RUMAH

Rumah

Waktu itu siang hari, berbekal motor pinjaman, kami menyusuri jalanan berdebu di sepanjang kompleks perumahan.

“ Itu, ada belokan ke kanan di depan, belok di sana“ kataku memberi aba-aba pada kawan yang mengendarai motor, “ Nah, kayaknya bener ini jalannya. Rumahnya di ujung sebelah kanan.”

“ Jangan kenceng-kenceng, pelan saja.”

Aku sibuk menoleh kanan kiri melihat rumah demi rumah yang kami lewati. Aku tidak ingat apakah rumah-rumah ini bentuknya masih sama atau sudah berbeda. Yang kuingat, lebar jalan di blok ini tak berubah

“ Ini?” kata kawanku menghentikan laju motor di depan sebuah rumah

Tiba-tiba aku panik. Takut ada yang melihat kami.

“ Eh, eh, jangan berhenti. Nanti ada orang tanya.”

Kawanku bingung, “Katanya mau lihat?!”

“ Jalan, ayo jalan…” aku menepuk punggungnya tak sabar.

Sepeda motor melaju lagi. “ Ini kemana?” tanyanya ketika sampai di pertigaan.

“ Ke kiri. Lurus saja. ”

Diam-diam aku melirik ke rumah itu. Kosong tak terawat. Jalanan di sepanjang rumah juga lengang. Rumah-rumah lain tertutup pintunya, seperti tak berpenghuni. Aku sedikit lega.

“ Eh, putar balik lagi ya kita? Maaf, tadi aku gugup. Belum sempat lihat.”

Kawanku tak menyahut. Ia sudah mengantisipasi bahwa aku akan cerewet dan gugup. Aku sudah menerangkannya kemarin ketika meminta bantuannya untuk mengantarkanku ke rumah itu. Aku mewanti-wanti, meminta khusus padanya untuk tetap  tenang  terlebih jika aku yang menjadi panik.

Mendekati rumah itu lagi, tanpa diberitahu, kawanku memelankan laju motor . Seperti yang kulihat tadi, rumah itu kosong, nampaknya sudah lama tak berpenghuni. Pintu-pintu dan jendela terbuka lebar,  kita bisa dengan leluasa melihat bagian dalam rumah. Halaman rumah dipenuhi ilalang dan semak. Cat temboknya memudar dan mengelupas di sana-sini.

Tiba di ujung jalan, motor diputar balik sekali lagi. Aku teringat pasangan muda yang tinggal di sebelah rumah. Terakhir bertemu si istri tengah mengandung bayi pertama mereka. Kemana mereka sekarang? Apakah masih tinggal di sana?

“Balik lagi, nih?” tanya kawanku, ketika sekali lagi kami sampai di ujung jalan satunya. Motor sudah siap-siap diputar.

Nggak usah. Sudah cukup. Yuk, pulang.”

Gitu aja?” tanyanya kaget.

“ Terus mau diapakan? Masak mau dimasukkan kantong dan dibawa pulang?”

“ Ya… siapa tahu mau nostalgia” jawabnya.

“ Nostalgia apanya! Nanti kita ditangkap satpam kompleks ini, lho, dikira mau nyulik anak kecil. Dari tadi mondar-mandir di jalanan yang sama “

Kawanku nyengir. Lalu kami kembali menuju jalan utama dan keluar dari kompleks perumahan tersebut.

“ Rumah-rumah di kompleks tadi nggak banyak yang berubah ya, “ aku bergumam sendiri. “ Sayang sekali rumahnya tidak terawat, padahal ukurannya cukup besar. Mungkin tidak ada yang tinggal di sana setelah kami.”

“ Mungkin jarang orang mau tinggal di sana. Jauh dari mana-mana. Angkutan umum pun tidak ada yang lewat “ sahut temanku.

Iya, benar. Lokasi rumah itu memang kurang strategis. Jauh dari mana-mana. Tujuh tahun lalu kami memilihnya karena biaya sewa rumah itu terjangkau oleh kondisi keuangan kami waktu itu dan cukup dekat dengan sekolah tempatku mengajar. Meski tak bisa juga dicapai dengan berjalan kaki.

Yang kuingat, apa yang kami inginkan saat itu adalah ketenangan. Hidup mandiri jauh dari tuntutan dan tekanan serta membesarkan putra kami dengan baik. Namun, tenang dan sepi nampaknya beda tipis. Suasana sekitar rumah yang sepi membuatku merasa sangat sendirian, terlebih karena aku harus banyak mengkompromikan nilai-nilai yang kuanut selama ini agar rumah tangga kami bisa bertahan. Sampai ketika pada akhirnya aku mulai merasa tidak aman di rumahku sendiri, dan harus memutuskan cepat atau lambat rumah ini harus ditinggalkan demi keselamatanku dan anakku.

Sepeda motor melaju dengan kecepatan sedang. Aku memberitahu arah yang mesti dituju sambil mengingat-ingat beberapa area yang kami lewati sepanjang jalan. Sebagian persawahan sudah berubah menjadi bangunan. Namun parit dengan air yang mengalir di sepanjang tepian jalan, masih ada. Dan tentu saja, tanpa perlu susah-susah diundang, kenangan terakhir tentang jalan ini muncul kembali. Di pelupuk mataku, dua sepeda motor, satu sepeda motor besar laki-laki dan satu sepeda motor bebek, melaju kencang, seperti sedang balapan. Sayangnya ini bukan balapan karena di atas sepeda motor bebek, perempuan hamil tanpa alas kaki mengendarai motornya dengan kencang sambil menjerit-jerit minta tolong. Tak jauh di belakangnya, sepeda motor besar yang dikendarai seorang laki-laki juga melaju kencang mengejar, seperti kesetanan.  Orang-orang yang kebetulan berdiri di halaman atau di tepi jalan serta merta menghentikan kegiatan. Teriakan kencang minta tolong  jelas menarik perhatian mereka. Tapi orang-orang tidak bisa apa-apa. Laju kedua motor terlalu kencang.

***

Sepeda motor yang kami kendarai berbelok di tikungan. Aku mengernyit tersadar,  lega bahwa  horor itu sudah lama berlalu. Aku ingat, setelah kejadian itu, aku hanya pulang sekali lagi ke rumah. Aku datang bersama adikku beberapa hari kemudian dan mendapati hampir seluruh isi rumah sudah tidak ada. Yang tersisa hanya pakaianku dan tape recorder yang kumiliki sejak masa kuliah . Bahkan koleksi buku-buku yang kubeli dengan susah payah pun lenyap semua. Kata tetangga, beberapa hari sebelumnya, sebuah truk besar datang mengangkut seluruh perabot dan barang.

Malamnya, sekembali dari menikmati angkringan berombongan dengan kawan-kawan, aku merenungkan lagi perjalanan tadi siang. Sebenarnya aku ke Jogja untuk urusan data penelitian. Ada beberapa narasumber yang harus kutemui, jadi aku harus tinggal di sini beberapa hari. Butuh bertahun-tahun untuk bisa kembali menikmati Jogja dan memandangnya dengan fair tanpa harus terus memberinya label ‘kota masa lalu yang harus dihindari’. Butuh keteguhan dan tekad untuk berkata pada diri sendiri bahwa yang lalu, ya, sudah biarkan menjadi masa lalu. Tak perlu terus menerus menghidupkannya dalam otak dan pikiran. Itu pula mengapa aku memutuskan untuk kembali ke rumah tempat kami sempat tinggal tujuh tahun yang lalu. Harus ada closure. Penutupan. Penghabisan.

Manusia umumnya memiliki dua pilihan respon ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak disukai. Kabur (flight) atau dihadapi (fight). Aku menggunakannya bergantian. Aku menghadapi tanggung jawab dan kewajibanku atas anak-anak. Aku mendidik dan membesarkan mereka dengan sungguh-sungguh. Tapi aku menolak mengingat lagi apa yang pernah terjadi. Aku memilih kabur dari perasaan dan ingatan tentang apa yang telah terjadi. Akibatnya, seperti luka yang tak pernah menutup dan kering, perihnya muncul di saat-saat aku lengah. Sampai kemudian aku memutuskan untuk dengan sadar menghadapi hal-hal dari masa lalu yang sebelumnya kuhindari. Rasa benci, dendam dan kemarahan hanya akan memperpanjang siklus kekerasan dan negativitas. Demi kebaikanku sendiri, kuputuskan, cukuplah rasanya sampai di sini saja.

Ketika terpikir atau teringat kembali pada sesuatu yang telah berlalu, orang lain akan mengatakan, “yang lalu biarkanlah berlalu”. Apa sebenarnya maksud ungkapan itu? Bagiku ungkapan itu kurang masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang bisa melupakan begitu saja sesuatu yang penting di masa lalu, atau sesuatu yang meninggalkan kesan yang kuat dan dalam? Anehnya, ungkapan yang lalu biarlah berlalu hanya berlaku untuk hal-hal yang tidak menyenangkan atau menyedihkan, mengecewakan atau menyakitkan. Terhadap kenangan indah dan membahagiakan, justru frasa yang berlaku adalah simpanlah itu dalam kenangan. Mustahil rasanya melakukan dua hal berlawanan pada sesuatu yang sama-sama menimbulkan perasaan kuat. Bukankah pada teori tentang ingatan dan kelupaan, orang akan sulit melupakan suatu peristiwa jika peristiwa tersebut mengandung unsur emosi yang hebat?

Masalahnya, meskipun yang pernah kita alami sungguh traumatis dan tidak mengenakkan, kita harus terus hidup. Sulit, tapi hidup mesti dijalankan. Beberapa orang memilih menyimpan dan menguncinya rapat-rapat dalam kotak yang dibenamkan dalam-dalam dan jauh di bawah kesadaran. Lalu pada saat yang tak terduga melayang kembali ke permukaan dan meledak hebat. Beberapa membawanya kemana-mana, serupa vampir yang siap menghisap setiap hal positif dan kebahagiaan yang ditemui. Kebahagiaan dan kebaikan yang dijumpai selalu dihubungkan dengan trauma dan ketidakberdayaan yang pernah dialami. Akibatnya yang timbul justru rasa tidak pantas bahagia. JK Rowling dengan jenius menciptakan tokoh Dementor dalam serial super terkenal Harry Potter untuk menganalogikan hal tersebut. Dementor melumpuhkan calon korbannya dengan menghisap harapan dan kebahagiaan mereka. Pengalaman paling buruk dari korban dimunculkan dengan tujuan mematahkan semangat hidup mereka, agar mereka mati pelan-pelan. Mengapa kebahagiaan? Karena harapan dan kebahagiaan sesungguhnya adalah daya hidup yang maha dahsyat.

Beberapa orang lainnya, alih-alih memelihara dementor, memilih secara sadar memberi tempat pada pengalaman buruk dalam kehidupan mereka. Mereka paham bahwa kemarahan atau penyangkalan hanya membuat pengalaman tersebut makin kerap muncul di ingatan. Oleh karenanya mereka berlatih perlahan-lahan mengurangi, menghilangkan atau mengubah makna yang dilekatkan pada pengalaman tersebut. Seperti aku yang belajar untuk menghilangkan makna akan masa lalu pada rumah yang sempat kutinggali. Ya aku pernah tinggal di rumah itu. Ya ada pengalaman buruk di sana. Tetapi saat ini, rumah itu hanyalah sebuah rumah, sama seperti rumah-rumah lainnya.

Menurutku, setiap penyintas mengalami proses yang kurang lebih sama. Mereka tak akan disebut penyintas jika masih memelihara dendam dan trauma. Apalagi penyintas yang berani ‘keluar’ dari persembunyian, dan merelakan rahasia yang tersimpan rapat menjadi sebuah cerita bersama demi agar orang lain tidak mengalami hal yang sama. Buat saya mereka adalah pribadi-pribadi perkasa yang berhasil mengubah makna dari gelap menjadi terang.

Jika kemudian ada orang yang mengatakan hal semacam; aib kok diumbar, atau mengatai para penyintas sebagai ‘sok hebat’, atau sekedar cari simpati dengan bermain peran sebagai korban, aku yakin pasti ada banyak dementor hidup dalam kepala mereka.

2012-2017

Berpikir Ulang Tentang Stigma Broken Home

Kenyataannya, bukan hanya perempuan dengan status orang tua tunggal yang lekat dengan stigma negatif, anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga dengan orang tua tunggal juga lekat dengan julukan anak broken home. Anak-anak broken home ini divonis berpotensi mengalami berbagai masalah baik secara perilaku maupun sosial. Mengapa demikian? Sebab masyarakat masih menganggap anak-anak yang diasuh dalam keluarga dengan orang tua lengkap pasti tumbuh lebih baik daripada anak-anak yang diasuh hanya oleh salah satu orang tua. Well-being (kesejahteraan), terutama kesejahteraan psikologis anak yang diasuh oleh keluarga utuh juga pasti lebih baik daripada anak yang diasuh dalam keluarga dengan orang tua tunggal.

Padahal, tidak selalu demikian.

 

Ada tiga perspektif untuk melihat hubungan antara perpisahan orang tua dengan well-being anak. Perspektif pertama menganggap ketidakhadiran salah satu orang tua dianggap sebagai penyebab anak menjadi tidak sejahtera dan tumbuh menjadi anak bermasalah. Namun kenyataannya ada banyak kasus anak “bermasalah” meskipun tinggal dengan kedua orang tua kandung. Menariknya, riset juga mengindikasikan, pada anak-anak yang orang tuanya mengalami perpisahan, lalu menikah lagi, ternyata anak-anak yang tinggal dengan ayah/ibu tiri ini menunjukkan problem perilaku lebih banyak bukan hanya jika dibandingkan dengan anak yang kedua orang tuanya lengkap, namun juga dengan anak yang tinggal dengan orang tua tunggal.

Perspektif kedua, ketidakberuntungan ekonomi, menyoroti soal perekonomian keluarga yang berubah drastis pasca perpisahan. Setelah berpisah, ayah menelantarkan dan menolak memberikan nafkah, mengabaikan kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak, menjadi pukulan yang berat bagi ibu tunggal dan anak-anak. Apalagi jika sang ibu tidak bekerja atau bekerja dengan income yang tidak mencukupi sehingga keluarga jatuh dalam kemiskinan, ketidakberdayaan dan stres menghadapi tekanan hidup. Kasus seperti ini banyak terjadi di Indonesia. Meski aturan agama dan pengadilan sudah memutuskan ayah wajib menafkahi, namun banyak yang melenggang dan menghilang begitu saja. Sayangnya, jika ibu kemudian sibuk bekerja, masyarakat tetap saja menjadikannya sebagai alasan penyebab anak menjadi rentan ‘bermasalah’ karena tidak cukup mendapat perhatian dan pengawasan dari orang tua (ibu).

Namun sekali lagi, riset membantah hal tersebut. Pada ibu yang menikah lagi, semestinya income dan kehadiran ayah tiri menjadi solusi bagi kesejahteraan finansial dan kehadiran role model atau pengganti figur ayah. Kenyataannya ada kasus anak-anak yang orang tuanya menikah kembali dan tinggal bersama mereka, menunjukkan problem perilaku yang lebih tinggi daripada anak yang tinggal dengan orang tua tunggal (Amato dan Keith: 1991)

Perspektif ketiga melihat timbulnya masalah pada anak disebabkan oleh stres akibat menyaksikan orang tua yang berkonflik terus menerus baik pada saat pernikahan, saat proses perceraian, dan bahkan setelahnya. Anak bingung, marah, dan tertekan melihat kedua orang tuanya bersikap tidak baik dan saling menyakiti satu sama lain. Bukannya memberikan perhatian pada anak akibat perubahan yang dialami anak karena perceraian, orang tua malah menghabiskan energi untuk bertikai. Kemampuan orang tua untuk berinteraksi dengan anak juga menurun drastis akibat konflik. Padahal anak memerlukan pendampingan khusus dalam proses menerima dan memahami keputusan orang tuanya untuk berpisah.

Perspektif ketiga ini saya anggap lebih cocok untuk menjelaskan mengapa anak-anak yang tinggal dengan orang tua tunggal menjadi tidak sejahtera dan bermasalah. Bukan semata karena perubahan struktur keluarga (salah satu orang tua tidak hadir) atau perubahan ekonomi namun lebih karena dinamika interaksi antara ayah dan ibu yang penuh konflik. Coba bayangkan bagaimana perasaan anak ketika sedang bersama ibu, mendengarkan bagaimana ayah mereka dimaki dan dijelek-jelekkan. Atau sebaliknya ketika bersama ayah, ibunyalah yang menjadi bahan sumpah serapah dan disalah-salahkan. Anak menjadi target kemarahan, tempat sampah dan pengirim pesan kebencian. Mengerikan, bukan?

FB_IMG_1479499482401Rumah bukan lagi menjadi tempat yang nyaman untuk anak. Anak juga malas berdekatan dan berinteraksi dengan orang tua karena bentuk interaksi menjadi sangat negatif. Jika mereka sudah berusia pra remaja dan remaja, mereka mungkin akan memilih berada di luar rumah. Menyalurkan kemarahan dan ketidakpuasan dalam berbagai bentuk kegiatan yang tak jarang rentan terhadap bahaya. Jika mereka masih kanak-kanak, mereka akan menunjukkan perilaku agresif pada anak lain, atau sebaliknya menjadi sangat pendiam, tertutup dan menarik diri. Apalagi jika kerap menyaksikan orang tua bertikai hebat, anak-anak berpeluang merasa ketakutan sepanjang waktu dan menyalahkan diri sebagai penyebab konflik.

Jika kedua orang tua bisa bekerjasama mendahulukan kepentingan anak daripada konflik mereka sendiri, jika salah satu pihak saja bisa mengerem amarah dan ketidakpuasan mereka, maka anak bisa terhindar dari stres berat dan permasalahan perilaku yang muncul menyertai. Meskipun tidak banyak, saya melihat beberapa mantan pasangan suami istri bisa melakukan ini. Mereka sadar, mereka berpisah karena memang tidak bisa bersama-sama lagi, tetapi mereka paham betul bahwa mereka adalah tetap ayah dan ibu bagi anak-anak mereka. Meski berat di awal, tapi seiring waktu mereka dapat melakukan co-parenting dengan baik. Ada juga yang dengan sukarela menyerahkan hak asuh pada salah satu pihak, bukan karena tidak menginginkan hak asuh, tetapi karena kesadaran perebutan hak asuh hanya akan membuat anak-anak lebih menderita. Ada yang memilih menutup mulut rapat-rapat, menahan diri untuk tidak menjelekkan (mantan) pasangan meski tak pernah hadir dalam kehidupan anak. Jangankan memberi nafkah, muncul saja tidak pernah. Bukan karena ingin melindungi mantan, tetapi semata karena ingin menjaga perasaan anak. Saya mengenal seorang ayah, yang sudah bertahun-tahun tidak diijinkan berkontak dalam bentuk apapun dengan anak-anak oleh mantan istri, namun tetap rutin menyisihkan nafkah dan membayar asuransi anak-anaknya. Jangan tanya bagaimana perasaannya. Tentunya semua tindakan yang saya ilustrasikan di atas butuh kedewasaan, kekuatan dan ketegaran untuk dijalani. (https://rahayujianti.wordpress.com/2016/05/04/creating-new-images-of-family/)

Bagi para ibu yang menjadi orang tua tunggal yang masih belum bekerja atau secara finansial belum mapan, menikah lagi tidak selalu menjadi solusi. Bangun kekuatan dalam diri, gunakan energi untuk berdaya secara ekonomi, Dimana ada kemauan, pasti ada jalan. Jangan buang-buang waktu dan tenaga untuk meratapi keadaan atau marah-marah pada mantan suami. Tanpa semua itu, anak-anak akan menyaksikan sendiri segala perjuangan. Mereka akan belajar bagaimana cara bertahan di saat sulit dan berdiri di atas kaki sendiri. Hal yang sangat penting dipelajari bagi kehidupan mereka kelak. They live by your example, Dear Single Moms.

Dan, please, kepada semuanya, jangan cepat-cepat memberi stigma broken home pada anak-anak yang diasuh oleh orang tua tunggal.

 

Rujukan:

Amato, P.R., Keith.B. (1991).Parental Divorce and Adult Well-Being: A Meta Analysis.

Journal of Marriage and The Family 53. 43-45

Romansa

FB_IMG_1455949965610

Setelah menikah, sewaktu aku tengah berkunjung ke rumah orang tua bersama putra pertamaku, ia datang menjenguk. Senyumnya yang lebar, menawarkan persahabatan yang tak putus dimakan waktu. Saat ia mendengar aku berpisah dari suami dan kembali ke rumah orang tuaku, ia, sekali lagi, datang menjenguk. Kami sudah berteman lama, dan orang tuaku, terutama ibuku, senang melihat aku dikunjungi seorang teman meski keadaanku sedang tidak ideal untuk dijadikan teman. Bagaimana mau mengobrol sementara ada dua balita aktif terus menerus minta diperhatikan?

Kadek, kakak kelasku di SMA. Kami kenal baik karena sama-sama aktif menjadi anggota teater sekolah. Ketika ia setahun lebih dahulu meninggalkan sekolah dan melanjutkan kuliah ke ITB, lalu di tahun berikutnya aku kuliah ke Jogja, hubungan pertemanan kami tak pernah benar-benar putus. Kami tetap bertukar kabar melalui teman dan bertemu di reuni kecil ketika masa libur kuliah tiba. Bukan hanya dengan Kadek, tetapi juga dengan beberapa kawan teater lainnya.

Kunjungan pertama, diikuti dengan kunjungan berikutnya. Lalu berikutnya. Kadang kutemani Kadek berbincang-bincang sambil menggendong putriku. Kadang ia menemani Surya bermain dengan lego dan mobil-mobilan. Sampai kemudian, lambat laun, kami mulai pergi bertiga. Aku, Kadek dan Surya. Sekedar duduk-duduk di lapangan Puputan, kami mengobrol sambil mengawasi Surya berlari-lari kesana kemari. Atau makan bakso di warung bakso langganan, selepas jam kerja. Kadang-kadang kami pergi berdua saja, dan kadang-kadang aku diantarnya ke tempat kerja.

Lalu entah bagaimana, muncul topik pernikahan dalam percakapan kami. Tak ingat aku kapan dan siapa yang memulainya. Ia belum menikah dan aku telah kembali melajang. Kupikir sah-sah saja. Ia makin rutin datang ke rumah dan kami masih pergi bertiga, dengan Surya. Bapakku menyambut baik kedatangannya, berharap kedua cucunya memiliki ayah (lagi).

Ia laki-laki baik. Hatinya bersih. Niatnya tulus. Jika aku mengingat kembali masa-masa itu, aku terharu dengan kebaikan hati yang ditawarkannya. Ia memperlakukanku dengan baik, penuh perlindungan dan rasa hormat. Sebagai lelaki lajang yang belum pernah menikah sebelumnya, upayanya untuk mendekatkan diri dengan kedua anakku patut diacungi jempol. Sampai sekarang, Surya masih mengingatnya sebagai Om-Kadek-yang-sering-main-ke rumah-dulu. Dalam perjalanan kami, Kadek pun sempat menemaniku melewati beberapa masa sulit, termasuk saat Kirana jatuh ketika memanjat almari hias ibuku, dan harus masuk ke ruang operasi. Seharian ia menemaniku di rumah sakit. Menunjukkan bahwa ia ada, untuk kami.

Lalu entah bagaimana, seperti percakapan pernikahan yang tiba-tiba muncul, setiba-tiba itulah kami mulai berjarak. Kadek yang sederhana, tenang, dan mengalir seperti air, mulai kurasa memiliki pemikiran begitu bertolak belakang denganku. Sementara mungkin baginya, aku justru terlampau rumit untuk dipahami. Tapi jika dipikir-pikir, mana ada perempuan simpel, yang berstatus ibu tunggal, dengan dua anak dan celoteh yang tak kunjung henti tentang cita-cita dan mimpi?

Sebelum akhirnya kami berpisah, ia masih sempat mengambil cuti dari kantor dan mengantarkanku ke Singaraja untuk melengkapi persyaratan pengangkatanku sebagai dosen. Perjalanan panjang dengan sepeda motor melintasi bukit Gitgit diiringi percakapan ringan tentang masa depan kami yang tak pasti. Semua memang serba tak bisa diprediksi. Tapi Kadek, adalah pemain watak yang benar-benar mumpuni. Ia membuat percakapan masa depan terdengar seringan mungkin, seperti mensinyalkan apapun yang terjadi hari esok akan baik-baik saja.

Dan memang, pada akhirnya, semua baik-baik saja. Kami berpisah sebagai pasangan namun tidak sebagai teman. Sampai hari ini kami masih berteman baik dan kisah kami sering menjadi bahan olok-olok kawan-kawan teater yang lain. Akan tetapi, yang penting sebenarnya bukan tentang kisah cinta itu sendiri. Namun kehadiran Kadek di saat-saat aku sedang hilang kepercayaan pada hubungan tulus antara laki-laki dan perempuan. Kehadirannya dengan cara baik-baik, dan kepergiannya dengan cara yang baik pula, memberiku keyakinan bahwa masih ada laki-laki baik di luar sana. Kadek, hadir, sebagai cara Tuhan mengingatkanku untuk tidak apatis pada hubungan romantis laki-laki dan perempuan. Belakangan aku berpikir, mungkin Kadek sesungguhnya tidak pernah benar-benar jatuh cinta padaku. Mungkin ia hanya jatuh kasihan padaku dan anak-anak. Mungkin sesungguhnya kami belum siap menikah. Mungkin sesungguhnya kami tak cocok sebagai pasangan romantis. Apapun, ketulusannya membuatku selalu berterimakasih atas kehadirannya.

Kami tetap berteman baik hingga sekarang. Kadek sudah menikah dan memiliki satu putra. Aku pun melanjutkan kehidupanku. Tapi satu episode romansa itu, akan terus kusimpan dengan baik, sebaik aku menyimpan kebaya merah jambu, hadiah pemberiannya di satu masa itu, yang telah berlalu.

Dedicated to Kawan-Kawan di Grup WA Teater Angin The Absurd Generation

Stay Absurd Stay Insane

Yang penting hepi dan tidak kriminil!

 

Menghentikan Siklus Negativitas (Cukup Sampai di Aku Saja)

Cangkir teh di hadapan kami masih utuh. Sementara senja di luar mulai turun. Wajahnya yang cantik namun letih berurai air mata. Aku menatapnya, berusaha menyelami pergulatan yang tengah ia rasakan.

“ Kasihan, Arkan, Mbak. Dia nggak salah. Aku yang salah, tidak bisa menahan diri. Entah kenapa setiap menatap wajahnya aku ingat ayahnya. Ingat semua yang dia lakukan pada kami. Lalu rasa marah ini langsung muncul tiba-tiba. Bagaimana ya, Mbak, cara menghentikannya? Tiap malam aku nangis kalau ingat perbuatanku pada anakku.” Lalu sedu sedannya makin keras. Hatiku pun ikut tersayat-sayat.

Bukan yang pertama kali aku mendengar yang seperti di atas. Beberapa kali aku mendengar curhat para ibu tunggal yang pada derajat yang berbeda-beda, belummampu menghentikan kepahitan dan kemarahannya pada mantan suami pasca perceraian. Dan menurutku itu wajar. Manusiawi. Ada yang diselingkuhi berkali-kali sebelum akhirnya diceraikan, ada yang anaknya dilarikan berhari-hari sebelum dikembalikan dalam keadaan kurus dan sakit, ada yang menjalani proses perceraian yang penuh drama sebelum akhirnya putusan dijatuhkan, ada yang ditinggalkan begitu saja tanpa sebab yang jelas, pokoknya sangat menguras emosi dan tenaga.

Pasca perceraian, keadaan tidak jauh lebih baik. Keluarga besar yang diharapkan mampu memberikan dukungan tidak mau membuka pintu rumah karena menganggap nama baik keluarga telah dicemarkan. Jengah dengan pandangan mencemooh dan bisik-bisik negatif dari tetangga, keuangan yang minim, bahkan tanpa kepastian karena belum mendapat pekerjaan, sementara mantan suami menolak memberikan bantuan finansial, ditambah kecemasan anak yang akan tumbuh dewasa tanpa ayah dan hati yang masih berdarah-darah entah kapan sembuhnya.

Para ibu tunggal ini murka pada dunia yang dirasa memperlakukan mereka dengan kejam dan tidak adil. Kutukan bertubi-tubi dilayangkan pada lelaki yang kepadanya telah diserahkan hidup lalu mereka dicampakkan begitu saja. Para ibu tunggal ini bertanya dan meragukan Tuhan. Mereka marah, sangat marah pada diri sendiri. Marah karena tidak berusaha lebih keras membuat keadaan lebih baik, marah karena tidak mampu mempertahankan rumah tangga yang sudah bertahun-tahun dibina lalu luluh lantak begitu saja, marah karena semua usaha telah dikerahkan namun akhirnya sia-sia. Seandainya diri ini lebih sabar, seandainya diri ini lebih cantik, lebih bersih, lebih wangi, lebih pandai, seandainya…

Dan lalu perasaan marah berganti dengan ketakutan. Bagaimana besok? Apakah bisa bertahan sendirian? Bagaimana anak-anak? Bisakah membesarkan anak-anak sendirian? Apa kata orang nanti? Bagaimana orang memandangku dan anak-anak nanti? Bagaimana menghadapi ejekan orang-orang?

Perasaan terluka, disia-siakan, ketakutan, tak berdaya dan tak punya harapan, datang silih berganti melumpuhkan. Para ibu yang baru menyandang status orang tua tunggal ini kehabisan daya karena harus terus menerus bergulat dengan kemarahan. Rasanya diri sudah tidak mampu lagi menahankan berbagai tekanan yang datang silih berganti.

Jiwa mulai terguncang dan tidak stabil. Ketidakstabilan ini mempengaruhi hubungan ibu dengan anak. Ada saat-saat dimana sosok ibu berubah menjadi Bhatara Kala. Kejam dan tanpa sadar melampiaskan kemarahan pada anak, meskipun ia tahu itu salah. Ketidakstabilan emosi membuat kontrol diri punah. Seperti cerita di awal tulisan, pada derajat tertentu, rasa benci menggelegak hanya karena wajah anak yang begitu mirip dengan mantan. Beuh, mungkin menganggap si ibu terlalu lebay, tidak bisa mengontrol diri atau sudah tidak waras.

Tapi, jangan dulu lupa dengan kisah yang sempat menghiasi surat kabar beberapa waktu lalu. Tentang seorang ibu tunggal yang menghabisi nyawa tiga orang anaknya yang masih balita, lalu berakhir dengan membunuh dirinya sendiri akibat kesulitan ekonomi dan tekanan hidup yang dihadapinya. Atau ibu yang menyiksa anaknya karena kondisi mental yang ‘sakit’ akibat perpisahan dengan suami. (Bukan hendak menakut-nakuti, hanya ingin mengingatkan tentang fakta yang ada). Sangat mungkin saking tidak stabilnya ia akibat tekanan yang dirasakanya, si ibu masuk ke dalam kondisi depresi berat. Jika sudah depresi berat, pikiran untuk tidak melanjutkan hidup kerap terlintas. Maka, mintalah bantuan kepada ahlinya. Belajarlah meminta bantuan. Daripada menyesal kemudian.

Tak jarang, di saat malam hari ketika anak-anak sudah jatuh tertidur, wajah polosnya mengingatkan pada lontaran kemarahan yang ia terima siang tadi, membuat air mata jatuh berderai. Tapi, menangis dan menyesal saja tidak cukup. Apa yang sudah terjadi tidak bisa dihapus. Kata-kata yang sudah keluar tidak bisa kita tarik lagi. Anak-anak selalu memaafkan, kembali memeluk dan menggenggam tangan ibu keesokan pagi. Lalu sampai kapan ibu akan tetap berada pada lingkaran marah-menyesal-kehilangan kontrol diri-lalu marah lagi-lalu semakin menyesal? Demi kesehatan mental ibu dan anak, dan masa depan yang lebih damai, siklus negativitas urgen untuk dihentikan.

Aku belajar tentang pentingnya mengehentikan siklus negativitas saat menjadi peserta di sebuah seminar pengembangan profesional yang diselenggarakan untuk pendidik. Meski sebenarnya ditujukan untuk menghentikan siklus negativitas di kelas, namun bisa juga dilakukan di rumah. Intinya, pada banyak kesempatan kita tidak bisa menghindarkan diri berhadapan dengan situasi negatif atau menjadi negatif. Namun yang penting adalah bagaimana berespon sehingga dapat menghentikan siklus negativitas itu cukup sampai di diri kita saja. Tidak ‘menularkannya’ pada orang lain apalagi seluruh anggota keluarga di rumah.

Energi negatif itu menyebar, menular. Tanpa harus bertanya, kita tahu jika seseorang itu sedang marah atau sedih atau sedang tidak enak. Anak-anak pun demikian. Mereka sangat peka pada situasi batin kita. Kebencian dan kemarahan pada mantan, anak-anak juga bisa merasakannya, meski tidak kita utarakan. Apalagi jika sampai kita lampiaskan. Anak-anak akan bisa merasakan, meski mungkin belum mampu mereka ungkapkan secara jelas. Lalu mereka mulai bertanya-tanya dalam hati, mengapa ibu begitu marah pada mereka karena perbuatan ayahnya? Lalu mereka mulai merasa bahwa memang mungkin ada yang salah dari diri mereka sehingga menyebabkan ibu marah dan berduka. Lalu mereka perlahan belajar membenci diri mereka sendiri, dan membenci hidup. Lihat, kan, betapa kepahitan ibu ditiru dan diinternalisasi oleh anak tanpa sang ibu mengajarinya secara langsung?

Langkah pertama untuk menghentikan siklus negativitas adalah kesadaran dan kemauan untuk menghentikannya cukup sampai di kita (ibu) saja. Jika ingin anak-anak tumbuh dengan sehat, niatkan untuk memutus rantai siklusnya. Jika kita ingin anak-anak menjadi pribadi yang kuat dan bertanggung jawab, buat diri kita kuat terlebih dahulu dan bertanggung jawab terhadap emosi-emosi kita sendiri. Pada tulisan berikutnya akan diuraikan kiat-kiat yang dapat membantu memutus siklus negativitas, namun yang paling mudah adalah jauhkan diri lebih dahulu dari anak ketika kemarahan (energi negatif) pada mantan pasangan tiba-tiba muncul. Ciptakan pengingat agar kita bisa langsung berhenti saat bibir ini mulai akan mengomeli anak sebagai bentuk pelampiasan dari kekecewaan kita pada kondisi yang tengah kita hadapi.

Aku tahu ada seorang kawan yang selalu mengenakan karet gelang yang akan ia tarik dan lepaskan kuat-kuat sampai ia sendiri merasa kesakitan, saat ia mulai menyalah-nyalahkan diri. Jepretan karet gelang di pergelangan tangannya ia maksudkan agar ia ingat untuk berhenti. Ada juga yang akan mengguyur wajahnya berkali-kali begitu pikiran tentang mantan mulai menyeruak. Ada yang bernafas dalam-dalam, ada yang langsung ambil sepatu lari atau lari di treadmil untuk melepaskan energi marah sebelum sempat dilampiaskan pada anak. Apa saja pokoknya, asal berhenti.

Menyetop siklus negativitas hanya sampai di diri kita saja merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses healing (menyembuhkan diri). Pertama, kita belajar menyadari, dan mengakui emosi-emosi kita, meskipun itu terasa tidak menyenangkan. Kedua, pelan-pelan kita belajar menerima kehadiran emosi-emosi itu. Cobalah untuk tidak serta merta melawannya, karena semakin dilawan biasanya semakin menguat. Di titik ini sebenarnya adalah saat kita dapat melakukan transformasi diri. Kita dapat memilih respon kita. Silahkan mengguyur wajah dengan air, berdoa keras-keras, mengambil sepatu lari. Apa saja yang bisa menghindarkan diri dari melampiaskannya pada anak. Jangan menyerah pada pergulatan awal yang memang susah. Lalu rasakan dan hayati setiap perasaan menang yang hadir karena kita telah sukses memilih respon. Kalau perlu beri hadiah untuk diri sendiri. Tepuk dada keras-keras. Aku bisa! Tulis momen-momen kemenangan ini agar senantiasa segar di ingatan. Kita sedang menuju kemerdekaan diri karena kita tengah berlatih berkuasa atas respon diri kita sendiri.

Ibu tunggal yang hadir di awal cerita dan para ibu lainnya ini sadar dan ingin menghentikan siklus negativitas, meski tidak selamanya selalu berhasil. Mereka pejuang yang pemberani, sebab mereka tak gentar menghadapi musuh yang paling menakutkan, yaitu, diri mereka sendiri. Mereka mencoba dan terus mencoba setiap hari, kadang gagal, kadang berhasil, sampai suatu hari nanti benar-benar telah terbebas dan bisa menjalani kehidupan dengan lebih damai. Mereka sadar jika tidak berhenti maka siklus akan diteruskan ke anak-anak mereka lalu ke cucu dan ke cicit. Turun temurun dari satu generasi ke generasi.

FB_IMG_1465548451116

Ketika Ibu Pergi Sekolah

Waktu aku masih TK, Ibu juga sekolah lagi. Orang dewasa kok sekolah. Kan sudah kerja.. Ibu sekolahnya jauh. Di tempat yang namanya Surabaya. Nama sekolahnya Universitas Airlangga. Karena sekolah Ibu jauh sekali, Ibu tidak bisa sering pulang ketemu aku dan Kakak. Dari dulu memang aku tidak ketemu Ibu setiap hari, karena Ibu mengajar di Singaraja, sedang aku tinggal bersama Kakak dan Kakek dan Nenek dan Paman di Denpasar. Tapi Ibu pergi mengajar tidak lama. Hanya satu atau dua kali bobo di malam hari, lalu Ibu sudah pulang. Ibu sering antar atau jemput aku sekolah. Tapi sejak Ibu sekolah lagi, aku sudah bobo malam lama sekali, sampai bermalam-malam, tapi Ibu belum juga pulang. Kata Nenek itu karena sekolah Ibu memang jauh. Tapi aku, kan, ingin ketemu Ibu. Aku tahu Kakak juga kangen sama Ibu. Kalau kangen dia suka tidur lama-lama. Kakak jadi sering tidur. Dimana-mana ketiduran. Kakak sering dimarahi Kakek karena sering ketiduran di sembarang tempat. Mungkin Kakak kangen sekali sama Ibu, makanya dia sering tidur. Supaya bisa ketemu Ibu di dalam mimpi.

Ibu pulangnya tidak bisa lama-lama. Banyak PR yang harus dikerjakan, katanya. Kalau bolos tidak naik kelas. Kalau tidak naik kelas, Ibu harus pergi lebih lama lagi. Lalu aku jadi makin lama nggak bisa sama-sama Ibu. Tapi, aku nggak ingin Ibu pergi. Kalau Ibu datang di hari Jumat, lalu hari Minggu harus berangkat lagi, aku akan ikuti kemana pun Ibu pergi. Masuk keluar kamar aku ikuti. Ke dapur, ke ruang tamu, dan kalau ke kamar mandi kutunggui depan pintu. Aku nempel terus sama Ibu. Tangannya, bajunya, kupegangi, supaya aku bisa ikut kemana saja Ibu pergi. Aku nggak mau disuruh tidur siang, sebab kalau aku ketiduran, nanti aku nggak bisa lihat Ibu pergi dan nggak bisa kularang. Ibu biasanya pamit kalau mau pergi, tapi aku tetap nggak mau Ibu pergi.

Kalau sudah begitu, Ibu, Kakek dan Nenek, membujukku dengan bilang Ibu pergi cuma sebentar. Dulu aku percaya, tapi sekarang tidak lagi, karena Ibu ternyata pulangnya selalu lama. Nenek biasanya lalu mengajakku ke minimarket di dekat rumah. Kata Nenek aku boleh beli Oreo banyak-banyak. Tapi aku tidak mau, apalagi kalau lihat tas ransel Ibu sudah siap dan laptop sudah dibungkus rapi. Nanti kalau aku ikut Nenek ke minimarket, Ibu berangkat pergi dan aku tidak bisa ikut. Soalnya pernah terjadi sekali. Pulang dari minimarket Ibu sudah tidak ada. Lalu aku nangis meraung-raung. Keras sekali. Sambil panggil “Ibu.. Ibu..!” Kalau capek, aku makan Oreo, minum, lalu nangis lagi. Sekeras mungkin, supaya Ibu dengar dan cepat pulang.

Pernah sekali, Ibu janji tidak akan pergi. Waktu itu hari Senin dan aku harus sekolah. Ibu mengantarku ke sekolah. Aku bilang sama Ibu supaya jangan pergi. Ibu janji tidak pergi, lalu Ibu pulang. Tidak lama kemudian, aku nangis di sekolah karena ingat Ibu. Aku menangis minta diantar pulang. Ibu Guru bingung jadinya. Karena rumahku dekat, Pak Bon mengantarku pulang. Untung Ibu benar-benar tidak pergi. Ibu masih ada di rumah.

Karena aku sering menangis setiap Ibu akan pergi sekolah, pamanku, yang kupanggil Pak Arya, mengijinkanku ikut ke bandara mengantar Ibu. Pak Arya minta aku janji tidak menangis di bandara. Aku, sih, benar-benar tidak ingin menangis. Tapi sampai di bandara, aku sedih sekali. Aku menangis kencang-kencang, di depan ruang check in, setelah lihat Ibu sudah masuk kesana dan aku tidak boleh ikut. Pak Arya menggendongku, tapi aku memberontak, ingin lari nyusul Ibu. Aku nangis keras sambil panggil-panggil Ibu, sampai ada Ibu Polisi Bandara datang menanyakan ada apa. Mungkin Ibu Polisi pikir, aku ini korban penculikan. Pak Arya malu sekali. Tapi tak lama kemudian Ibu keluar lagi dari ruang check in, dan tidak jadi berangkat. Kata Ibu pada Pak Arya, Ibu tidak tega ninggal aku.

Suatu ketika, Nenek mengajakku menengok Ibu di Surabaya. Kami menginap di kamar kos Ibu yang sempit dan panas. Kalau malam aku susah tidur saking panasnya. Di rumah kos Ibu, ada banyak kamar yang isinya Mbak-Mbak, dan semuanya sekolah seperti Ibu. Oh, jadi ini tempat Ibu tinggal kalau sedang tidak bobo sama aku di rumah. Enakan di rumah, kamarnya lebih besar dan tidak panas.

Kalau siang, Ibu mengajakku ke sekolahnya. Namanya kampus. Sekolahnya besar sekali. Kami jalan kaki dari rumah kos ke kampus. Kalau ke sekolah Ibu, muridnya tidak pakai seragam seperti di sekolahku. Aku diajak Ibu ke perpustakaan, ke ruang kelas dan ke kantin. Kalau sedang di ruang kelas, Ibu biasanya ijin dulu pada gurunya supaya bisa mengajakku duduk, lalu memberiku kertas untuk menggambar atau corat-coret. Aku harus duduk tenang dan tidak boleh ribut. Aku juga bertemu dengan teman-teman Ibu. Mereka baik dan ramah kepadaku. Aku ditanya ini-itu.

Waktu pulang, kami naik pesawat. Ibu juga ikut pulang, katanya sudah libur semester. Itu pengalaman pertamaku naik pesawat. Pada saat berangkat, Nenek dan aku naik bis malam dari Bali. Semenjak mengunjugi Ibu di Surabaya, aku jadi tahu apa yang Ibuku kerjakan ketika sedang tidak bersamaku. Setelah itu, aku tidak rewel lagi ketika Ibu pamit berangkat sekolah. Sekarang Ibu sudah tidak sekolah lagi, aku juga sudah besar. Ibu jarang pergi lama-lama, kecuali kalau sedang dinas ke luar kota. Aku sekarang sudah kelas lima SD dan sudah bisa naik pesawat sendiri. Sekarang aku yang gantian ninggal Ibu naik pesawat kalau liburan ke rumah Paman di Mataram. Untung Ibu nggak nangis waktu kutinggal.

[Kirana, sebelas tahun]

Kirana, 6 tahun, yang sedang menanti Ibu pulang.

Stigma, Stigma, Stigma…

IMG_20150324_203656Apa yang kupelajari tentang statusku sebagai perempuan single parent adalah bahwa sebagian besar orang lebih tertarik pada cerita di balik statusku daripada keinginan untuk mengetahui bagaimana keadaanku sekarang ini bersama anak-anak. Mereka lebih suka membahas statusku itu-secara langsung atau dibelakangku-, tanpa sungkan atau malu-malu kucing bertanya, memintaku mengulang kembali cerita tentang sebab-musababnya. Sudah sebelas tahun, dan masih saja topik yang sama. Padahal, banyak detil yang aku sudah lupa.

Percakapan pembuka yang umum dalam budaya kita adalah pertanyaan tentang status dan anggota keluarga. Status pekerjaan, status pernikahan, status pertemanan dengan si A atau si B. Pokoknya sesuatu yang menunjukkan posisi kita di dalam masyarakat. Dari situ penanya akan memetakan status sosial dan ekonomi kita dan gambaran keseharian kehidupan kita.

Kira-kira, begini salah satu ilustrasinya…

Penanya (katakanlah, ibu-ibu paruh baya, yang baru kukenal di suatu acara atau di angkot), menyapaku dengan pertanyaan,

“ Kerja dimana Mbak?”

“ Saya mengajar di X, Bu.”

“ Putranya berapa, Mbak?”

“ Dua, Bu. Laki-laki dan perempuan”

“ Wah beruntungnya…sudah lengkap itu.”

Nah, sampai dipertanyaan ini aku berharap perkenalan basa basi dicukupkan. Tapi biasanya, harapanku meleset.

“ Suami kerja dimana, Mbak? PNS juga?”

“ Saya sendiri, Bu. Kebetulan sudah berpisah dengan suami.”

(Si Ibu menunjukkan mimik terkejut, dengan alis bertaut, mata melebar…)

“ Lho, kenapa?”

(Tentu saja sambil harap-harap cemas akan meluncur satu cerita bak sinetron yang akan menghibur sisa harinya.)

Aku tersenyum, tidak menjawab, dengan harapan si ibu tahu itu bukan urusannya dan berhenti bertanya. Tapi…sekali lagi…biasanya harapanku meleset.

“ Aduh, Mbak, padahal Mbak cantik, sayang sekali…” (pancingan pertama)

Aku masih mempertahankan senyum

“ Sudah lama ya? Mbak belum menikah lagi?”

Aku masih berjuang mempertahankan senyum, biasanya hanya menggeleng

“Tidak, Bu.”

Si Ibu, tak kalah teguh berjuang mengorek cerita

“ Anak-anak bagaimana, tinggal dengan siapa?”

Aku mulai jengah dan dongkol

“ Dengan saya, Bu. Anak-anak sudah besar. Kejadiannya sudah lama,kok. Saya sudah lupa” (senyum sudah mulai masam)

Si ibu memandang dengan wajah super prihatin, entah tulus entah dibuat-buat, lalu keluarlah ucapan…

“Duh, kasihan…padahal masih muda, lho…”

Jreeenggg…dan aku berharap angkot belok ke neraka…

Stigma pertama yang biasanya dilekatkan masyarakat pada para ibu tunggal adalah kami patut dikasihani. Aku mulai menjalani kehidupan sebagai orang tua tunggal di usia yang relatif muda, dan mendapat curahan ungkapan ‘dikasihani’ dalam berbagai bentuk, baik ucapan maupun tatapan mata menghiba. Sungguh tidak mudah. Tidak mudah karena itu mengkerdilkan spirit dan menyuburkan perasaan tidak berdaya. Jelas aku perlu bantuan. Kami, para ibu tunggal membutuhkan support system yang kuat untuk menjalani kehidupan hari demi hari. Tapi kami juga memiliki dan tengah membangun kekuatan kami. Kami juga tengah membangun kepercayaan diri yang sempat runtuh akibat perpisahan. Terlalu sering dikasihani hanya melemahkan upaya yang sedang kami lakukan. Tak jarang aku mendapati seorang perempuan yang baru saja menyandang status sebagai single parent memilih menarik diri dan menolak banyak bercerita tentang statusnya. Karena memang sungguh tidak nyaman menerima tanggapan yang dipenuhi rasa kasihan.

Stigma kedua yang lekat pada kami adalah….kami selalu dan terus menerus kesepian sepanjang waktu. Oleh karenanya, kami perlu secepatnya menemukan pendamping hidup lagi. Kami harus cepat-cepat menikah lagi. Pernahkah terbayang bahwa seringnya itu adalah hal terakhir yang ada di benak single moms seperti kami? Kami sudah terlampau sibuk menata ulang hidup kami, mencari peluang untuk menstabilkan kondisi finansial, merancang karir, melamar pekerjaan, membuka usaha. Pikiran dan energi kami sudah tersita untuk mendampingi anak-anak menghadapi dan melewati masa transisi pasca perpisahan kedua orang tuanya. Belum lagi harus jungkir balik agar operasional kehidupan sehari-hari bisa berjalan dengan mulus. Memang, di akhir hari, kuakui kadang aku ingin ada kawan bertukar cerita tentang hari yang kulalui. Aku menerima itu sebagai bagian dari kehidupan yang kupilih untuk kujalani. Syukurlah selalu ada saja kawan dan sahabat yang bersedia untuk menjadi tempat curhat.

Namun, stigma -ibu tunggal selalu kesepian-membawa konsekuensi yang tidak mengenakkan. Laki-laki menganggap karena rasa kesepian yang mendera maka kami akan ‘jual murah’. Perlu dihibur, ditemani, kalau perlu dijadikan pacar gelap. Perempuan (baca: para istri) menganggap kami identik dengan wanita penggoda, yang siap menggoda laki-laki, para suami, karena kesepian kami. Jadi, kami ini perlu diwaspadai. Masalahnya, stigma ini makin diperkuat dengan banyaknya cerita film atau sinetron yang melukiskan para janda sebagai perempuan muda cantik seksi yang kesepian, rapuh dan patut dikasihani…

Stigma ketiga adalah anak-anak dari keluarga dengan orang tunggal lekat dengan predikat anak yang kurang kasih sayang, sehingga besar kemungkinan akan tumbuh jadi anak bandel, sekolahnya asal-asalan, ada gangguan kepribadian, bahkan kriminil pula.

Masalahnya adalah, tak banyak yang bisa dilakukan untuk menepis stigma-stigma yang melekat pada kami. Membantahnya dengan melawan secara verbal, atau memberi penjelasan berulang-ulang kadang hanya akan membuat lelah dan semakin jengkel. Setelah sebelas tahun, aku masih melakukan uji coba berbagai cara untuk mengatasi stigma yang melekat padaku sebagai single mom. Jelas, perlawanan utama adalah dengan membuktikan yang sebaliknya. Khusus stigma broken home, selain berdialog dengan anak-anak, aku telah mengajari anak-anak beberapa hal.

Lalu untuk mengatasi kecenderungan dikasihani, aku memperlakukan hal yang sama dengan yang kuajarkan pada anak-anak. Hanya bersikap terbuka dan menceritakan yang sesungguhnya pada orang penting dalam kehidupan kami. Awalnya aku bersikukuh mengatakan aku single parent kepada siapapun, karena idealisme tidak ingin menafikan kenyataan. Tapi justru untuk alasan praktis, itu ternyata sama sekali tidak praktis. Jadi supaya percakapan yang tidak perlu tidak memanjang apalagi dengan orang yang tidak kukenal, aku akan menjawab suamiku X bekerja di Y. Titik.

Sedangkan untuk mengatasi stigma single mom kesepian sehingga ‘jual murah’, aku berusaha untuk tidak memberikan kesempatan apapun kepada yang sudah menikah atau punya kekasih, dan hanya -misalnya- pergi makan siang dengan yang lajang saja disaat jam kantor, serta memastikan bahwa tidak ada anggapan lain selain pertemanan. Sepanjang pengalamanku, para lelaki lajang yang kadang usianya lebih muda justru tidak ‘berbahaya’. Niat mereka biasanya murni pertemanan. Justru yang kerap harus kuwaspadai adalah lelaki setengah baya. Apalagi yang ujung-ujungnya bercerita mengeluhkan istrinya yang begini begitu, tidak akur dengan istrinya, sedang menuju perceraian, dan seterusnya dan seterusnya. Biasanya ini early warning banget untuk diwaspadai. Because all the stories were usually lies! Cerita-cerita itu diciptakan hanya untuk menarik simpatiku. Bagaimana aku tahu? Because I’ve been there..

Oleh karenanya, wahai para single moms, kita tidak bisa memaksa orang untuk memahami keadaan kita yang sebenarnya. Tapi kita punya hak untuk tidak hidup dalam stigma yang terlanjur dilekatkan oleh masyarakat kepada kita.

          Keep fighting

          Stay calm and be happy!

Creating New Image of Family

Dear Single Moms,

Sewaktu anak-anak masih kecil, aku masih dapat melindungi mereka dari berbagai pertanyaan, baik yang muncul di benak mereka sendiri ataupun yang dilontarkan orang lain. Banyak ibu tunggal yang membesarkan anaknya seorang diri, menjadi panik ketika anaknya mulai bertanya mengapa ia tidak tinggal dengan ayahnya. Saranku, katakan yang sejujurnya, apa adanya pada anak. Tentu saja disesuaikan dengan level pemahaman mereka. Ketika anak-anak masih kecil, aku hanya mengatakan bahwa aku dan ayah mereka sudah berpisah, dan ayah mereka tinggal di kota X.

Suatu ketika, anak lelakiku yang duduk di bangku SMP bertanya, “ Ibu, broken home itu apa? Kita ini keluarga broken home, ya?”. Aku diam beberapa jenak, mencoba mencerna makna pertanyaan yang diajukan. Darimana ia mendengarnya? Apakah ada yang mengejeknya? Di sekolah mungkin? Tapi sedari kecil aku membiasakan anak-anak bicara dengan terus terang dan menggunakan fakta serta logika. Maka setelah menarik nafas panjang beberapa kali, ini yang kukatakan,

Home, sudah tahu kan artinya rumah? Sementara broken, artinya rusak. Kalau arti menurut kamus, broken home itu rumah yang rusak. Rumah rusak bisa disebabkan karena bermacam-macam hal, salah satunya ya karena tiang penyangga rumah sudah rapuh.”

Disini, aku menarik nafas dalam lagi. Anakku diam menunggu lanjutan penjelasanku.

“ Nah, kata broken home ini, sering digunakan untuk merujuk pada keluarga yang retak. Misalnya retak karena orang tuanya tidak bersama-sama lagi….

Mungkin, seperti keluarga kita. Biasanya anak-anak yang berasal dari keluarga yang dianggap broken home tumbuh menjadi anak yang bandel dan tidak jarang melakukan tindak kriminal….Yah, karena mereka kekurangan kasih sayang orang tua, kurang perhatian, sehingga terjerumus pada pergaulan yang salah.”

Aku menatap anakku, menunggu reaksinya.

“ Tapi kita nggak broken home.” Cetus adiknya iba-tiba, yang sejak tadi ikut mendengarkan.

“ Aku nggak nakal, Kakak juga. Kakak ranking juga di sekolah. Aku juga pinter. Rumah kita nggak broken, karena ibu yang jaga jadi tidak rubuh.” Katanya serius.

Kakaknya manggut-manggut setuju. Cepat kumanfaatkan situasi ini,

“ Kita akan jadi broken home jika kita tidak bersama-sama saling menjaga. Jika kita tidak saling menyayangi. Ibu tidak bisa menjadi kuat kalau kalian tidak membantu”

Mungkin, anak-anak sudah melupakan percakapan kami waktu itu karena setelahnya tidak pernah disinggung-singgung lagi. Tapi aku tidak akan pernah lupa. Ini adalah salah satu momen penting dalam perjalanan kami sebagai sebuah keluarga.             Sejak dini aku memang mengajarkan pada anak-anak bahwa mereka akan ditanyai oleh orang tentang keberadaan ayah kandung mereka. Pertanyaan paling umum adalah dimana ayah mereka bekerja. Aku mengajari mereka untuk menjawab sesuai situasi.

  1. Mereka harus menjawab jujur, yaitu, ayah tinggal terpisah, jika yang bertanya adalah orang-orang yang dianggap penting untuk tahu, seperti ibu guru di sekolah (jujur)
  2. Mereka boleh menjawab dengan mengakui ayah mereka adalah paman mereka, jika orang yang bertanya adalah orang yang belum terlalu mereka kenal, misalnya tukang warung di ujung jalan (jujur tetapi tidak penuh)
  3. Mereka boleh mengarang jawaban jika yang bertanya adalah orang yang sama sekali tidak mereka kenal, misalnya orang yang bertanya di angkutan umum (permainan imajinasi)

Ketika mereka sudah lebih besar, aku mengajak mereka berdiskusi tentang stereotipe atau anggapan yang cenderung negatif yang mungkin dilekatkan orang kepada mereka karena mereka hanya tinggal dengan ibu. Pada intinya kukatakan bahwa mematahkan pandangan negatif paling efektif adalah dengan bukti nyata bahwa kita tidak seperti yang disangkakan orang.

Sejauh ini anak-anak cukup memahami kondisi kami yang berbeda dengan keluarga lainnya. Mereka juga nampak hepi dan tidak terbebani dengan kondisi kami. Kunci utamanya menurutku adalah anak-anak melihatku menjalani kehidupan kami dengan enjoy. Sehingga mereka pun bisa melihat bahwa tak ada yang salah dengan kehidupan kami dan kami bukan keluarga yang cacat atau berkekurangan. Aku beberapa kali berdiskusi dengan anak-anak tentang keluarga-keluarga lain, lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihan masing-masing. Ada banyak anak yang tinggal dnegan ayah dan ibu lengkap, namun kekurangan kasih sayang. Namun ada pula anak yang hanya tinggal dengan ibu atau ayahnya saja, namun tumbuh menjadi orang hebat di masa dewasanya. Dengan cara ini anak-anak menyadari bahwa keluarga kami memang bukan keluarga yang sempurna, namun banyak pula hal yang patut kami syukuri. Kami belajar berbahagia dengan yang kami miliki dan tidak berfokus pada apa yang tidak kami miliki.

Bagi kami, keluarga adalah ibu dan anak-anak.

And it’s okey.

 

 

The Dirty Game

Kamu dimana? Aku jemput ya? Bales, dong!

Please, telpon nggak diangkat, sms dan WA nggak dibales. Gimana, sih? Kok aku jadi merasa dibohongi?

 Aku menuntut hak jawab, aku pengen tahu kenapa kamu nggak angkat telponku, kenapa nggak bales sms atau WA-ku?

Kampret! Mengganggu saja. Hape terpaksa saya matikan setelah meninggalkan pesan ke orang rumah bahwa saya sementara tidak bisa dihubungi, lalu saya benamkan dalam-dalam ke tas jinjing. Mau hak angket, mau hak pilih, hak jawab, atau apapun itu, saya tidak peduli. Memangnya dia siapa? Saya bersungut-sungut, sudah terlanjur kesal. Orang waras ya mestinya mengerti, kalau pesan yang beruntun tidak dibalas dan telpon ratusan kali tidak diangkat, berarti memang si empunya nomor tidak mau menjawab. Gitu saja, kok, repot. Kembali tas saya rogoh, meraih telpon genggam, lalu mem-block nomor satu itu. Saya tersenyum. Puas.

Si penuntut hak jawab ini, laki-laki yang merasa dibohongi ini, sudah saya tegaskan dengan setegas-tegasnya bahwa saya tidak tertarik untuk menjalani hubungan dengan pria beristri. “Kenapa?” tanyanya.

“ Terlalu rumit” jawab saya singkat tanpa perlu panjang lebar menjelaskan sebab musabab mengapa saya tak akan pernah tahan jadi perempuan kedua. Perempuan manapun yang mandiri dan merdeka baik secara pikiran maupun ekonomi pastilah berpikir seribu kali untuk mau jadi simpanan yang sosoknya tak pernah kelihatan karena melulu disembunyikan (namanya juga simpanan).

“ Kalau begitu kita berteman ya?” tanyanya.

Duh, berteman? Mana ada yang begitu? Tapi supaya tidak berpanjang-panjang saya menganggukkan kepala saja. Yang penting selesai. Dan benar, kan, mana ada orang berteman menelpon dan mengirim pesan beruntun begini? Apalagi sampai merasa dibohongi plus menuntut hak jawab pula.

“ Makanya, kamu jangan iya-iya saja “ tegur kawan yang saya mintai pendapat.“ Halah, kayak tidak tahu saja lelaki macam begitu. Kalau aku tolak dia pasti tanya kenapa. Lalu kalau kujelaskan, aku pasti didebat. Kan, cuma berteman. Nah ini kalau benar berteman kenapa harus maksa begini?” jawab saya kesal. “ Lagian laki-laki itu, kalau perempuan jawab ‘tidak’ dikira ‘iya’!”     Teman saya nyengir. Karena dia juga laki-laki.

Sudah berkali-kali saya mengeluhkan soal beberapa laki-laki beristri yang mendekati dengan berbagai cara. Tujuannya sama, mengajak berselingkuh. Awalnya saya tidak terlalu ambil pusing. Cuek saja. Namun bagi sebagian laki-laki, sikap cuek dianggap ‘menantang’ alias semacam kode ingin untuk ditaklukkan. Lalu mereka jadi semakin agresif, cara-cara yang digunakan mulai dari level mengganggu sampai memuakkan.

Aku ingin memenuhi kebutuhan yang istriku tidak bisa penuhi. Jangan salah, istriku cantik dan seksi, lho, tapi ada hal-hal yang aku perlu dapatkan dari orang lain dan kurasa itu bisa kudapatkan darimu.”

Yah, semua orang tahu termasuk istriku kalau fitrah laki-laki memang tidak cukup dengan satu perempuan, kan? Itu sebabnya aku mesti punya perempuan lain selain istriku, karena itu kebutuhan. Tapi dia menolak dipoligami, jadi, ya, maaf aku tidak bisa mengambilmu sebagai istri.”

Aku terbayang wajahmu terus. Kamu kok, dingin banget, sih? Semalam aku bercinta dengan istriku membayangkan kamu, lho.”

Nada bangga yang tidak ditutup-tutupi, keyakinan penuh dan kepercayaan diri bahwa yang mereka lakukan tidak salah sungguh membuat saya bingung antara ingin muntah atau menghantamkan kursi kayu ke kepala mereka. Apalagi ketika si istri meng-upload foto mereka beserta anak-anak dengan caption ‘Selamat Hari Ayah, terimakasih telah menjadi suami dan ayah teladan. We love you, Ayah…’. Beuh, perut saya langsung mulas.

Teman lain, yang juga laki-laki, berkomentar dengan suara ketus. Entah karena dia bosan dengan keluhanku atau karena dia malu dengan kelakuan kaumnya.

“Para laki-laki itu, kan, penganut aliran ‘kuno’ yang menganggap laki-laki lebih superior daripada perempuan. Ngomong kayak gitu sebenarnya melecehkan dua belah pihak, si istri dan si perempuan yang diajak berselingkuh. Kalau memang sudah tidak suka pada istri, ya sudah, ngapain masih kontak seksual. Pakai bilang membayangkan dirimu segala. Omong kosong.”

“ Iya, brutal “ sahut saya berapi-api, marah.

It’s all about power and money game. You know that! ”pungkasnya.

Saya sebenarnya tidak benar-benar paham. Saya bertanya-tanya terus kenapa ada lelaki yang tega mengkhianati istri yang sudah mendampinginya bertahun-tahun. Oke, mungkin rasa cinta pudar seiring waktu, tetapi apakah perjuangan bersama membesarkan anak-anak, jatuh bangun membangun rumah tangga, juga hilang begitu saja? Lalu soal komitmen bagaimana ? Saya juga bertanya-tanya, sungguhkah para istri ini benar-benar tidak tahu kelakuan suami mereka di luar sana, atau dengan siapa para suami ber-sms atau WA berjam-jam sampai jauh malam? Tidakkah mereka bertanya-tanya? Apa mungkin itu dilakukan di WC sambil jongkok dengan dengan alasan diare?

“ Jangan salahkan para istri,” kata seorang sahabat perempuan, “yang salah ya si suami. Itu tanggung jawabnya untuk menjaga pernikahan. Lagipula, mungkin di depan istrinya citranya luar biasa baik.”

“ Masak nggak mencium sedikit gelagat bejatnya?” protes saya.

“ Ya, nggaklah, cuma depan kamu atau selingkuhannya dia bejat. Depan istrinya dia alim. ”

Saya tetap tidak terima. Masak, sih, bertahun-tahun hidup bersama tetap nggak tahu aslinya? Tapi saya tidak berani mendebat sahabat saya itu, pertama karena saya tidak paham soal hidup dalam pernikahan, kedua karena saya tidak punya argumen untuk mendebatnya. Terus terang, pengetahuan tentang pernikahan dan perselingkuhan saya terbatas. Ini yang justru membuat penasaran dan ingin mencari tahu.

Ada dua versi ketika bicara soal pihak yang patut disalahkan dalam perselingkuhan. Versi pertama, yang menjadi tersangka adalah perempuan yang menerima ajakan berselingkuh. Dengan argumen perselingkuhan tidak akan terjadi jika si perempuan menolak mentah-mentah ajakan si lelaki beristri. Versi kedua, yang bertanggung jawab terhadap terjadinya perselingkuhan adalah suami dan istri, karena kedua pihaklah yang terlibat dalam pernikahan, sehingga kedua belah pihaklah yang punya tugas menjaga keutuhan dan ketahanannya. ‘Perempuan lain’ tadi ya cuma pihak ketiga, kehadirannya bisa dieliminasi total dengan mudah (jika mau dan mampu).

Dengan segala keterbatasan pengetahuan, versi kedua saya rasa lebih fair. Versi pertama selain terlampau menyudutkan perempuan (tanggung jawab laki-laki dimana?), juga terkesan ‘meremehkan’ kemampuan sebuah rumah tangga untuk bertahan. Gampang betul dimasuki pihak ketiga. Tapi memang sebab musabab sebuah perselingkuhan terjadi sangat rumit dan kompleks karena hal yang menyebabkan pernikahan langgeng juga multifaktor. Ketika komitmen hanya dianggap sebatas ‘sepanjang istri tidak tahu’ alias main aman, atau ketaatan pada perintah Tuhan hanya disimbolkan dengan hitamnya jidat yang merupakan perlambang kekhusukan menjalankan ibadah ya repot.

Ada sebuah artikel di majalah online, judulnya I am The Woman Sleeping With Your Man. Si penulis menuliskan pengalamannya pacaran dengan laki-laki beristri. Bagian yang buat saya menarik adalah,

What never ceases to surprise me is how many guys are so willing to cheat. These aren’t “players” that I go for. They’re not Jersey Shore guys who will sleep with anything that moves — they’re just normal men who love their girlfriends but, for some reason, take only the tiniest of pushes to enter the realm of infidelity.

 ….Betapa para lelaki ‘baik-baik’ ini amat bersedia untuk berselingkuh. Hanyaperlu seupil dorongan untuk membuat mereka masuk dalam dunia ketidaksetiaan.

Soal-soal perselingkuhan selalu ramai menuai tanggapan masyarakat. Lihat saja di media sosial, berita atau tulisan tentang perselingkuhan secara berkala beredar dan hampir selalu viral. Di instagram, saya menemukan gerakan anti pelakor, salah satunya dengan mengunggah foto bersama pasangan disertai tagar anti pelakor dan anti Mayangsari. (Memangnya generasi milenial tahu siapa Mayangsari? Fyi, ia biduan cantik dengan suara melengking yang ngetop di era ’90 an). Plus ketika melihat foto-foto tersebut saya membatin, kok yakin suami sedang tidak berselingkuh? Lalu kenapa anti Mayangsari? Ya karena dia simbol pelakor. Yang viral lainnya adalah surat dari seorang Mbak kepada selingkuhan suaminya (yang sudah jadi mantan). Begitu viralnya sampai tercetus ide untuk membuat gerakan dan komunitas untuk membela Mbak-Mbak yang diselingkuhi. Sebenarnya saya penasaran berharap ada part II, menunggu surat senada tapi untuk suami. Kira-kira apa ya isinya?

Sebagai perempuan yang beberapa kali mendapat ‘undangan’ untuk berselingkuh, saya ingin mengajukan usul kepada anggota gerakan anti pelakor. Pertama, saya usul agar ada gerakan anti lelaki ganjen (#antilanjen), atau anti lelaki peselingkuh, atau supaya lebih catchy bisa dibuat tagar anti obral sperma. Supaya imbang upaya untuk menyetop perselingkuhan dari pihak laki-laki maupun perempuan. Seperti saya ini, sudah tidak membalas sms atau telpon, sampai memblok no telpon, eh masih saja coba dihubungi dengan nomor berganti-ganti. Pakai menuntut hak jawab pula. Ini, sih, sudah teror namanya. Kan saya berhak dibela dan dilindungi juga.

Usul saya yang kedua, bagaimana kalau anggota gerakan anti perselingkuhan membuat pelatihan deteksi dini pasangan (suami) yang berselingkuh supaya tidak baru ketahuan setelah tujuh tahun? Atau membuat pelatihan pemberdayaan istri agar percaya diri dan berani dalam menuntut tanggung jawab suami yang berselingkuh atau menunjukkan tanda-tanda berselingkuh? Sebab ada istri yang diam meski tahu suaminya berselingkuh karena takut kehilangan nafkah finansial. Atau bahkan membuat program-program advokasi, misalnya kemungkinan membawa ke pengadilan suami dan selingkuhannya dengan bekal foto-foto yang diupload di medsos. Memang tidak salah mengharap dukungan dari masyarakat dengan balik menyebarkan keganjenan mereka di medsos, tapi lebih ciamik menurut saya jika sekalian dibawa ke ranah hukum saja. Supaya menimbulkan efek jera. Perlu juga pelatihan tentang bagaimana menguatkan diri di dalam pernikahan sehingga suami tidak berani macam-macam. Seperti teman saya yang bilang begini,

“ Aku tidak bisa terus-terusan mengawasi suamiku, tapi dia sudah kuultimatum dari awal menikah. Kalau sampai ketahuan selingkuh, jangan harap dia bisa ketemu anak-anak.”

Yang ini saya dukung dan setuju sekali.

Perselingkuhan memang permainan yang mendebarkan, but it’s really really a dirty game. Karena pada akhirnya ini semata soal selangkangan (kata teman saya).

 

 

Keterangan:

Pelakor = perebut laki orang

http://www.goodhousekeeping.com/life/relationships/a43503/other-woman-confession-cheating-stories/

 

Kepada Para Lelaki yang Sok Gawat

Gawat. Ada 230 ribu janda baru di Indonesia sepanjang 2016.

Itu status teman di media sosial. Dosen di sebuah PTN ternama di Pulau Jawa. Saya cuma mbatin, asyuuu … abad kegelapan kok ndak selesai-selesai. Para lelaki yang sok gawat itu kok nggak berkurang juga jumlahnya.

Bukan apa-apa, saya juga janda. Mangkel karena konotasi negatif yang melekat pada status janda tidak ada habis-habisnya. Berkali-kali dijadikan bahan guyonan. Mulai dari level obrolan warung kopi sampai guyonan yang disampaikan di seminar ilmiah. Mungkin dengan membawa-bawa cerita soal janda, si pembicara berharap bisa lebih menarik simpati pemirsa. Apalagi kalau kemudian setelahnya terdengar gelak tawa panjang membahana. Semacam sudah jadi hebat dan keren dengan mengeksploitasi status orang lain.

Meskipun demikian, demi keadilan bagi para lelaki yang sok gawat ini, biarlah saya mencoba menelaah lebih dalam, mengapa dengan bertambahnya 230 ribu janda ini dianggapnya sangat mengancam.

Takut menjadi beban nasional? Jangan khawatir, banyak dari kami yang sangat mandiri. Bahkan sejak masih dalam status pernikahan pun sudah punya penghasilan jauh melebihi suami. Atau bahkan menjadi pencari nafkah tunggal dalam keluarga. Nah, bisa jadi justru inilah yang menjadi penyebab perpisahan. Suami kadung jadi pemalas, semacam lintah pengisap yang bisanya cuma nebeng hidup doang. Istri banting tulang sementara suami cuma ongkang-ongkang kaki di rumah. Siapa yang tak gerah?

Lalu, gawatnya apa dong? Sampai di mana-mana kami berada, selalu ada telunjuk dan bisik-bisik yang mengarah kepada kami disertai ucapan, “Hati-hati, lho, dia janda!”

Wuih.

Oh, takut tergoda, ya? Kenapa? Karena dipikirnya kami luar biasa kesepian? Waduh, kami ini sehari-hari sudah luar biasa sibuk dengan pekerjaan dan anak-anak. Tiap hari sudah terlampau lelah bahkan sekedar berpikir untuk melakukan hal-hal yang nyerempet-nyerempet.

Kalau ada hari libur sedikit, ya, kami pakai jalan-jalan dengan anak-anaklah. Ingat, ya, sekarang kami bebas. Jadi kami bisa melakukan apa saja. Termasuk yang kalian larang-larang dulu. Sekarang kami bebas rumpi-rumpi di warung kopi sehabis jam kantor atau lari-lari cantik di car free day tiap hari Minggu tanpa perlu merasa sungkan karena di rumah belum ada masakan yang matang. Lagian siapa pula yang akan melirik om-om berperut gendut macam kalian itu, wahai para pria yang sok gawat. Mending menggaet berondong.

Stigma yang dilekatkan pada kami, para janda, benar-benar merugikan. Semacam kami ini warga negara kelas dua, momok masyarakat. Dilecehkan para suami, dimusuhi para istri.Para istri takut setengah mati suaminya jatuh dalam godaan kami. Please, deh, hal tersebut justru menunjukkan rasa tidak aman Anda-Anda semua, Sista. Di lubuk hati terdalam, Anda menyadari betapa rendahnya kemampuan kendali diri para suami Anda. Alih-alih mengultimatum para suami, atau mengikat mereka kencang-kencang supaya tidak terus-menerus mengejar-ngejar kami, Anda malah memusuhi kami.

Ya benar, sih, ada juga beberapa dari kami yang jadi simpanan laki-laki beristri. Tapi, untuk menjadi simpanan, kan, tidak melulu mereka yang berstatus janda. Yang masih lajang atau berstatus istri orang juga ada yang menjadi simpanan. Jadi itu soal personal masing-masing. Kerugian lainnya, beberapa dari kami tidak mendapatkan pekerjaan atau promosi karena status jandanya. Padahal entah apa hubungan antara status janda dengan performa kerja.

Lalu soal kami jablay (duh, maafkeun kalau istilah ini jadul sekali). Itu, sih, lebih karena otak kalian para lelaki melulu soal selangkangan. Kalau kemudian banyak yang tertarik sampai di level keblinger pada kami karena kami matang, cantik, dan mandiri, siapa yang bisa disalahkan?

Pengalaman hidup kami yang pahit dan sulitlah yang membuat kami matang dan nampak menarik; yang membuat kami di mata kalian, wahai para lelaki yang sok gawat, tampak misterius dan sulit didekati. Sayangnya, kalau kami tak tampak tertarik, kalian menganggapnya jual mahal, jinak-jinak merpati. Kalau kami membalas keramahan kalian, kami dianggap murahan. Justru karena kami sudah kenyang pengalaman menghadapi lelaki yang sok gawat macam kalianlah yang membuat kami berpikir sejuta kali untuk pasang lampu hijau. Jangan sampai kami jatuh ke lubang yang sama.

Tapi, jangan-jangan kalian sebenarnya memiliki perasaan yang kompleks pada pada kami, campuran antara takut dan iri? Para lelaki gemas karena kami terlalu mandiri, sementara para istri iri setengah mati karena kami punya kebebasan yang tak mereka miliki.

Ah, saya kok belum menemukan alasan yang kuat kenapa Anda semua harus sok gawat. Atau karena kalian mengidap messiah complex, wahai para lelaki yang sok gawat? Ingin menjadi penyelamat tapi tidak sadar, justru kalianlah yang sebenarnya perlu menyelamatkan diri dari kebiasaan mendompleng status kami. Mulai dari tema obrolan warung kopi sampai pembuktian jati diri.

Ini baru gawat.

Ket: Artikel ini dimuat di Mojok tanggal 11 Januari 2017

Mojok.co tutup per tanggal 28 Maret 2017

RIP Mojok

Belajar Tega: Pekerjaan Tersulit Orang Tua

IMG_20160815_161647

Kalau saya mati, apakah anak-anak akan bisa bertahan sendiri?

Bukannya saya berharap cepat-cepat mati, hanya saja pertanyaan itu memang berkali-kali saya tujukan pada diri sendiri. Lama-lama lalu menjadi patokan seperti apa saya mesti mengasuh anak-anak karena kalau bicara soal parenting/pengasuhan, teori dan tipsnya banyak sekali. Kalau tidak kritis dan berhati-hati, justru akan menimbulkan keraguan terhadap kemampuan saya sendiri. Pakar A bilang X, pakar B mengatakan yang benar adalah Y, eh, pakar C menyarankan sesuatu yang berkebalikan dari pakar A dan B. Lalu saya mesti mengikuti yang mana? Jangan-jangan yang saya praktekkan selama ini salah semuanya. Sebab saya menyadari rasa cinta pada anak bisa membuat orang tua buta.

Saya percaya, tugas utama sebagai orang tua adalah menyiapkan anak-anak untuk suatu saat berpisah dari kita. Sederhana saja, karena kita bukan makhluk abadi. Nah ketika saat itu tiba, sudahkah mereka siap? Kita bekerja keras agar kebutuhan anak akan makanan sehat, kehidupan layak dan pendidikan tercukupi. Tapi ketiga hal tersebut saja tidak cukup. Kita ingin melihat anak-anak bisa mandiri dan bertanggung jawab pada kehidupannya sendiri. Dan ini tidak mudah, sebab secara alamiah orang tua manapun ingin agar anaknya aman dan sejahtera, tak perlu merasakan susah, sakit, kecewa, apalagi gagal. Kalau perlu dan bisa, orang tua saja yang menanggung semuanya.

Saya misalnya, selalu khawatir akan dampak perbedaan struktur keluarga kami dengan lazimnya keluarga di masyarakat. Stigma masyarakat terhadap anak-anak yang diasuh dalam keluarga dengan orang tua tunggal cenderung negatif. Akibatnya saya jadi ekstra melindungi anak-anak. Jangan sampai mereka sakit hati atau kecil hati. Saya pastikan mereka kekurangan apa pun, baik materi maupun kasih sayang, dan saya pasti pasang badan jika ada yang coba-coba menyakiti anak-anak. Kenyataannya, pertama, memang demikianlah kondisi kami, saya menjadi ibu sekaligus ayah bagi anak-anak. Kedua, saya tidak bisa mengontrol apa saja yang akan mereka hadapi di luar rumah. Yang membuat saya terkejut, anak-anak ternyata paham bahwa hal-hal tertentu bisa membuat saya super khawatir dan kesal. Contohnya, belakangan baru saya tahu kalau ada beberapa kerabat yang iseng bertanya kepada anak-anak mengapa ibu mereka tidak menikah lagi. Itu, kan, tidak pantas ditanyakan pada anak-anak. Tapi Kirana memilih tidak menceritakannya kepada saya. Ketika akhirnya saya tahu dan menanyakan soal itu, ia menjawab enteng, “Karena pertanyaan itu tidak penting.” Pesan yang ingin dia sampaikan jelas; itu tidak penting jadi ibu nggak usah lebay. Titik. Saya tertohok, jangan-jangan usaha melindungi anak-anak ini sebenarnya adalah upaya untuk melindungi ego saya sendiri dari rasa bersalah.

Saya ingat, ketika saya kembali ke rumah orang tua, Bapak dan Ibu bersedia membantu mengasuh anak-anak agar saya tetap bisa bekerja. Dulu kalau saya capek setengah mati bekerja dan mengasuh anak, saya ingin sekali mendengar agar Bapak menyuruh saya berhenti bekerja saja. Meskipun kami tidak kaya, saya tahu kondisi keuangan Bapak dan Ibu masih mampu untuk membiayai kami semua. Tapi Bapak tidak pernah mengatakan itu, malah mendorong agar saya bekerja keras dan tekun. Mungkin Bapak dan Ibu juga tidak tega, tapi sepanjang saya tinggal dan makan minum gratis di rumah mereka, Bapak tidak pernah sekalipun mengangsurkan uang dan berkata, “ Ini untuk beli susu anak-anak”. Tidak pernah. Paling banter Bapak tanya apakah saya masih punya uang pegangan, dan saya terlalu malu untuk mengatakan ‘habis’ atau ‘tidak ada’. Waktu itu sekuat tenaga saya pastikan agar selalu ada dana untuk membeli susu serta kebutuhan pokok anak-anak dan apabila memerlukan pergi ke dokter sewaktu-waktu. Parameter kecukupan dan kemandirian saya sebagai orang tua adalah adalah dana cukup setiap bulan untuk membeli susu. Jangan salah, susu formula bisa luar biasa mahalnya. Bapak dan Ibu sangat menyayangi anak-anak, tapi dari cara beliau berdua memperlakukan saya menyiratkan pesan yang jelas. Ini pilihan hidup saya, jadi saya harus bertanggung jawab.

Didikan Bapak dan Ibu baru bisa saya ambil hikmahnya sekarang. Hikmah pertama, saya tidak takut untuk tinggal bertiga saja dengan anak-anak. Saya percaya akan kekuatan saya untuk membesarkan mereka. Bahwa saya mampu dan jika saya berusaha pasti ada jalan. Kedua, Bapak dan Ibu bisa menjalani hari tuanya dengan tenang tanpa diberati pikiran apakah anak dan cucunya bisa makan hari ini atau tidak. Sekarang mereka bisa melepas saya dan anak-anak untuk hidup mandiri dengan lega. Saya tak dapat membalas kasih sayang orang tua, apalagi memberikan ini dan itu. Tapi setidaknya ketika saya tahu Bapak dan Ibu tidak terbebani oleh kami, saya juga bisa menjalani hidup dengan tenang.

Belajar dari bagaimana saya diperlakukan, saya menyadari bahwa pekerjaan tersulit orang tua adalah belajar tega. Siapa yang suka melihat anak kesusahan? Siapa yang tega melihat anak terpuruk akibat dihantam kegagalan? Tapi kapan hidup itu mulus dan baik-baik saja? Ketika anak-anak masih kecil, saya bisa mengatur lingkungan mereka. Tapi ketika kelak mereka harus berhadapan dengan dunia, saya tak bisa lagi bahkan untuk sekedar menebak siapa yang akan mereka temui dan apa yang akan mereka hadapi. Yang bisa saya lakukan adalah membantu mereka menyiapkan jangkar yang kuat dalam diri masing-masing, agar tidak terombang-ambing dan terhanyut kesana kemari. Ini pekerjaan berat dan tidak bisa dilakukan sekali dan sekaligus. Perlu kerja keras dan mesti dicicil dari sekarang. Seperti kata teman saya, kalau menginginkan hasil yang bagus, menanamnya dengan mesti bersabar*. Termasuk bersabar menjadi saksi jatuh bangunnya mereka.

Saya tahu saya pasti akan tetap membuka pintu rumah jika sekali waktu mereka ingin pulang dan beristirahat. Namun jika mereka sudah pulih, mereka harus memulai perjalanan lagi. Gagal dan melakukan kesalahan itu tidak apa-apa, tetapi menjadi pecundang dan melempar tanggung jawab pada segala sesuatu selain dirinya sungguh tak bermartabat. Macam anak yang terhenti perkembangan psikologisnya di usia empat tahun, ketika tak diajak bermain teman lalu pulang dan mengadu pada mama papa. Sayangnya di usia lima puluhan, empat puluhan, tiga puluhan, kebiasaan itu akan diteruskan. Dan masih banyak mama papa yang membiarkan saja anaknya pulang mencari perlindungan dan melepas tanggung jawab pada diri sendiri. Lupa kalau besok mereka mungkin sudah tak ada di dunia dan tak lagi bisa memberikan perlindungan.

 

* dikutip dari status Facebook di linimasa Duma Rachmat

Menulis Itu Membebaskan

fb_img_1470042603107

Aku mengelompokkan tanggapan yang muncul pasca terbitnya Single Mom’s Diary menjadi tiga jenis. Pertama, tentang kesan mereka terhadap buku, kedua, tentang manfaat yang mereka petik dari buku, ketiga adalah pertanyaan tentang bagaimana cara menulis. Rata-rata bicara begini, setelah membaca buku Mbak, aku juga jadi ingin ikut menulis, tapi aku takut tulisanku jelak atau aku ingin nulis, tapi apa yang mau kuceritakan?

            Pertama, yang ingin kukatakan, ada banyak yang bisa ditulis. Sepanjang kita masih hidup, berarti kita punya sesuatu untuk diceritakan. Kucing tetangga, misalnya. Atau telur dadar yang gosong tadi pagi, atau rekan kerja yang nyinyir. Tambahan lagi, kita bisa menambah berbagai fantasi dalam tulisan kita yang tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata. Menyelotip mulut teman yang nyinyir, misalnya. Tiga dari penanya di atas berprofesi sebagai pendidik, nah, bisa mulai dari murid-muridnya, kan? Satu murid satu hari? Sudah banyak bukan? Apalagi ditambah dengan suasana sekolah, suasana belajar, rapat guru yang membosankan, pekerjaan administratif yang banyak dan melelahkan. Tidak akan ada habisnya.

Aku sudah menulis sejak SD, di atas buku agenda Bapak, pembagian dari kantor yang ada angka tahunnya di bagian sampul. Jika saat itu tahun 1993, berarti aku menulisi agenda yang berangka tahun 1991 atau 1992 alias yang sudah bekas. Bapak biasanya hanya menulisi bagian depan sampai tengah, lalu sisanya dipenuhi oleh coretanku. Aku berkhayal sedang menulis cerita atau puisi untuk majalah Bobo, meski tak satupun tulisanku yang kukirim. Lalu masa SMP-SMA, ketika beberapa cerita pendekku mulai dimuat di koran dan majalah, aku menulis tentang gadis-gadis seusiaku yang hidupnya ingin kumiliki. Yang pintar main piano, karena di kehidupan nyata aku tidak bisa main piano, yang jagoan Fisika dan membuat penemuan luar biasa, karena aku tak pandai Fisika, yang populer, karena aku biasa-biasa saja. Aku menulis kisah-kisah cinta yang romantis, dengan tokoh cowok-cowok cakep yang dalam kehidupan nyataku hanya bisa kupandangi diam-diam dari kejauhan. Dari proses menulisku itu, aku pertama kali belajar, bahwa menulis itu membebaskan. Aku membebaskan keliaran pikiranku melalui kata demi kata, kalimat demi kalimat. Dan meskipun setelah menulis aku masih tetap hanya bisa memandangi cowok-cowok cakep itu dari kejauhan, ada kelegaan luar biasa karena pikiranku sudah sempat berkelana kemana-mana bersama para cowok cakep itu, termasuk berjalan bergandengan tangan menyusuri sungai Seine di Paris.

Masalahnya, ketika kita semakin dewasa, kehidupan menjadi semakin rumit dan kompleks. Sulit rasanya mempercayai goresan kata-kata dapat memberikan kelegaan. Terlalu semu, terlalu tidak realistis, bahkan irasional. Terlalu banyak cerita-cerita pahit orang-orang di sekitar kita, atau dari pengalaman sendiri, yang terlampau sulit untuk dituangkan dalam kata-kata. Kita lebih suka mengabaikannya atau menguburnya dalam-dalam. Namun sayangnya, kebanyakan kali kita gagal.

Dengan membuat tangan kita terus bergerak menuliskannya, kita perlahan-lahan melepaskan kontrol atas segala pengalaman pahit yang tadinya ingin kita kubur dalam-dalam, lalu tanpa sadar kita menghidupkannya kembali di atas kertas. Kita mungkin merasakan kembali berbagai emosi yang selama ini kita hindari. Ketika menulis artikel Stigma, ada perasaan kecut dan geram mengenangkan kembali percakapan dalam angkot dan penilaian negatif orang-orang yang tidak kira-kira. Namun setelahnya, aku justru bisa tersenyum-senyum sendiri.

Menulis terkadang memang menyakitkan. Secara alamiah, ketika kita menulis tentang ketakutan dan kepahitan, maka dalam prosesnya ketakutan dan kepahitan itu akan muncul berulang-ulang, air mata bercucuran tanpa henti, kemarahan menggelegak dan kekecewaan muncul bertubi-tubi. Tapi tak pernah ada yang mati karena menulis. Justru kita menjadi hidup kembali selepas menulis. Begitu kita menyelesaikan tulisan dan memandangi kembali lembaran-lembaran kertas, kita sadar bahwa semuanya sebenarnya telah lama berlalu. Dan kita pun bebas.

Dari proses menulisku, aku belajar ada sebuah sudut hening dalam diri yang terkoneksi dengan setiap elemen diri yang lainnya. Dengan nafas, dengan pikiran, dengan emosi-emosi. Tulisan terbaik adalah yang berasal dari sudut hening ini. Menatap dari sudut hening ini semuanya terlihat jernih,memungkinkan kita terhubung dengan diri yang terdalam, menumbuhkan keberanian untukberhadapan dengan segala kepahitan dan ketakutan dan tidak terus menerus melarikan diri darinya .

Bagiku,menulis juga merupakan cara untuk berlatih welas asih terhadap diri sendiri. Kita tidak tega, kan, meminta anak TK untuk mengerjakan soal-soal perkalian enam digit? Tidak masuk akal. Begitu juga ketika menulis, tumbuhkanlah welas asih dengan tidak menuntut diri berlebihan, apalagi ketika kita baru-baru saja belajar. Masa iya baru mulai menulis seminggu, kita sudah menuntut diri untuk menyelesaikan sebuah novel? Menulis juga memberiku kesempatan untuk berefleksi sekali lagi dan lagi. Tulisan Menghayati Rasa Sakit adalah salah satunya. Saat menuliskannya, aku seperti diingatkan sekali lagi, bahwa sesungguhnya aku tak perlu risau. Dalam hidupku selanjutnya, tak akan ada kesusahan yang tak bisa kutanggungkan, karena aku sudah pernah melewati pengalaman melahirkan sendirian. Pemahaman yang powerful sekali, setidaknya bagi diriku sendiri. Maka, menulis sejatinya adalah sebuah proses untuk menghayati hidup, menumbuhkan welas asih yang berujung pada penerimaan yang tulus pada diri sendiri.

Sebagai penutup, berikut adalah peraturan yang bisa diterapkan saat berlatih menulis. Disarikan dari buku Wild Mind Living The Writer’s Life, karya mentor yang tak pernah saya temui, tetapi selalu saya kagumi, Natalie Goldberg:

  • Jangan berhenti menggerakkan tangan; ketika kita sudah berkomitmen untuk menulis, entah itu sepuluh menit atau setengah jam, jangan berhenti. Sebab sekali kita berhenti, suara-suara yang mengatakan betapa jelek tulisan kita, betapa membosankannya cerita kita, diksi kita salah, dan sebagainya dan sebagainya akan mengambil alih. Terus saja gerakkan tangan dan pena, abaikan yang lain-lainnya
  • Lepaskan kendali, katakan apa yang ingin dikatakan. Tulis saja semuanya. Jangan pusing soal ejaan, jangan ragu apakah itu sopan atau tidak, benar atau salah, pantas atau tidak, tuliskan saja.
  • Spesifik, tuliskan apel, bukan buah. Honda, bukan sepeda motor. Elang, bukan burung. Bukan perempuan materialistis, namun Yanti, yang suka barang-barang mewah dan bermerk, namun gajinya pas-pasan sehingga untuk memenuhi keinginannya ia memacari bos-bos besar dan memeras mereka dengan cara sehalus-halusnya. Makan malam ditukar tas LV, cium pipi dibarter sepatu Prada, satu set perhiasan Dior untuk cium bibir dan sedikit raba-raba dalam mobil, Mercy terbaru untuk menemani perjalanan dinas luar kota. Semacam itu. Jangan berhenti di sekedar sebutan atau label, kupaslah lapisan demi lapisan sampai menemukan bagian terdalam.
  • Jangan berpikir. Tulis satu kata, hapus atau coret karena pikiran mengatakan kata tersebut tidak bagus, tidak pas. Latihan menulis sesungguhnya adalah untuk berlatih terkoneksi dengan pikiran yang pertama muncul. Teruslah berlatih dan lupakan yang lainnya
  • Jangan risau soal ejaan, tanda baca dan tata bahasa
  • Katakan pada diri bahwa kita bebas menulis tulisan yang paling buruk di dunia
  • Jika ada sesuatu yang menakutkan muncul ketika menulis, jangan menghindar. Dari pengalamanku, justru ketika itu kuhindari tulisanku kosong, tak bernyawa. Hal tak mengenakkan dan menakutkan justru adalah sumber energi penulisan kita. Cerita yang berjudul Ketika Ibu Pergi Sekolah adalah caraku menghayati kepedihan Kirana karena perpisahannya denganku, ibunya. Ketika berada di posisi ibu, aku menghindari perasaan bersalah itu dengan berlogika, bahwa perpisahanku dengan Kirana adalah untuk kebaikan kami juga kelak. Namun tetap hal tersebut tidak menghapus kerisauan dan rasa bersalah dari hatiku yang terdalam. Maka aku memilih menuliskannya dari sudut pandang Kirana. Cerita itu cukup powerful. Pembaca yang terkesan bertanya, apakah aku khusus mewawancarai Kirana, meminta dia mengulang peristiwa itu lagi? Jawabanku, tidak. Aku menghidupkan kepedihannya dalam tulisanku sebagai bentuk atau caraku menghadapi dan menerima rasa bersalahku sendiri.

Terakhir, menulis itu soal disiplin dan komitmen. Berkomitmenlah akan waktu yang bisa kita sediakan untuk menulis. Dua kali seminggu, misalnya, masing-masing lima belas menit. Pada waktu yang ditentukan, duduk dan menulislah. Menulis apa saja. Aku memulai latihan menulisku dengan pulpen yang enak untuk menulis dan sebuah buku tulis bekas milik anak-anak (yang terisi hanya seperempatnya, bekas buku PR atau catatan). Dengan buku tulis aku tak akan sibuk memencet tombol delete terus dan terus atau membuat kursor diam tak bergerak di tempat. Buatlah janji menulis, dan anggaplah itu seserius janji kencan di malam Minggu di sebuah kedai kopi dengan lelaki tampan berbaju kotak-kotak, yang tatapan matanya teduh dan dompetnya tebal untuk mengajak kita makan malam selepas ngopi-ngopi. Okey? Yuk, nulis!

IBU dan SAYA

 

rose

Saya jarang, bahkan hampir tidak pernah, nulis soal Ibu. Bukan apa-apa, takut kualat. Soalnya isinya bakalan soal protes saya saja kepada Ibu. Bersyukurlah mereka-mereka yang hubungan dengan ibunya selalu mesra bak sepasang sahabat, apalagi bak sepasang kekasih. Saya?

Ibu itu musuh saya. Nyebelinlah pokoknya. Selalu merasa paling benar, jadi harus dituruti. Sampai anak saya keduanya remaja begini, asal kami ketemu, pasti ada saja ribut-ributnya. Daftar keluhan ibu saya panjang, rasanya jauh melebihi panjang tol Bali Mandara. Ibu mesti protes, ada saja kurangnya saya. Yang cucunya terlalu kuruslah, terlalu gemuklah, kukunya panjang, kurang terawat, yang giginya kuninglah. Lagian kebangeten betul anak saya yang nomor dua itu, seringnya pura-pura lupa sikat gigi. Masak iya, kelas enam SD mesti saya sikatin giginya? Padahal sudah jadi rahasia umum di keluarga besar kami kalau anak saya itu malas mandi dan malas sikat gigi. Kalau disuruh mesti jawabnya “Ntar!”. Kebanyakan ‘Ntar lalu saya lupa, diapun lebih lupa lagi. Tapi tetap saja, menurut neneknya itu kealpaan saya. Jadi topik setiap awal liburan, saat saya ‘menyetorkan’ kedua anak saya ke rumah kakek neneknya adalah bagaimana anak saya; terlalu kurus atau terlalu gemuk. Saya diomeli di depan anak-anak, sementara anak-anak saya cengar-cengir saja. Rasakan, gantian kena omel. Biasanya, kan, ngomeli kita. Begitu pasti yang ada di pikiran anak-anak.

Tapi dari dulu memang ibu saya nyebelin pakai banget. Waktu saya naik ke kelas satu SD, kami sedang tinggal di Ende. Tahu Ende dimana? Jika tidak tahu, silahkan buka atlas. Saat pembagian raport, saya ternyata ranking satu di kelas. Bangga pastinya. Tapi tahu ibu saya bilang apa?

“ Jangan ngerasa paling pintar sendiri. Kita itu tinggal di daerah. Temenmu yang di Jawa bisa jadi jauuuhhh lebih pintar daripada kamu. Nanti, kalau kamu bisa masuk UGM baru bisa disebut pintar.”

Duh, ibu macam apa itu coba. Siapa juga yang suruh kita tinggal di pedalaman begini? Jawa? Kan jauuuhhh sekali dari tempat kami tinggal ini, mesti naik kapal laut dulu yang empat lima hari baru sampai. UGM? Apa pula itu? Mestinya nama sekolahan. Tapi dimana tempatnya? Tapi karena itu diulang-ulang Ibu terus setiap kali raport-an, dan saya juga memelihara dendam kesumat pada Ibu, saya jadi bertekad ingin membuktikan kalau saya benar-benar pintar. Akhirnya, entah bagaimana, belasan tahun setelahnya bisa juga saya sekolah di UGM. Saya tidak pernah benar-benar tahu siapa yang dimaksud Ibu dengan ‘temanmu yang di Jawa’ yang muncul di setiap pidato-pidatonya. Namun sekarang, setelah benar-benar menjadi guru, baru saya sadari betapa awareness Ibu pada ketidakmerataan pendidikan di tanah air sudah tumbuh bahkan sejak puluhan tahun lalu. Padahal Ibu cuma tamatan SMA.

Kalau sedang sebal dengan Ibu, percuma mengadu ke Bapak. Bapak pasti membela Ibu. Apapun masalahnya. Sebab Ibu juga merangkap mata-mata di rumah yang akan mengawasi setiap gerak-gerik kami, lalu sore atau malamnya dilaporkan kepada komandan alias Bapak. Kadang-kadang saking sebelnya saya dan adik-adik, kami diam-diam menjuluki Ibu di belakang kami sebagai Sang Provokator. Yang bikin kami kena tegur, kena marah, kena damprat dan kena hukum. Bukan soal dihukumnya yang bikin mangkel, tapi soal ‘pengkhianatan’ Ibu itulah yang bikin kami sebal luar biasa. Tapi mau mengembargo Ibu dari rumah kami juga susah. Nanti pulang sekolah kami makan apa?

Cuma anehnya, kalau saya sednag dimarahi Bapak, seringnya Ibu justru membela saya. Waktu SMU dan saya sering pulang tengah malam gara-gara latihan persiapan pementasan untuk sebuah festival teater, Bapak marahnya minta ampun. Untuk diketahui, Bapak saya jaksa. Jadi kadang Bapak nampaknya juga suka bingung, saya ini anaknya atau terdakwa, saking kuatnya penghayatan beliau terhadap profesi. Kalau akan memarahi kami, didahului interogasi yang panjang dan mencekam lebih dahulu. Jangan harap bisa berbohong, apalagi mengarang-ngarang jawaban, mencari alasan. Nah dalam kasus pulang tengah malam itu, oleh Ibu, entah Bapak diapakan. Yang jelas saya tidak sampai dihukum. Cuma tidak diajak ngomong semingguan lebih sama Bapak. Tak apalah. Meski sungkan-sungkan sedikit, saya tetap bisa menjalani latihan pementasan dengan damai. Nggak perlu sampai takut pulang ke rumah dan disabet sandal. Ketika di festival tersebut saya menyebet penghargaan sebagai pemeran wanita terbaik dan nama saya masuk koran lokal, Ibu melemparkan surat kabar tersebut ke hadapan Bapak, sambil dengan pongahnya berseru, “Ini, lho, anakmu!” Iya, Ibu saya suka sekali jika terbukti menjadi yang paling benar.

Ibu yang pertama kali membaca tulisan-tulisan saya. Komennya selalu, “ Aku tahu siapa ini yang sedang kamu ceritakan.” Sok tahu banget, kan? Lalu Ibu akan membawa koran atau majalah yang berisi cerpen saya ke tetangga sebelah sambil pamer-pamer. Duh, bikin malu saja. Makanya ketika Femina memuat salah satu cerpen saya, saya diam-diam saja. Eh, saya lupa kalau Femina juga mengirimkan satu eksemplar ke rumah dan yang menerima Ibu. Habislah saya menjadi topik obrolan Ibu ke tetangga yang bahkan tidak tahu Femina itu apa, sebelum Ibu membawa dan menunjukkannya.

Ibu selalu merasa, saya adalah kepanjangan beliau. Sesuatu yang kerap menjadi sumber perdebatan kami. Ibu hanya tamat SMA, maka beliau mengharuskan saya kuliah. Karena prestasi saya di sekolah tidak jelek-jelek amat, Ibu mau saya jadi dokter, tapi saya takut lihat darah. Saya bilang mau mendaftar ke fakultas teknik saja, sekedar cari gara-gara, memantik kekesalan Ibu. “Teknik apa?” tanya Ibu. Teknik nuklir, saya ngotot. Ibu melotot, siap-siap muntab. Bapak datang sebagai penengah;

“ Pilih psikologi saja. Masih sama mengobati juga kan? Mengobati orang yang seteres-seteres. “   Beuh, ide brilian!

Ibu tidak bekerja, maka beliau ingin saya memiliki karier. Pekerjaan apa saja itu baik, asalkan kita sungguh-sungguh menekuninya, begitu keyakinan beliau yang diulang-ulang terus kepada kami. Tapi tetap saja, hari Minggu atau libur, ketika saya dan anak-anak masih tinggal dengan orang tua, Ibu tidak akan mengijinkan saya bangun siang hari.

“ Kamu jangan lupa masak, atau anakmu nggak makan hari ini.”

Menyebalkan. Apa susahnya, sih, dimasakin sekalian? Anak saya waktu itu memang masih kecil-kecil, jadi menunya pun khusus. Minimal bersayur yang ada kuahnya dan tidak pedas. Duh…alasannya, sih, karena itu tanggung jawab saya sebagai ibu.

Ibu dan saya, menjalani kehidupan yang berbeda. Dan saya tahu betapa dalam pergulatan batin Ibu menyaksikan saya memilih jalan-jalan yang mungkin tak akan pernah ditempuh Ibu. Menjadi orang tua tunggal, misalnya. Ibu saya jika sedang kesal dengan Bapak kadang keceplosan juga bilang mau minggat. Tapi akhirnya bingung sendiri mau minggat kemana. Lagipula kalau minggat, profesi mata-mata jadi tidak bisa dilakukan lagi. Jujur, kadang saya dan adik-adik masih berpikir jika Ibu menikmati sekali saat kami dimarahi atau dihukum Bapak, karena siangnya apapun yang Ibu katakan-hal yang sama dengan yang dibeokan Bapak sorenya- kami tentang habis-habisan. Tapi menentang Bapak? Mana kami berani…Jadi, bagi Ibu, Bapak adalah segalanya. Agak sulit bagi Ibu melihat saya yang tidak punya seseorang yang dianggap ‘segalanya’. Jadi, sambil lalu, tapi konsisten, setiap liburan atau saat ketemu dengan Kirana, Ibu pasti bisik-bisik tanya begini,

“ Ibumu sudah punya pacar?”

Dan saya pun, konsisten ngomel-ngomel, masak kayak begitu ditanyakan ke anak saya sih?

Kirana dan ibu saya kompaknya luar biasa. Kadang-kadang mereka berbarengan memusuhi saya. Kalau Kirana sedang ngambek karena keinginannya tidak saya turuti, senjatanya satu. “Aku nggak mau tidur sama Ibu. Aku mau tidur sama Nenek saja.” Maka, kalahlah saya. Termasuk kalah dalam mendisiplinkan Kirana supaya tidak ikut-ikutan ibu saya nonton sinetron India atau Turki atau manalah itu. Kalau saya minta Ibu mematikan televisi, Ibu dengan cueknya akan menjawab begini, “Kan, aku nggak nyuruh atau ngajak Kirana nonton. Dia sendiri, kok, yang datang kesini.” Lalu mereka berdua akan berbaring bersisian dengan mesranya, menikmati drama televisi yang menghanyutkan itu. Duh, rasanya ingin membenturkan kepala saya sendiri ke tembok!

Ah, pokoknya ibu saya itu menyebalkan. Terutama di saat-saat genting dan gawat darurat. Ketika dalam hitungan menit saya baru saja melahirkan Kirana, masih berdarah-darah di atas ranjang bersalin, Ibu dengan cueknya membuka pintu kamar dan menongolkan kepala sambil teriak…” Hei, selamat ya!!! Anakmu cantik sekali.”

Saya dan bidan sama-sama terpana dengan kehebohan Ibu di depan pintu. Saya melongo, antara terharu dan sakit dan lemas.

Duh, Ibu…

 

 

Selamat hari Ibu untuk Ibu

…. dan Saya

Ketika Kami Patah Hati

Educating the mind without educating the heart is no education at all

(Aristotle)

Guru itu medan perjuangannya ada di dalam kelas, yang kadang begitu suram, dengan tembok yang sudah kusam catnya dan bangku-bangku tua yang sebentar lagi ambruk jika keliru cara menggesernya. Guru itu rumahnya di dalam bilik hati para siswa, yang kadang susah sekali untuk dimasuki karena berkali-kali diketuk pun tak juga dibukakan pintu. Meski demikian, seorang guru, tak bisa menjadi guru hanya di ruang kelas atau sebatas tembok pagar sekolah. Ia tetap menjadi guru ketika berbelanja ke pasar, periksa ke dokter, antri di bank, beribadah di tempat ibadah, bahkan tetap menjadi guru ketika memasuki toilet umum di sebuah terminal atau pusat perbelanjaan.

Seorang guru tak dapat mengatakan bahwa profesinya adalah guru, sebab sesungguhnya ia adalah guru luar dalam, lahir batin, menyeluruh, kapanpun, di manapun. Seorang guru mau tak mau harus menerima ketika ia dianggap tahu segala hal, utamanya soal moral. Tak dapat menolak ketika berduyun-duyun orang bertanya, mencari jawaban atau setidaknya sedikit percikan kebajikan. Tak peduli ketika sang guru itu sendiri sesungguhnya sedang lelah hati.

Berani menjadi guru, berarti berani berdarah-darah.

Berani menahan perasaan, berani patah hati berulang-ulang. Jika seseorang yang merasa patah hati sekali saja lalu bersumpah untuk tidak jatuh cinta lagi seumur hidupnya, seorang guru sejati, pada akhirnya menerima bahwa patah hati adalah bagian dari kodrat profesi. Banyak yang bisa menjadi penyebab seorang guru patah hati. Mulai dari harus berdamai dengan kurikulum yang lebih ke ‘menghajar’ daripada mengajar, pemberlakuan sistem evaluasi yang terasa kurang fair, karena tak benar-benar dapat menggambarkan seorang siswa secara keseluruhan, sampai beberapa siswa yang kepadanya sungguh diberikan hati dan jiwa namun ternyata memilih berpaling pada hal-hal lain, kecuali belajar dan sekolah.

Sebagai guru, kami tidak memiliki keistimewaan untuk memilih siapa-siapa yang akan duduk di kelas kami. Sistem yang menyaringnya, kami hanya tinggal menerima saja. Beruntung jika kami mendapat siswa yang antusiasme belajarnya luar biasa, namun ketika mendapat yang sebaliknya, kami juga tak punya pilihan, selain ikhlas. Guru dituntut untuk mendengarkan, memahami dan membantu jiwa-jiwa yang berada di kelasnya untuk tumbuh sempurna, bukan hanya intelektualnya, namun juga rohaninya. Sementara di lain pihak, ada tuntutan ketuntasan belajar dengan materi ajar yang berlimpah ruah sampai kami sendiri gelagapan. Semakin jarang kami punya waktu untuk mendengarkan, karena kami dikejar-kejar bahan ajar yang harus tuntas hari itu, sebab jika tidak, besok berarti kerja ganda. Jangankan mendengarkan, kami bahkan jarang ‘mengada’ di dalam kelas. Kami bukan lagi suara-suara teduh, bukan lagi tatapan penuh kasih atau gelegar semangat yang membangkitkan rasa ingin tahu. Kami, seringkali hanya serupa bayang-bayang di balik soal-soal Matematika, Kimia, dan Fisika, dan segudang hafalan.

Sungguh, kami tak dapat menyalahkan ketika di kelas, betapa seringnya kami jumpai mereka yang apatis, dengan aspirasi belajar yang rendah. Susahnya setengah mati meminta mereka aktif dalam pembelajaran. Bagaimana bisa aktif ketika para siswa tak pernah diberi kesempatan belajar untuk berpikir, bertanya, dan menganalisa? Terlalu banyak yang harus ‘dituangkan’ dalam wadah-wadah yang sudah separuh penuh, yang sebentar lagi meluap, membanjir tanpa arah dan tujuan. Kami sedih, sangat sedih. Tapi jika wadah-wadah ini tidak penuh, lalu mereka gagal di ujian nasional, kami juga nanti yang paling berdosa. Kami akan menjadi tertuduh pembunuh masa depan mereka.

Sungguh, kadang patah hati kami tak terperi.

Mereka yang di ataslah yang menentukan berbagai kebijakan, sementara kami tak pernah punya suara untuk ikut sekedar sumbang saran. Padahal kami-kami ini yang setiap hari bergulat melaksanakan kebijakan dari pusat. Sekali-sekali bertanyalah, wahai Bapak dan Ibu Pejabat, akan kami beri segudang jawaban berdasarkan fakta kami di lapangan. Tolonglah, dengarkan suara kami.

Ijinkanlah kami dan anak-anak kami menjadi manusia kembali. Biarkan kami berinteraksi layaknya guru dan murid, orang tua dan anak, bukan sekedar pemasok informasi dan wadah-wadah yang mesti diisi. Beri kami ruang untuk duduk dan mendengarkan cerita mereka yang datang ke kelas kami setiap pagi dengan ransel beban yang tak sedikit, entah karena kemiskinan atau karena orang tua yang tak pernah ada. Beri kami waktu untuk menggelorakan semangat mereka agar memiliki mimpi dan visi masa depan. Beri kami kesempatan untuk mengasah empati dan welas asih anak-anak kami terhadap mereka yang tak seberuntung dirinya. Beri kami kesempatan untuk menjadi toleran pada setiap perbedaan, agar anak-anak kami dapat menghargai keragaman. Mereka tak perlu seragam mendapatkan nilai sepuluh di pelajaran Matematika, agar kelak mereka tak merisak sesama yang tak seberuntung atau secemerlang dirinya.

Lihatlah hati yang berdarah ini, betapa di dalamnya terkubur cinta tak berbatas yang tak sempat disampaikan karena lembar kerja siswa yang harus segera diperiksa dan latihan soal yang mesti segera dibahas. Tengoklah kedalaman jiwa kami, yang saat ini sedemikian merananya karena kami tak lagi dapat menjadi sahabat-sahabat anak didik kami sendiri. Pun ketika kami tak memiliki kesempatan untuk bercerita tentang kehidupan di luar sana, anak-anak kami mencibir diam-diam di belakang, karena yang kami sampaikan hanya mengulang-ulang buku teks pelajaran tanpa ada relevansi dengan apa yang mereka jumpai di balik dinding kelas dan tembok sekolah. Kami ditertawakan karena media sosial jauh lebih menarik daripada cerita kami di dalam kelas.

Kami hanya berharap untuk dapat berhenti patah hati. Biarkan jiwa kami damai, agar kami dapat membawa kedamaian di dalam kelas. Biarkan kami merasakan cinta agar dapat kami tumpahkan cinta pada anak-anak kami. Biarkan kami menjadi berharga, agar kami dapat menghargai anak-anak kami sebagai jiwa-jiwa indah yang mandiri dan mampu berpikir untuk diri sendiri. Ijinkan kami menjadikan ruang kelas kami sebagai tempat aman bagi anak-anak kami untuk utuh bertumbuh, dan tidak hanya berfokus pada ketakutan besok atau tahun depan mungkin tidak lulus ujian. Tolong, tolong biarkan kami menyemai bibit-bibit yang hadir dalam kelas kami di atas tanah berpupuk cinta, bersiramkan rasa aman, bermandikan sinar pemahaman yang membuat mereka berlomba untuk tumbuh menjadi pribadi-pribadi bernilai yang mampu berbuat tidak hanya dengan kepala, tetapi juga dengan hati.

Kami ada di kelas-kelas karena panggilan jiwa dari batin yang terdalam.

Dan jika pun kami harus patah hati sekali lagi, percayalah, tetap tak akan mengurangi dedikasi kami.

Bapak, dalam Secangkir Kopi

fb_img_1477524446299

Kopi hitam pekat, dengan sedikit gula, ketika kuprediksi hari akan berat. Pagi-pagi cukup secangkir, dihirup perlahan-lahan, sambil menghitung kerja berat yang mesti dirampungkan. Jika hari kurasa tak akan terlampau padat, kopi tak perlu pekat-pekat. Sore hari, ketika tiga perempat kerja rampung, secangkir kopi hitam dengan sedikit susu menjadi simbolis perayaan keberhasilan melewati hari.

Kopi identik dengan kerja.

Kopi identik dengan Bapak.

Segelas besar kopi panas yang manis, setiap pagi, sebelum berangkat ke kantor. Bapak tidak pernah sarapan. Cukup kopi saja, sudah kenyang, kata Bapak. Ketika malam tiba dan kami semua sudah masuk ke kamar, Bapak akan menjerang air dan menyeduh kopi segelas lagi. Biasanya itu pertanda Bapak akan memulai kegiatan tulis menulis. Meja makan dibersihkan dari sisa piring dan makanan lalu dialihfungsikan menjadi meja tulis. Lalu sambil menyeruput kopi panasnya, Bapak mulai menulis dakwaan, di atas kertas polos berwarna putih, biasanya kertas ketik yang dibawanya dari kantor. Menulisnya sambil bicara-bicara. Tidak keras, tetapi tidak juga berbisik-bisik, cukup jelas terdengar sampai ke kamarku. Kadang Bapak bicara dulu sebelum menulis, seperti sedang menimbang-nimbang penggunaan sebuah konsep, namun kadangkala Bapak menulisnya dulu baru membacanya, sebuah upaya untuk menakar apakah yang ditulisnya sudah pas. Kadang-kadang ada satu dua buku hukum tergeletak di samping kertas, tapi lebih sering tidak. Setahuku Bapak hafal semua pasal di KUHAP dan KUHP. Jika sedang mendapat kunjungan dari jaksa junior yang datang menanyakan perihal suatu kasus, Bapak bisa menyebutkan di luar kepala nomor dan isi pasal mana yang bisa digunakan untuk mengajukan tuntutan di kasus apa.

Jika sudah selesai menulis, Bapak pergi mandi, meski itu sudah malam sekali. Sambil mandi Bapak masih juga bicara-bicara sendiri, seperti orang pidato. Aku tak pernah melihat Bapak di ruang sidang, tapi bisa kubayangkan dari mendengarkannya bicara-bicara di kamar mandi. Biasanya lalu aku mengendap-endap keluar dari kamar, menengok apa yang tadi ditulis Bapak. Pena Parker menggeletak di atas kertas, pena yang disayang Bapak, tapi tak kusuka karena tintanya tembus jika kupakai menulis di buku tulisku. Tulisan tangan Bapak rapi, bisa kubaca dengan jelas. Biasanya ada tulisan pasal sekian lalu dilanjutkan dengan sekian nomor pernyataan, lalu di akhir digaris tutup. Kopi di gelas tandas, yang tersisa hanya ampasnya saja. Kalau lembar-lembar kertasnya banyak, Bapak bisa dua tiga kali membuat kopi. Setelah puas mengintip tulisan Bapak, aku berjingkat kembali ke kamar, menutup pintu pelan-pelan, lalu tertidur pulas sampai pagi. Ketika sudah lebih besar aku bertanya mengapa Bapak memilih menulis dengan tangan alih-alih langsung mengetiknya di mesin ketik. Biar nanti diketik staf di kantor, kata Bapak. Belakangan aku tahu itu cara Bapak untuk memberi ‘uang rokok’ pada staf-staf honorer yang gajinya tidak seberapa.

Siang menjelang sore, sepulang kantor, Bapak beristirahat di kamar. Kalau Bapak sedang istirahat, Ibu seperti satpam saja. Kami tidak boleh ribut, dan jika ada tamu yang ingin bertemu Bapak, pasti disuruh Ibu untuk menunggu, sampai Bapak bangun. Kadang Ibu menemani si tamu mengobrol, kadang ditinggal dengan secangkir kopi saja. Tergantung siapa dan apa keperluan si tamu. Lepas istirahat, harus sudah ada kopi di meja. Harus panas. Jadi aku, yang kebagian bertugas menyeduh kopi Bapak, harus bisa mengira-ngira kapan Bapak keluar dari kamar. Jika belum ada kopi di meja, siap-siap saja menerima cemberutnya. Bapak tidak suka jika air yang digunakan untuk menyeduh kopinya tidak benar-benar baru mendidih. Bapak pasti tahu jika itu air panas yang tidak baru mendidih atau air panas dari termos. Kelihatan dari kopi yang tidak tercampur sempurna dan ampas yang menghiasi pinggiran gelas atau cangkir. Pasti Bapak akan minta dibuatkan kopi lagi, dengan air yang benar-benar mendidih, baru diangkat dari kompor. Lalu kopi yang tadi? Ya, dibuang.

Ketika positif mengidap diabetes, aku berinisiatif mengurangi banyak gula dari kopi Bapak. Ibuku tidak berani, takut kena semprot. Bapak suka kopi panas yang manis. Manis sekali. Ini air comberan, tuduh Bapak, setelah minum seteguk kopi seduhanku dengan gula sedikit. Aku diam saja. Dalam hati ngomel tentu saja. Mau cepat mati apa! Awalnya Bapak memboikot kopiku, diminum hanya seteguk saja, tapi lama kelamaan pasrah saja menghabiskan kopi rasa air comberan. Kadang-kadang Bapak menyeduh kopinya sendiri, dengan gula bersendok-sendok. Itu kopi atau air gula, kataku sinis. Bapak balas mengejekku dengan mengaduk kopinya keras-keras, mengadu denting bunyi sendok dengan gelas, menyeruputnya sedikit lalu berteriak keras-keras…Enaaakkkk.

Ketika kopi instan dalam kemasan merajalela, Bapak mencobanya juga. Ada satu merk yang menjadi fanatiknya. Manisnya jangan ditanya. Aku makin ketat mengawasi peredaran kopi di rumah. Kularang Ibu membeli berenteng-renteng kopi merk itu di pasar, meski dengan alasan jika beli sepuluh bungkus gratis satu bungkus. Kekuasaanku akan kopi yang sudah mulai melangkahi kekuasaan Bapak, membuatku bisa membuat ultimatum kopi kemasan hanya sekali-sekali saja. Lalu, tibalah era iklan kopi luwak putih diputar berkali-kali di televisi.

“ Besok beli ini, yuk!” ajak Bapak bersemangat ketika kami menonton televisi. Aku pura-pura tidak dengar.

“ Kamu nggak mau nyoba itu?” tanya Bapak lagi, di depan televisi, di waktu yang lain.

“ Itu bukan kopi, “ sahutku kalem, “ Itu air gula diberi pemutih pakaian.” . Bapak cemberut. Mana ada biji kopi berwarna putih, please, deh, Pak! Dan walaupun ada tetap saja itu bukan kopi!

Aku dan Bapak, hanya kami yang rutin ngopi di rumah. Bagi kami, hari tak bisa dimulai tanpa kopi. Adikku dua laki-laki, lebih suka air putih. Ibuku memilih teh hangat. Sekalinya Ibu mencoba minum kopi kemasan setengah cangkir, malam harinya tak bisa tidur. Aku dan Bapak diam-diam menertawakan Ibu sebab kami sudah tidak kebal efek kopi bikin melek. Dan waktu itu kami sudah mencapai kesepakatan kalau kopi kemasan dihitung bukan kopi. Atau kopi, tapi imitasi.

Sekarang, jika sedang berkumpul bersama, aku dan Bapak, masing-masing dengan cangkir kopi di tangan, bercerita apa saja. Mulai dari politik sampai soal makanan. Aku juga hanya minum kopi dari air mendidih yang baru diangkat dari kompor. Jika menggunakan air panas dari termos atau dari dispenser, perutku langsung sakit.

Kopi hitam, dengan sedikit gula. Bentuk solidaritasku pada Bapak, meski terbentuk tanpa sadar atau disengaja. Kopi yang terlalu manis membuatku mual. Biasanya tak bisa kuelakkan jika disuguhi saat bertamu. Untuk kesopanan kuhirup sedikit saja. Seperti Bapak minum kopi air comberan buatanku.

Jika sedang dinas luar kota, aku selalu membawa kopi bubuk hitam dari rumah, di sebuah wadah plastik kecil yang khusus kubeli. Isinya sejumlah takaran sendok kali dua, kali sekian hari aku harus bepergian. Sebagus apapun hotel tempatku menginap, biasanya hanya menyediakan kopi kemasan alias kopi imitasi. Jika harus bekerja dengan jam yang panjang, aku pasti menyelingi dengan dua atau tiga cangkir kopi lagi. Maka,bukan hanya kopi bubuk, lama-lama aku juga membawa termos kecil, yang kuisi dengan seduhan kopi hitam dan kubawa ke tempatku bekerja. Daripada harus minum kopi imitasi yang manisnya memualkan.

Kopi juga menumbuhkan solidaritas. Pamanku di kampung tahu aku pengopi yang cukup fanatik. Jika sedang membuat kopi untuk keperluan di rumah, Paman akan menyisihkan seplastik kecil kopi murni tanpa campuran spesial buatku. Ia menyayangiku karena aku tahu mana kopi murni dan mana kopi hitam yang campuran. Jika aku datang, ia dengan bangga mengeluarkan kopi murni yang sudah disimpannya untukku. Sementara yang biasa beredar di rumah untuk diminum berjamaah, adalah biji kopi yang dihaluskan lalu dicampur dengan beras.

Jika sedang berkunjung ke rumahku, Bapak akan menebak kopi apa yang kuhidangkan untuknya. Kawan-kawanku, jika bepergian, tak jarang membawakan oleh-oleh kopi. Kopi Flores, Mandailing, Toraja, dan beberapa dari pabrik yang melegenda macam kopi Faberik Aroma di Bandung. Berderet dalam toples-toples kecil di dapur. Favorit kami sama, kopi Gayo, oleh-oleh dari kawan saat menjenguk kampung halamannya di Takengon. Mantap, kata Bapak. Efeknya langsung ke kepala, kataku, seperti margarita.

Karena tinggal terpisah, dan berlainan kota, aku sudah jarang menyeduh kopi untuk Bapak. Sampai hari ini, Bapak masih minum kopi setiap hari. Kopi hitam dengan sedikit gula. Setiap pagi dan sore ketika aku menyeduh kopiku, dalam setiap cangkirnya, ada Bapak yang sedang duduk di kursi, sebelah kaki terangkat, menopang pada kaki satunya. Di meja sebelahnya, ada gelas berisi kopi panas mengepul-ngepul dan suara-suara pena yang beradu dengan kertas dan pidato Bapak di kamar mandi.

Dunia aman, dunia damai.