebagai perempuan yang beberapa kali mendapat ‘undangan’ untuk berselingkuh, saya ingin mengajukan usul kepada anggota gerakan anti pelakor. Pertama, saya usul agar ada gerakan anti lelaki ganjen (#antilanjen), atau anti lelaki peselingkuh, atau supaya lebih catchy bisa dibuat tagar anti obral sperma. Supaya imbang upaya untuk menyetop perselingkuhan dari pihak laki-laki maupun perempuan. Seperti saya ini, sudah tidak membalas sms atau telpon, sampai memblok no telpon, eh masih saja coba dihubungi dengan nomor berganti-ganti. Pakai menuntut hak jawab pula. Ini, sih, sudah teror namanya. Kan saya berhak dibela dan dilindungi juga.

Usul saya yang kedua, bagaimana kalau anggota gerakan anti perselingkuhan membuat pelatihan deteksi dini pasangan (suami) yang berselingkuh supaya tidak baru ketahuan setelah tujuh tahun? Atau membuat pelatihan pemberdayaan istri agar percaya diri dan berani dalam menuntut tanggung jawab suami yang berselingkuh atau menunjukkan tanda-tanda berselingkuh? Sebab ada istri yang diam meski tahu suaminya berselingkuh karena takut kehilangan nafkah finansial. Atau bahkan membuat program-program advokasi, misalnya kemungkinan membawa ke pengadilan suami dan selingkuhannya dengan bekal foto-foto yang diupload di medsos. Memang tidak salah mengharap dukungan dari masyarakat dengan balik menyebarkan keganjenan mereka di medsos, tapi lebih ciamik menurut saya jika sekalian dibawa ke ranah hukum saja. Supaya menimbulkan efek jera. Perlu juga pelatihan tentang bagaimana menguatkan diri di dalam pernikahan sehingga suami tidak berani macam-macam. Seperti teman saya yang bilang begini,

“ Aku tidak bisa terus-terusan mengawasi suamiku, tapi dia sudah kuultimatum dari awal menikah. Kalau sampai ketahuan selingkuh, jangan harap dia bisa ketemu anak-anak.”

Yang ini saya dukung dan setuju sekali.

Perselingkuhan memang permainan yang mendebarkan, but it’s really really a dirty game. Karena pada akhirnya ini semata soal selangkangan (kata teman saya).

 

 

Keterangan:

Pelakor = perebut laki orang

http://www.goodhousekeeping.com/life/relationships/a43503/other-woman-confession-cheating-stories/

 

Kepada Para Lelaki yang Sok Gawat

Gawat. Ada 230 ribu janda baru di Indonesia sepanjang 2016.

Itu status teman di media sosial. Dosen di sebuah PTN ternama di Pulau Jawa. Saya cuma mbatin, asyuuu … abad kegelapan kok ndak selesai-selesai. Para lelaki yang sok gawat itu kok nggak berkurang juga jumlahnya.

Bukan apa-apa, saya juga janda. Mangkel karena konotasi negatif yang melekat pada status janda tidak ada habis-habisnya. Berkali-kali dijadikan bahan guyonan. Mulai dari level obrolan warung kopi sampai guyonan yang disampaikan di seminar ilmiah. Mungkin dengan membawa-bawa cerita soal janda, si pembicara berharap bisa lebih menarik simpati pemirsa. Apalagi kalau kemudian setelahnya terdengar gelak tawa panjang membahana. Semacam sudah jadi hebat dan keren dengan mengeksploitasi status orang lain.

Meskipun demikian, demi keadilan bagi para lelaki yang sok gawat ini, biarlah saya mencoba menelaah lebih dalam, mengapa dengan bertambahnya 230 ribu janda ini dianggapnya sangat mengancam.

Takut menjadi beban nasional? Jangan khawatir, banyak dari kami yang sangat mandiri. Bahkan sejak masih dalam status pernikahan pun sudah punya penghasilan jauh melebihi suami. Atau bahkan menjadi pencari nafkah tunggal dalam keluarga. Nah, bisa jadi justru inilah yang menjadi penyebab perpisahan. Suami kadung jadi pemalas, semacam lintah pengisap yang bisanya cuma nebeng hidup doang. Istri banting tulang sementara suami cuma ongkang-ongkang kaki di rumah. Siapa yang tak gerah?

Lalu, gawatnya apa dong? Sampai di mana-mana kami berada, selalu ada telunjuk dan bisik-bisik yang mengarah kepada kami disertai ucapan, “Hati-hati, lho, dia janda!”

Wuih.

Oh, takut tergoda, ya? Kenapa? Karena dipikirnya kami luar biasa kesepian? Waduh, kami ini sehari-hari sudah luar biasa sibuk dengan pekerjaan dan anak-anak. Tiap hari sudah terlampau lelah bahkan sekedar berpikir untuk melakukan hal-hal yang nyerempet-nyerempet.

Kalau ada hari libur sedikit, ya, kami pakai jalan-jalan dengan anak-anaklah. Ingat, ya, sekarang kami bebas. Jadi kami bisa melakukan apa saja. Termasuk yang kalian larang-larang dulu. Sekarang kami bebas rumpi-rumpi di warung kopi sehabis jam kantor atau lari-lari cantik di car free day tiap hari Minggu tanpa perlu merasa sungkan karena di rumah belum ada masakan yang matang. Lagian siapa pula yang akan melirik om-om berperut gendut macam kalian itu, wahai para pria yang sok gawat. Mending menggaet berondong.

Stigma yang dilekatkan pada kami, para janda, benar-benar merugikan. Semacam kami ini warga negara kelas dua, momok masyarakat. Dilecehkan para suami, dimusuhi para istri.Para istri takut setengah mati suaminya jatuh dalam godaan kami. Please, deh, hal tersebut justru menunjukkan rasa tidak aman Anda-Anda semua, Sista. Di lubuk hati terdalam, Anda menyadari betapa rendahnya kemampuan kendali diri para suami Anda. Alih-alih mengultimatum para suami, atau mengikat mereka kencang-kencang supaya tidak terus-menerus mengejar-ngejar kami, Anda malah memusuhi kami.

Ya benar, sih, ada juga beberapa dari kami yang jadi simpanan laki-laki beristri. Tapi, untuk menjadi simpanan, kan, tidak melulu mereka yang berstatus janda. Yang masih lajang atau berstatus istri orang juga ada yang menjadi simpanan. Jadi itu soal personal masing-masing. Kerugian lainnya, beberapa dari kami tidak mendapatkan pekerjaan atau promosi karena status jandanya. Padahal entah apa hubungan antara status janda dengan performa kerja.

Lalu soal kami jablay (duh, maafkeun kalau istilah ini jadul sekali). Itu, sih, lebih karena otak kalian para lelaki melulu soal selangkangan. Kalau kemudian banyak yang tertarik sampai di level keblinger pada kami karena kami matang, cantik, dan mandiri, siapa yang bisa disalahkan?

Pengalaman hidup kami yang pahit dan sulitlah yang membuat kami matang dan nampak menarik; yang membuat kami di mata kalian, wahai para lelaki yang sok gawat, tampak misterius dan sulit didekati. Sayangnya, kalau kami tak tampak tertarik, kalian menganggapnya jual mahal, jinak-jinak merpati. Kalau kami membalas keramahan kalian, kami dianggap murahan. Justru karena kami sudah kenyang pengalaman menghadapi lelaki yang sok gawat macam kalianlah yang membuat kami berpikir sejuta kali untuk pasang lampu hijau. Jangan sampai kami jatuh ke lubang yang sama.

Tapi, jangan-jangan kalian sebenarnya memiliki perasaan yang kompleks pada pada kami, campuran antara takut dan iri? Para lelaki gemas karena kami terlalu mandiri, sementara para istri iri setengah mati karena kami punya kebebasan yang tak mereka miliki.

Ah, saya kok belum menemukan alasan yang kuat kenapa Anda semua harus sok gawat. Atau karena kalian mengidap messiah complex, wahai para lelaki yang sok gawat? Ingin menjadi penyelamat tapi tidak sadar, justru kalianlah yang sebenarnya perlu menyelamatkan diri dari kebiasaan mendompleng status kami. Mulai dari tema obrolan warung kopi sampai pembuktian jati diri.

Ini baru gawat.

Ket: Artikel ini dimuat di Mojok tanggal 11 Januari 2017

Mojok.co tutup per tanggal 28 Maret 2017

RIP Mojok

Belajar Tega: Pekerjaan Tersulit Orang Tua

IMG_20160815_161647

Kalau saya mati, apakah anak-anak akan bisa bertahan sendiri?

Bukannya saya berharap cepat-cepat mati, hanya saja pertanyaan itu memang berkali-kali saya tujukan pada diri sendiri. Lama-lama lalu menjadi patokan seperti apa saya mesti mengasuh anak-anak karena kalau bicara soal parenting/pengasuhan, teori dan tipsnya banyak sekali. Kalau tidak kritis dan berhati-hati, justru akan menimbulkan keraguan terhadap kemampuan saya sendiri. Pakar A bilang X, pakar B mengatakan yang benar adalah Y, eh, pakar C menyarankan sesuatu yang berkebalikan dari pakar A dan B. Lalu saya mesti mengikuti yang mana? Jangan-jangan yang saya praktekkan selama ini salah semuanya. Sebab saya menyadari rasa cinta pada anak bisa membuat orang tua buta.

Saya percaya, tugas utama sebagai orang tua adalah menyiapkan anak-anak untuk suatu saat berpisah dari kita. Sederhana saja, karena kita bukan makhluk abadi. Nah ketika saat itu tiba, sudahkah mereka siap? Kita bekerja keras agar kebutuhan anak akan makanan sehat, kehidupan layak dan pendidikan tercukupi. Tapi ketiga hal tersebut saja tidak cukup. Kita ingin melihat anak-anak bisa mandiri dan bertanggung jawab pada kehidupannya sendiri. Dan ini tidak mudah, sebab secara alamiah orang tua manapun ingin agar anaknya aman dan sejahtera, tak perlu merasakan susah, sakit, kecewa, apalagi gagal. Kalau perlu dan bisa, orang tua saja yang menanggung semuanya.

Saya misalnya, selalu khawatir akan dampak perbedaan struktur keluarga kami dengan lazimnya keluarga di masyarakat. Stigma masyarakat terhadap anak-anak yang diasuh dalam keluarga dengan orang tua tunggal cenderung negatif. Akibatnya saya jadi ekstra melindungi anak-anak. Jangan sampai mereka sakit hati atau kecil hati. Saya pastikan mereka kekurangan apa pun, baik materi maupun kasih sayang, dan saya pasti pasang badan jika ada yang coba-coba menyakiti anak-anak. Kenyataannya, pertama, memang demikianlah kondisi kami, saya menjadi ibu sekaligus ayah bagi anak-anak. Kedua, saya tidak bisa mengontrol apa saja yang akan mereka hadapi di luar rumah. Yang membuat saya terkejut, anak-anak ternyata paham bahwa hal-hal tertentu bisa membuat saya super khawatir dan kesal. Contohnya, belakangan baru saya tahu kalau ada beberapa kerabat yang iseng bertanya kepada anak-anak mengapa ibu mereka tidak menikah lagi. Itu, kan, tidak pantas ditanyakan pada anak-anak. Tapi Kirana memilih tidak menceritakannya kepada saya. Ketika akhirnya saya tahu dan menanyakan soal itu, ia menjawab enteng, “Karena pertanyaan itu tidak penting.” Pesan yang ingin dia sampaikan jelas; itu tidak penting jadi ibu nggak usah lebay. Titik. Saya tertohok, jangan-jangan usaha melindungi anak-anak ini sebenarnya adalah upaya untuk melindungi ego saya sendiri dari rasa bersalah.

Saya ingat, ketika saya kembali ke rumah orang tua, Bapak dan Ibu bersedia membantu mengasuh anak-anak agar saya tetap bisa bekerja. Dulu kalau saya capek setengah mati bekerja dan mengasuh anak, saya ingin sekali mendengar agar Bapak menyuruh saya berhenti bekerja saja. Meskipun kami tidak kaya, saya tahu kondisi keuangan Bapak dan Ibu masih mampu untuk membiayai kami semua. Tapi Bapak tidak pernah mengatakan itu, malah mendorong agar saya bekerja keras dan tekun. Mungkin Bapak dan Ibu juga tidak tega, tapi sepanjang saya tinggal dan makan minum gratis di rumah mereka, Bapak tidak pernah sekalipun mengangsurkan uang dan berkata, “ Ini untuk beli susu anak-anak”. Tidak pernah. Paling banter Bapak tanya apakah saya masih punya uang pegangan, dan saya terlalu malu untuk mengatakan ‘habis’ atau ‘tidak ada’. Waktu itu sekuat tenaga saya pastikan agar selalu ada dana untuk membeli susu serta kebutuhan pokok anak-anak dan apabila memerlukan pergi ke dokter sewaktu-waktu. Parameter kecukupan dan kemandirian saya sebagai orang tua adalah adalah dana cukup setiap bulan untuk membeli susu. Jangan salah, susu formula bisa luar biasa mahalnya. Bapak dan Ibu sangat menyayangi anak-anak, tapi dari cara beliau berdua memperlakukan saya menyiratkan pesan yang jelas. Ini pilihan hidup saya, jadi saya harus bertanggung jawab.

Didikan Bapak dan Ibu baru bisa saya ambil hikmahnya sekarang. Hikmah pertama, saya tidak takut untuk tinggal bertiga saja dengan anak-anak. Saya percaya akan kekuatan saya untuk membesarkan mereka. Bahwa saya mampu dan jika saya berusaha pasti ada jalan. Kedua, Bapak dan Ibu bisa menjalani hari tuanya dengan tenang tanpa diberati pikiran apakah anak dan cucunya bisa makan hari ini atau tidak. Sekarang mereka bisa melepas saya dan anak-anak untuk hidup mandiri dengan lega. Saya tak dapat membalas kasih sayang orang tua, apalagi memberikan ini dan itu. Tapi setidaknya ketika saya tahu Bapak dan Ibu tidak terbebani oleh kami, saya juga bisa menjalani hidup dengan tenang.

Belajar dari bagaimana saya diperlakukan, saya menyadari bahwa pekerjaan tersulit orang tua adalah belajar tega. Siapa yang suka melihat anak kesusahan? Siapa yang tega melihat anak terpuruk akibat dihantam kegagalan? Tapi kapan hidup itu mulus dan baik-baik saja? Ketika anak-anak masih kecil, saya bisa mengatur lingkungan mereka. Tapi ketika kelak mereka harus berhadapan dengan dunia, saya tak bisa lagi bahkan untuk sekedar menebak siapa yang akan mereka temui dan apa yang akan mereka hadapi. Yang bisa saya lakukan adalah membantu mereka menyiapkan jangkar yang kuat dalam diri masing-masing, agar tidak terombang-ambing dan terhanyut kesana kemari. Ini pekerjaan berat dan tidak bisa dilakukan sekali dan sekaligus. Perlu kerja keras dan mesti dicicil dari sekarang. Seperti kata teman saya, kalau menginginkan hasil yang bagus, menanamnya dengan mesti bersabar*. Termasuk bersabar menjadi saksi jatuh bangunnya mereka.

Saya tahu saya pasti akan tetap membuka pintu rumah jika sekali waktu mereka ingin pulang dan beristirahat. Namun jika mereka sudah pulih, mereka harus memulai perjalanan lagi. Gagal dan melakukan kesalahan itu tidak apa-apa, tetapi menjadi pecundang dan melempar tanggung jawab pada segala sesuatu selain dirinya sungguh tak bermartabat. Macam anak yang terhenti perkembangan psikologisnya di usia empat tahun, ketika tak diajak bermain teman lalu pulang dan mengadu pada mama papa. Sayangnya di usia lima puluhan, empat puluhan, tiga puluhan, kebiasaan itu akan diteruskan. Dan masih banyak mama papa yang membiarkan saja anaknya pulang mencari perlindungan dan melepas tanggung jawab pada diri sendiri. Lupa kalau besok mereka mungkin sudah tak ada di dunia dan tak lagi bisa memberikan perlindungan.

 

* dikutip dari status Facebook di linimasa Duma Rachmat